Rabu, 23 Maret 2016

Synopsis Cerita Fiksi Bersambung Piso Jalak yang Agamis, Bengis dan Romantis


Piso Jalak adalah seorang Narapidana yang melarikan diri dari tahanan karena kasus pembunuhan, dalam pelariannya yang tanpa arah ia bertemu seseorang Alim di sebuah pinggiran hutan rimba, disana ia mengalami pengalaman spiritual yang membuatnya mengenal Sang Pencipta, dan orang tua alim tersebut menitipkan Piso Jalak ke sebuah Pondok Pesantren di sebuah desa terpencil.

Di Pondok tersebut Piso Jalak mempelajari ilmu-ilmu agama dan olah kanuragan, sampai pada suatu saat ia jatuh cinta kepada anak sang Guru Pondok Pesantren tersebut. Namun di saat hatinya sedang merasakan ketenangan dan rasa belas kasih sayang  serta cinta, persembunyiannya terendus oleh Pihak Kepolisian, Pondok Pesantren digeledah oleh satu Pleton Kepolisian, Piso Jalak terpaksa harus meninggalkan tempat dimana ia merasakan ketenangan, belas kasih dan cinta, ia berhasil meloloskan diri dari penggerebekan tersebut.

Dalam pelariannya yang kedua Piso Jalak mengganti namanya menjadi Adri, sampai akhirnya ia tiba di sebuah perkotaan yang tidak ia kenal sama sekali. Di Kota tersebut Piso Jalak sempat menolong seseorang dari keroyokan preman dan berhasil melumpuhkan gerombolan preman-preman Bromocorah tersebut.

Orang yang di tolong tersebut ternyata menyeret Piso Jalak dalam petualangannya membunuh beberapa Gembong Jaringan Bandar Narkotika, Musuh Piso Jalak di Kota tersebut semakin banyak dan Piso Jalak kehilangan arah saat orang yang ia tolong harus tewas di tangan gerombolan tersebut.

Bertahan sendiri tanpa sahabat dan saudara mempertemukannya dengan abang angkatnya saat di penjara, disana Piso Jalak justru dikenalkan dengan Gembong Narkotika internasional, Piso Jalak diberi pekerjaan sebagai Pembunuh Bayaran. Keadaan yang begitu memaksa menjadikan Jiwa Piso Jalak berfikir bahwa yang memerintahkan dirinya adalah Iblis, yang dibunuh olehnya juga Iblis bahkan ia menganggap dirinya juga sudah menjadi Iblis.

Tanpa diduga anak Gembong Narkotika Internasional tertangkap Pihak Kepolisian, Sang Gembongpun memerintahkan Piso Jalak untuk melenyapkan Pimpinan Tim Kepolisian yang menangkap anaknya dan itu bertepatan dengan tugas ke 100 Piso Jalak dalam membunuh targetnya.

Petualangan menjadi rumit saat Polisi tersebut dipindahkan ke Satuan Polsek sebuah desa terpencil dimana Pondok Pesantren Piso Jalak berada. Kenangan cintanya membuat Piso Jalak menjadi semakin bersedih, Terlebih lagi ternyata Kapolsek tersebut adalah salah satu Santri Pondok Pesantren dimana ia menimba ilmu agama.

Kebimbangan Piso Jalak dalam tugasnya memakan waktu yang melampoi batas waktu yang ditentukan oleh Sang Gembong Narkotika. Sampai akhirnya Sang Gembong memerintahkan 2 tim pembunuh bayaran, tugasnya adalah melenyapkan Piso Jalak dan Kapolsek.

Bagaimana kisah Fiksi ini akan berlanjut. BACA KISAH PISO JALAK SELANJUTNYA..


Kamis, 25 Maret 2016.






Jam dinding sudah menunjukan pukul 23.50 Wib tanda waktu semakin larut, di sudut ruangan bertaburkan cahaya gemerlap dengan iringan musik yang keras dan berirama tidak karuan sebagai ciri khas sebuah tempat hiburan malam, CAFÉ FLAMBOYAN yang terletak di pinggiran kota besar itu ternyata masih bisa menarik pelanggan dari berbagai tempat di kota itu. Satu meja dengan 4 kursi nampak terlihat di sudut ruangan itu, seseorang asyik menikmati kesendiriannya, di bibirnya terlihat rokok yang tidak dihidupkan sama sekali oleh pemiliknya, terlihat rokok tersebut hanya sekedar hiasan di bibirnya, 1 botol minuman beralkoholpun ada di mejanya, namun terlihat isi botol tidak berkurang sama sekali, menunjukan ia hanya menggugurkan kewajiban sebagai pengunjung yang duduk di cafe tersebut. 

Tiba-tiba dua orang pramuria mendekati orang tersebut, salah satunya berkata “ Kok sendirian bang, bolehkah kami menemani abang?”, orang yang ditanya bukannya menjawab, ia justru semakin tajam melihat penyanyi di bagian depan café tersebut, sungguh seolah-olah tidak ada orang yang sedang mengajaknya berbicara. Salah satu wanita mencibir sambil meninggalkan orang tersebut “Iiiihhhhh nyebelin kalau tidak punya uang bilang aja, jangan diem kayak gitu !!!”,  lalu kedua wanita tersebut berjalan mendekati seniornya di ujung ruang lainnya, “Mbak, siapa sih laki-laki yang di pojok itu?? Sombong amat!!”. Wanita yang sudah dianggap senior di Café situ menjawab dengan mata melotot “Astaga, dasar orang baru, pasti kalian belum tahu dia ya, beruntung dia tidak marah kepada kalian, nih mbak kasih tahu sama kalian, dia tuh adalah seseorang yang sudah beku hatinya, sudah membatu karena kesedihan, sudah menghitam hatinya karena kejahatan, ia milik para iblis yang berkedok manusia, tangannya bayak berlumuran darah manusia-manusia yang sebenarnya tidak ia kenal sama sekali” sambil menjelaskan wanita itu beberapa kali menghela nafasnya, ia teringat bagaimana tangan kokoh orang tersebut pernah menahan sebuah tamparan lelaki yang menjadi pelanggannya saat itu, maka sambil menunduk wanita itu berbisik tanpa sadar Namun mbak yakin, dia orang baik ” , 2 wanita yang baru tersebut menjadi bingung melihat seniornya yang seperti berbicara sendiri.

Tak berselang beberapa lama munculah dua orang mendekati sudut ruang yang diduduki oleh orang aneh itu, seseorang diantaranya berkata, Maaf, apakah anda yang bernama PISO JALAK ? perkenalkan saya Herman dan ini teman saya Andi” seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, orang berjaket berwarna hitam yang memiliki sepasang mata tajam, kulit sawo matang, berkumis tipis melintang serta berambut ikal gondrong tersebut hanya diam saja, ia justru seperti serius melihat nyanyian penyanyi di Café tersebut. Melihat sikap Piso Jalak yang cuek teman Herman yang bernama Andi terlihat menahan marah, ia maju mendekati PisoJalak namun dihalangi oleh Herman, Hermanpun berkata “Sesuai dengan perintah BOS BESAR saya datang untuk mengantarkan uang sebesar Rp. 100 Juta sebagai uang pangkalnya, sisanya setelah tugas selesai anda laksanakan, map ini berisi target yang harus anda lenyapkan, saya permisi!!!” Herman dan Andi lalu beranjak pergi meninggalkan orang tersebut, namun naas tangannya tersenggol seorang pramuria hingga minuman yang ada di baki pramuria tersebut terjatuh, minuman yang ada di gelas tersebut tumpah mengenai jaket lengan kiri orang yang disebut sebagai Piso Jalak tersebut. Terlihat sekali betapa perempuan itu menunjukan wajah yang sangat menahan rasa takut sedalam-dalamnya. Herman dan Andi tak ambil pusing, kemudian mereka berlalu menuju pintu keluar café tesebut. 

Di luar Café Andi berkata kepada Herman, “Bang, wajah perempuan tadi terlihat sangat ketakutan, dia takut kepada kita atau kepada si Piso Jalak itu bang?” Herman dengan santai menjawab “Mungkin yang ia takuti ya si Piso Jalak itu, ternyata bos besar kita salah memilih orang, Piso Jalak hanya sebuah nama yang kita kira sangar, tidak tahunya hanya di takuti oleh seorang wanita, ha ha ha ”. Sontak Andipun ikut tertawa sembari berkata, “Coba abang tidak cegah saya, pasti tadi dia sudah saya beri pelajaran bang.” Hermanpun berkata “Aaahh sudahlah, kita berdua ini adalah orang pilihan bos, sudah lama dan banyak orang-orang yang kita bantai, entah kenapa justru dalam tugas itu bukan kita yang bos pilih, apa sih kehebatan si Piso Jalak itu??” Sampailah kedua orang tersebut ke mobil mereka yang terpakir di pojok parkiran yang sunyi, tiba-tiba mata keduanya melotot karena terkejut melihat seseorang sudah duduk santai di kap mobil mereka, terlebih lagi ternyata orang tersebut adalah seseorang yang tadi mereka jumpai di dalam café, belum sempat keduanya memikirkan keberadaan orang misterius yang baru mereka jumpai, laki-laki yang aneh itu mengeluarkan suara serak yang berat “Kalian senang memakan bangkai saudara-saudaramu sendiri, hingga dengan senangnya kalian menjelekan orang lain saat di belakang mereka ” Andi yang dari semula menaruh ketidak senangan kepada Piso Jalak menjadi naik pitam, iapun membentak,”Hai Tikuss!!! Jaga mulut mu!!” lalu ia memukul Piso Jalak dengan tinju tangan kanannya dengan kekuatan dan kecepatan full, namun betapa kaget Andi ketika ia merasakan bagaimana tangannya tiba-tiba sudah tertangkap erat oleh tangan Piso Jalak yang kekar dan kuat, belum sempat ia memikirkan serangan berikutnya, sebuah tinju yang amat keras ia rasakan di ulu hatinya.


“Ughhgg” Andipun jatuh terduduk, ia merasakan nafasnya tiba-tiba terhenti, kepalanya berkunang-kunang, Herman yang melihat Andi jatuh terduduk meraba sesuatu dari balik dada kiri jasnya, sebuah Pistol jenis Revolver .38 pun segera ia todongkan kepada Piso Jalak, namun seketika Herman terbelalak, betapa ia saksikan sebuah gerakan cepat yang berhasil merebut pistolnya, tak sampai disitu, ia merasakan tiba-tiba pandangannya menjadi gelap ketika sebuah tinju mampir di rahang kirinya, yah itulah pukulan yang berasal dari tangan kekar Piso Jalak, Hermanpun tersungkur, Andi yang kondisinya belum pulih benar mengatur pernafasannya, dengan jelas melihat Herman tersungkur, dengan cepat Andi mencabut pistol jenis FN Baretta kal. 9 mm miliknya, sesaat di dalambenaknya, ia akan mengokang pistol miliknya, tetapi tiba-tiba ia merasa keningnya dingin oleh sebuah besi padat, yah besi dingin yang merupakan moncong pistol Revolver milik Herman sudah menempel di keningnya dengan genggaman tangan kiri Piso Jalak, sementara tangan kanan Piso Jalak dengan sigap merebut senjata Baretta miliknya, mata Andi sempat melihat sesuatu yang menajubkan, satu tangan yang dilengkapi jemari kuat mengokang senjata FN miliknya, sungguh selama ini ia hanya bisa melakukan kokangan senjata FN dengan kedua tangan, Andi sangat terkejut menyaksikan pistol FN ternyata bisa di kokang oleh seseorang begitu cepat hanya dengan menggunakan kepitan ibu jari di Pistol grip serta peluncur pistol di kait dengan 4  jari lainnya, “krak-krak” ia mendengar dengan jelas pistol FN miliknya terkokang, satu butir munisi ber caliber 9 mm yang berada diurutan paling atas magasen pistol tersebut terangkat ke ruang atas, kemudian oleh peluncur bagian pistol tersebut  munisi diantarkan masuk ke kamar laras dengan bantuan peer dorong, pada saat itu penggalak munisi siap di pukul oleh pena pukul dalam rangkaian peluncur senjata tersebut,  andai saja picu pistol di kait oleh jari telunjuk Piso jalak maka akan mengakibatkan pelatuk memukul pena pukul, sudah pasti bila hal itu terjadi isian hantar akan terbakar dan membakar isian dorong sehingga terjadi ledakan di dalam kelongsong munisi, saat itulah tekanan di dalam kelongsong akan mendorong kepala proyektil keluar dari mulut laras dengan kecepatan 358 m/dt (1175 ft/s) . Sudah pasti itu akan membahayakan orang yang ada di garis lurus mulut laras pistol tersebut. Saat jantungnya terasa berhenti, Andi mulai merasakan nikmatnya bernafas, ternyata pistol itu hanya ditodongkan ke arah Herman, situasi hening dengan kondisi Andi dan Herman tertodong oleh Piso Jalak justru dengan keadaan pistol milik Andi mengarah ke kepala Herman dan pistol milik Herman menempel di tengah-tengah kening Andi. Saat itu di dalam benak Herman dan Andi terprasasti sebuah gambaran nyata siapa Piso Jalak sesungguhnya


Selasa, 29 Maret 2016.



Situasi yang hening tersebut terpecahkan oleh suara Piso Jalak yang berat dan mantap “Bagaimanapun kalian adalah caraka, maka ku hormati kalian karena sedang mengemban suatu perintah.” Kemudian Piso Jalak menekan tobol pelepas magazen dengan ibu jari tangan kanannya, terdengar sebuah suara “Klik” tiba-tiba magazen pistol FN tersebut terlepas ke bawah, dengan telunjuk tangan kiri Piso Jalak mendorong ke depan kunci penahan silinder pistol Revolver sehingga bagian pistol grip dan silender meregang, tangan kiri Piso Jalak diangkat ke atas selanjutnya secara otomatis 6 butir munisi caliber .38 berjatuhan ke tanah. Piso Jalak berdiri lalu berjalan menuju jalan yang sepi, tiga langkah berlalu dari Herman dan Andi, Piso Jalak membuang kedua pistol itu ke kanan dan ke kiri nya seraya berkata “ Besi buruk ini belum layak kalian pegang, berhati-hatilah menggunakannya karena hampir saja kalian merasakan bagaimana bahayanya kedua benda tersebut pada diri kalian tadi”. Herman dan Andi melihat Piso Jalak remang-remang menghilang di kegelapan malam, mereka berdua menghirup nafas yang panjang sekali, terlihat betapa wajah mereka berdua menemukan kebebasan yang amat besar, lalu masing-masing memungut kembali munisi yang berserakan di sekitar mereka, lalu berjalan memungut pistol masing-masing, keduanya masih tampak berdiam diri tanpa ingin saling bersapa, mereka larut dalam olah fikir jiwa yang bertanya dan berjawab sendiri. Herman melirik Andi dan berkata, “ Ayo!! Kita kembali” Andi tidak menjawab, dia hanya mengarahkan tubuhnya ke arah mobil mereka, mobil berbunyi dan meninggalkan area parkiran tersebut, remang, dingin, sepi, namun disana masih tertinggal dua jiwa yang merenungi kejadian yang baru saja mereka alami walau jasad mereka sudah meninggalkan jauh parkiran tersebut.

Sesampainya di rumah sang bos, keduanya menghadap, nampak seorang tua yang bertubuh terawat duduk di kursi yang besar sekali, minuman keras untuk penghangat badan terlihat di depannya, rokok besar berpipa gading gajah dengan ukiran naga terlihat indah dipandang mata. Di jarinya nampak cincin yang mewah, emas putih dihiasi permata dan bermata batu Mustika berwarna hijau bergambarkan awan, dengan santai orang tersebut berkata, “Kenapa kalian berdua, wajah kalian lusuh, dan nampak sekali kalian merasakan suatu sakit??” keduanya menunduk, lalu Herman berkata, “ Tugas telah kami laksanakan Boss, kami sudah bertemu langsung dengan Piso Jalak.” Laki-kaki tersebut tidak menjawab, ia hanya meminum setengguk minuman yang terlihat mahal tersebut. Herman berkata, “Maaf Bos, kami sebenarnya ada sedikit kesalah fahaman dengan Piso Jalak.” Orang yang dipanggil Bos itu melirik kedua anak buahnya, dengan suara datar ia bertanya : “Lalu ??” Herman menjawab, “Kami sadar, ternyata bos memang tidak salah dalam memilih orang.” Lelaki tua itu berdiri seraya berkata “ Hahahahaha, kalian belum melihat semuanya, kalian belum tahu betapa darah harus keluar secara paksa dari tubuh manusia, bila manusia itu bertemu dengan Piso Jalak.” Laki-laki tua itu memandang lukisan abstrak di dinding ruangannya yang menggambarkan keangkeran malam. Fikirannya kembali jernih saat mengingat bagaimana sahabatnya menelfon dirinya dengan nada yang amat ketakukan.

“Halooo sahabatku, tolong aku, dimana dirimu, tolong aku” sebuah suara dengan ketakutan yang amat sangat saat itu memekakan telinganya, ia menjawab “ Kenapa Tuan Kara?? Ada apa dengan diri mu??”  Suara dalam Hp tersebut berkata “Aku sedang menyelamatkan diri dari kejaran si Piso Jalak!! Anak buah ku sudah 5 yang dilumpuhkan oleh nya.” Ia pun menjawab “ Siapa Piso Jalak???? Siapa itu Piso Jalak??? Aku belum pernah mendengar namanya???” : ”Sudahlah, aku minta tolong kirim bantuan, aku menuju markas rahasia kita di titik dua tujuh, sekarang juga sahabat ku !!!, aku membutuhkan pertolongan mu, Jauhkan aku dari titisan iblis kegelapan Piso Jalak!!!!!” tuutt..tuuut..tuuuut, suara  Hp pun terputus, sang lelaki tua berteriak “Tuan Karaaaa!!! Halooo…. Halooo…halooo”. Hp pun di banting olehnya sembari mengumpat  “Kunyuuuuukkk!!! (ia mengepalkan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bungi menggemeretak) Agus!!!! Subarjo!!! Tino!!! Bastian!!! Kardi!!! Kalian ikut saya sekarang juga!!!  cepat!!! bawa senjata kalian masing-masing!!! Jangan lupa bawa laras panjang AK 47 juga, Cepaaaaaattt!!!!!” Orang-orang yang dipanggil tersebut dengan sigap berlarian menyiapkan perlengkapan, hanya dengan hitungan menit mereka berenam sudah menaiki mobil Terano warna hitam dan melaju kencang keluar dari rumah yang sebenarnya mirip dengan benteng istana-istana zaman kerajaan terdahulu.


Sesampainya di markas rahasia yang mereka sebut dengan titik dua tujuh tersebut sang lelaki yang selalu di panggil Bos tersebut terkesima, ia melihat 2 orang anak buah sahabatnya sudah keadaan merintih kesakitan tergeletak si pinggir jalan masuk gerbang markas rahasia tersebut, “Cepaaaaaaattt Barjooooo!!!!” Bentak sang Bos. Subarjo yang mendapat perintah langsung menginjang gas mobil Terano tersebut lebih dalam lagi. Tepat di halaman rumah yang laksana villa tersebut mobil Terano berhenti mendadak dengan suara rem mendecit, asap terlihat keluar dari ke empat ban yang bergesekan dengan aspal hotmik di area tersebut. Keenam penumpang langsung turun, mereka langsung mengokang senjata masing-masing, krak-krak, krak-krak, terlihat mata sang pemegang senjata sangat tajam dan haus darah, sementara sang bos menggenggam 2 pucuk pistol jenis Smith & Wesson 357 Magnum .38, nampak sang Bos saat itu terlihat seperti Cowboy karena Revolver jenis ini ber munisikan 6 butir dan berlaras panjang, dengan menggenggam 2 pucuk berarti ia berkesempatan untuk menembakan sebanyak 12 kali tembakan.


Rabu, 6 April 2016.

Sang Bos memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke rumah yang saat itu keadaan pintu sudah dalam keadaan terbuka., Sang Bos pun memerintahkan anak buahnya “Tino!!! Bastian !!!! Kalian masuk ke dalam, periksa apa yang terjadi, periksa sampai ke ruangan atas juga!!!, Agus!!! Kardi!!! Kalian ikuti di belakangnya”, Tino dan Bastian pun memasuki rumah dengan sigap, Agus dan Kardi pun mengikuti di belakangnya. “Barjoo, kau awasi sekitar sini.. dan selalu dekat dengan ku !!! Mengerti !!!”  Bisik sang Bos. “Siap Bos !!!” Subarjo mempererat pegangan tangan kirinya ke Lade  AK 47, sementara tangan kanannya menggenggam erat Pistol grip Laras panjang tersebut dengan mengepitkan popor di ketiak kanannya.

Baru 3 menit berlalu dari perintahnya, ia mendengar dari ruangan atas rumah terdengar 2 ledakan senjata, Dorrrr… dorrr…. Dua detik selanjutnya terdengar jendela rumah ruangan atas pecah di susul dengan sesosok tubuh jatuh sambil menjerit “Aaaaaaaaaggghhhhhhhhh”, buk !!! Suara tubuh yang jatuh itu terdengar keras menghantam bumi tidak jauh dari sang bos berjongkok di belakang mobil miliknya, mata sang bos terbelalak melihat sosok tersebut, ia kenal betul tubuh siapa itu, yaah itu tubuh anak buahnya yang bernama Tino, matanya menyipit, gerahangnya mengembung, nafasnya menghembus dengan berat, sementara Subarjo yang berada di sampingnya berbisik tanpa sadar, “Tinoooo” matanya berubah menjadi sayu, otak Subarjo  berfikir keras tentang siapa sebenarnya orang yang akan ia hadapi saat ini, sangat jelas ia melihat sahabatnya dengan kemampuan bertempur tingkat tinggi itu dilumpuhkan hanya dengan waktu yang singkat.

Belum sempat mereka berfikir lebih banyak lagi tiba-tiba terdengar suara teriakan “Aaaaghhh” sesosok tubuh seperti terdorong dengan kuat keluar melalui pintu teras atas dan menghantam pagar teras atas, selanjutnya tubuh itu jatuh tergeletak di teras lantai atas rumah tersebut dalam keadaan diam, tubuhnya telungkup dan hanya terlihat wajah yang sudah memejamkan mata, tangan kanannya terlihat menggelantung ke bawah melalui celah pagar hias teras atas, Subarjo menggigil dan berkata sambil terbata-bata, “ Bo.. bo.. boosss, i…ituuu Bas… Bas…Bastian boss…” Sang Bos yang di ajak bicara hanya diam sembari membunyikan gesekan gerahamnya berkali-kali.


Tidak berselang begitu lama di dalam ruangan bawah terdengar kegaduhan, suara ledakan senjata disertai teriakan-teriakan, hanya berlangsung 5 menit ruangan itu kembali sunyi, diantara kegaduhan tersebut sang Bos dapat mengetahui kalau suara-suara  itu adalah suara anak buahnya Agus dan Kardi. Betapa sesaknya nafas ia saat itu, ia sempat berfikir siapa sebenarnya Piso Jalak itu. Telinganya tiba-tiba mendengar suara rintihan, “Sahabatku…. Tolong aku….” Suara itulah yang membuat darahnya kembali meluap. “Barjo… Ayo kita masuk!!!” Subarjo yang memang memiliki kemampuan dalam hal penyergapan langsung berlari zig-zag mendekati rumah tersebut, lalu Subarjo merapatkan punggungnya ke dinding samping pintu masuk, pintu yang memang sudah dalam keadaan terbuka lebih mudah ia lewati daripada pintu tertutup, karena sudah pasti ia harus melakukan satu dobrakan sebagai pembuka serangan, Subarjo meremas pistol grip senapan laras panjang dengan disertai nafas yang diusahakan teratur saat menghirup dan menghembuskannya, selanjutnya secara cepat ia tembakan 2 peluru ke dalam ruangan tanpa tujuan, hal itu dilakukan sebagai satu cara pengalihan konsentrasi musuh, kemudian dengan sigap Subarjo berguling beberapa kali di lantai rumah tersebut sembari mata tajamnya mencari dimana tempat yang tepat untuk berlindung dari serangan musuh. 

Mata Subarjo dengan cepat melihat lemari Jam Unik di pojok ruangan, dengan melakukan gulingan terlatih ia menuju lemari tersebut, tepat di samping lemari jam itulah Subarjo kembali merapatkan punggungnya ke dinding ruangan, sesaat kemudian Subarjo berniat melihat situasi di ruangan itu dan berusaha mendeteksi dimana keberadaan musuh yang akan dihadapinya, namun tiba-tiba sebuah tangan kiri yang kekar mencekik lehernya dan menekan kepalanya sehingga menempel di dinding rumah, senjata AK 47 segera ia pukulkan ke orang tersebut, namun sayang satu pukulan tepat bersarang di persendian pundak kanannya, hal itu menyebabkan tangan kanan Subarjo kehilangan tenaga, AK 47 pun jatuh dari genggamannya, Ia sempat mendengar sebuah nafas yang keluar masuk menimbulkan irama kemantapan, matanya sempat melihat sesosok tubuh yang sedang mencekiknya, tidak berselang lama ia melihat bagaimana telapak tangan kanan orang tersebut dengan jari-jari rapat membentuk sebuah pisau dengan sisi kanan telapak meluncur keras ke arah tenggorokannya sembari melepaskan tangan kiri yang mencekik lehernya, “Hekkkzzz” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Subarjo, ia merasakan bagaimana rasa sakit di lehernya dilengkapi dengan tersumbatnya jalan untuk bernafas, selanjutnya dunia menjadi gelap, tiada cahaya, tiada siapapun jua. 

Dalam keadaan seperti itu Subarjo tiba-tiba merasakan berada di alam lain, matanya melihat sebuah Bayangan Putih dengan sayap yang besar sekali, Bayangan tersebut semakin mendekatinya sembari membentangkan kedua sayap ke sisi kanan dan kiri, Sebenarnya dalam hitungan normal, kejadian ini terjadi begitu singkat, namun kedua mata Subarjo melihat betapa jelas perjalanan hidupnya mulai dari ia dilahirkan sampai keadaan saat ini, di sayap sebelah kanan Bayangan tersebut terlihat kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan teramat sedikit, yang sangat menyedihkan justru gambaran yang ada di sayap kiri memaksa Subarjo untuk menangis, disana terlihat perjalanan hidupnya di dunia ternyata sudah menyatu dengan nafsu angkara, bejat dan durjana, dengan sangat cepat tangan bayangan tersebut menepuk ubun-ubun kepalanya dan ia merasakan bagaimana sesuatu yang ada dalam tubuhnya tertarik paksa disertai dengan ribuan rasa sakit, sungguh rasa sakit ini belum pernah ia rasakan semasa hidup di dunia. Seluruh tenaga dan kesadarannya hilang, selanjutnya tubuh Subarjo jatuh terkulai dengan mata melotot seakan hendak keluar dari tempatnya, saat itu ternyata ruh pemilik tubuh tersebut sudah dibawa pergi oleh Bayangan putih yang tak lain adalah Malaikat Pencabut nyawa.


Selasa, 18 Mei 2016.



Subarjooooo, dimana kamuuu?” Sang Bos berteriak, kemuadian ia menyelinap masuk sembari merentangkan kedua tangan yang menggenggam pistol S&W 357 untuk berjaga-jaga dan siap menembak bila ia melihat musuhnya, mata sang bos terbelalak melihat Subarjo sudah telungkup tak bernafas, fikirannya berputar mencari jalan keluar, bagaimanapun kelima anak buahnya bukan orang sembarangan, namun kelimanya kini berhasil dilumpuhkan hanya dengan waktu yang singkat. Sebagai orang professional maka sang bos berteriak “Baiklah… siapapun engkau wahai orang yang bernama Piso Jalak!!! Aku tidak ada urusan dengan mu!!” Sang Bos berjalan santai dengan mata yang sangat cekatan menyapu seluruh ruangan, ia berhenti di depan sebuah meja dan meletakan dua pistolnya ke atas meja tersebut. “Aku sudah meletakan senjataku, keluarlah, aku ingin melihat siapa sebenarnya engkau!!” Sang bos sempat menempelkan betis kaki kirinya ke betis kanannya, disana terselip pistol ciss Walther PPK Caliber 2,2 mm dengan 7 butir munisi di magazennya, kedua tangannya diangkat yang memberikan isyarat bahwa ia sedang ingin bernegoisasi dengan musuhnya, matanya sempat terpejam membaca “Yoo Jabaraut, Petak gelap seketi” suatu rapalan yang ia dapatkan dari seorang guru spiritualnya bila dalam keadaan bahaya, ia sempat mengingat betapa di dalam sabuk miliknya tersimpan Batu Badar Besi yang sudah berkali-kali ia coba khasiatnya sebagai alat kebal terhadap berbagai macam benda tajam. 

Walau dalam keadaan dipaksakan tenang sebenarnya hatinya tetap bergemuruh was-was karena musuhnya kali ini benar-benar tidak bisa ia anggap enteng. Mata sang Bos melihat sebuah hembusan asap rokok melayang bebas dari balik sebuah pintu, sesaat ia mendengar sebuah langkah mendekat, matanya sedikit menyipit, berusaha melihat dengan jelas sosok yang muncul dari balik pintu tersebut, seorang lelaki berbadan kekar, dengan menggunakan topi hitam ala cowboy, jas panjang kulit seperti yang dipakai orang-orang eropa, sepatunya panjang seperti sepatu bot, warnanya hitam dan ia yakin itupun terbuat dari kulit asli, di lehernya nampak terlilit kain warna hitam menandakan kegunaan untuk menutupi hidung dan mulut sebagai bentuk penyamaran. “Itukah Piso Jalak… bertempur dengan lima anak buahku yang dilengkapi oleh senjata api namun masih merokok dengan santainya, hmmmm sungguh orang yang luar biasa, dia berani menunjukan wajahnya di hadapan korbannya, ini merupakan sebuah keyakinan bahwa ia pasti akan melenyapkan sasarannya.” Guman Sang bos dalam hati. 

Mata sang bos tetap mengawasi Piso Jalak yang tenang dan berjalan santai menaiki tangga rumah tersebut, ia mendekati suara rintihan yang ada di ruangan atas tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya masih ada orang lain di sekitarnya, sang bospun mengikuti di belakang Piso Jalak dengan jarak 4 meter, ia tetap  mengangkat tangannya tanda ia sedang menghentikan perlawanan, sang Bos belum bisa memutuskan untuk mencabut pistol dibetisnya, karena dibenaknya masih mempertimbangkan betapa musuh di depannya akan dengan mudah bisa melumpuhkan dirinya walaupun nampak jelas dimatanya si Piso Jalak tetap berjalan tenang tanpa menghiraukan di belakangnya ada seorang musuh dengan pistol tersembunyi dibetis yang kapan saja dapat digunakan untuk menghabisi nyawanya. Sang bos pun berkata dalam hati “Piso Jalak, aku yakin, engkau memperhatikan bayanganku yang ada di dinding, karena bayangan tersebut terlihat jelas sedang mengangkat tangan, itu karena pintu di luar memantulkan cahaya matahari, hmmmm sungguh cerdik juga tuyul satu ini”.


Minggu 29 Mei 2016.



Sesampainya di ruangan atas, Piso Jalak duduk santai di atas meja, tepat di samping meja tersebut sesosok tubuh sudah dalam keadaan tergeletak lemah, nampak sekali tubuh sahabatnya sudah lumpuh dan terputus dari sumber energi yang ada. “Tuan Kara sahabatku…” Sang bos mendekati sahabatnya sambil memeriksa beberapa bagian tubuh sahabatnya yang terlihat memar. Mata sang bos terpana melihat luka memar itu jaraknya sekilan saja, sekilan dari tengah leher adalah persendian pundak, sekilan selanjutnya adalah persendian sikut, lalu sekilannya lagi adalah pergelangan tangan. Begitupun bila ia urutkan kebawah maka sekilan selanjutnya adalah ulu hati, pusar, kemaluan, tengah tulang paha, persendian lutut, tulang kering dan terakhir persendian mata kaki. Orang yang disebut dengan panggilan Tuan Kara tersebut memaksakan tersenyum, lalu dengan menahan sakit iapun berkata “Sahabatku, Master Ginsen, tolong aku”, 

Sang Bos yang ternyata bernama Master Ginsen itupun membalas senyum sahabatnya, digenggamnya tangan sahabat dengan erat sekali, lalu ia menoleh ke arah Piso Jalak, “Piso Jalak!!! Lepaskan sahabatku, aku akan membayarmu 3 kali lipat dari orang yang menyuruhmu!! lalu 10 kali lipat aku membayarmu untuk melenyapkan orang yang menyuruhmu!!” , Master Ginsen berkata sambil memandang Piso Jalak dengan tajam. Sebuah wajah angker, dengan mata tajam, berkumis tipis melintang, terlihat sedikit jenggot pendek di dagu orang tersebut, rambutnya ikal, di jarinya sebuah rokok filter terus ia isap berulang-ulang, tiba-tiba suara serak dan berat keluar dari mulut orang tersebut “Aku memang seorang pembunuh, namun aku tidak ingin menjadi seorang yang munafik!!” Piso Jalak mendekati kedua orang tersebut, sebenarnya saat itu sang bos yang dalam keadaan jongkok bisa saja meraih pistol Walther miliknya, namun ia terus menahan gejolak di hatinya untuk tidak melawan dan ingin menyelidiki siapa sebenarnya lelaki kekar di hadapannya. Piso Jalak berhenti dua langkah di depan kedua orang di depannya sambil berkata “Yang memerintahkan aku adalah seorang iblis, kalianpun iblis, dan mungkin saja aku juga iblis, maka sesama iblis seharusnya mengerti tugasnya masing-masing”,  

Piso Jalak membalikkan tubuhnya lalu berjalan santai menuju halaman teras atas kamar tersebut, rokok di jarinya ia jentikan ke kanan dan jatuh di lantai kamar atas tersebut, tiba-tiba Piso Jalak berlari keluar ruangan tersebut dan melompati pagar teras atas, tanpa diduga Master Ginsen yang sedang memeluk sahabatnya, dalam keadaan melompat ia melihat tubuh Piso Jalak berputar arah menghadap  ke arah mereka berdua dan tangannya kirinya mencabut sebuah badik berwarna kuning emas dari pinggang kirinya, dalam keadaan melompat itu Piso Jalak mencabut badik tersebut dengan tangan kanannya, badik itu mengeluarkan bias cahaya kuning keemasan, kemudian tangan kanan dan kiri direntangkan lurus kearah samping tubuh, tiba-tiba badik yang sudah tercabut itu terbelah menjadi 3, mata pisaunya melengkung dengan sisi tajam mengarah keluar, bentuknya bulat melingkar laksana CAKRA, kemudian Piso Jalak meleparkan badik yang sudah berubah bentuk tersebut dengan cepat sekali kearah sahabatnya sambil berteriak “Aku Piso Jalak! seorang Iblis yang tidak ingin gagal dalam setiap melaksanakan pekerjaan!!”, badik yang sudah bermetamorpose mirip CAKRA tersebut berputar cepat dan  dengan tepat bersarang di tenggorokan sahabatnya, walau sebenarnya jarak sahabatnya hanya 2 jari tertutup oleh wajah Master Ginsen, “Akhhh” sahabatnya mengeluarkan suara meregang, darah keluar dengan cepat, Master Ginsen berteriak “Tuan Karaaa… tahan!!!”, ia melihat benda tersebut berputar memotong urat leher sahabatnya, saat itu matanya sempat melirik Piso Jalak merapatkan tangan kirinya yang memegang warangka badik tersebut ke tengah-tengah ulu hati Piso Jalak, lalu sebuah hal menakjubkan terjadi, Badik yang terbelah menjadi 3 dan melengkung itu seperti tertarik kembali pulang ke arah warangka badik di tangan Piso Jalak, tangan kanan Piso Jalak dengan sigap meraihnya kemudian cakra tersebut berubah menjadi badik seperti semula,  mata Master Ginsen berubah menjadi merah, ia cabut pistol Walther dari betis kanannya dan berlari menuju teras ruangan atas tersebut lalu berteriak, “Ibliss kau Piso Jalak!!!!” lalu ia berlari dan mengarahkan Pistolnya ke arah Piso Jalak yang sedang melompat sambil menembakan pistol tersebut berulang-ulang sampai 5 kali tembakan, namun pekarangan di halaman tersebut terlihat sepi tanpa adanya Piso Jalak yang ia kejar, hanya terlihat sesosok mayat anak buahnya dan mobil Terano miliknya, kekesalannya memuncak, dengan hentakan emosi Master Ginsen menendang mayat Bastian yang ada di bibir teras sambil mengeluarkan suara nafas yang keras, ia sempat memandangi jenazah anak buahnya, tiba-tiba hatinya menjadi takjub, ia baru menyadari bahwa semua korban Piso Jalak mengalami kematian disebabkan oleh sebab yang sama, yaitu leher para korbannya mengalami kerusakan karena benturan benda keras seperti yang dialami oleh Subarjo, yaa itu pasti disebabkan oleh tangan kokoh milik Piso Jalak. Sesaat kemudian sang Bos berlari menuju ke tubuh sahabatnya yang ternyata sudah dalam keadaan tidak bernyawa.



Minggu 5 Juni 2016.

Di depan lukisan abstrak tersebut mata sang Bos terlihat seperti berkaca-kaca, sahabat terbaiknya yang banyak membantu dirinya tewas mengenaskan justru di dalam pelukannya. Cerutu besar kembali ia hisap, kemudian dengan mata yang tajam ia memandang kedua anak buahnya. “Pergilah, kalian berdua justru membuat aku terbayang kembali betapa aku tak berdaya di depan Piso Jalak!! Aku sudah mengirim pembunuh-pembunuh bayaran untuk membunuhnya, namun selalu gagal, bahkan sudah puluhan kali aku membayar Piso Jalak untuk membunuh sasaran yang sebagian besar sebenarnya bertujuan agar ia mati di tangan orang menunggunya, semua ku lakukan agar Piso Jalak tewas dalam tugasnya, sayang hal itu belum terwujud sampai sekarang!!”  Herman dan Andi langsung menunduk hormat dan segera pergi, mereka takut sang bos naik darah hingga mereka harus menerima hal yang tidak akan pernah mereka bayangkan.


Setelah berhasil memberi pelajaran kepada Herman dan Andi, Piso Jalak berjalan menuju pemberhentian Bus, di jalan kaki lima Piso Jalak berjalan perlahan sembari menikmati rokok yang sebenarnya berbahaya bagi paru-parunya, namun ia sadar betapa petani tembakau dan warung emperan bisa menghasilkan pendapatan tambahan untuk menghidupi keluarga mereka dengan berjualan benda yang hanya menghasilkan asap polusi ini, “Semua selalu menghasilkan sebab akibat, baik yang saling menguatkan ataupun kebalikannya, inilah kehidupan, di satu sisi menguntungkan di satu sisi lagi merugikan, contoh ringan ada penjual bakso berdampingan dengan penjual es, bila terik matahari sangat panas maka penjual es laku keras dan penjual bakso hanya bisa melihat betapa penjual es kewalahan, namun bila keadaan mendung dan gerimis, situasi justru sebaliknya, kita selaku insane seharnya saling menyadari akan kodrat yang sudah di berikan oleh Allah SWT, bila keduanya saling menghargai dan saling mengerti maka pelanggan yang makan bakso tak salah juga bila melengkapi minumnya dengan es”. Tiba-tiba matanya menangkap pecahan beling botol suplemen dan botol beralkohol di jalan kaki lima tersebut, Piso Jalak mendekatinya lalu berjongkok, ia teringat kata-kata Gurunya, “ Muridku semua, bila kalian melakukan dosa maka kalian akan mempertanggung jawabkan sendiri dosa kalian tersebut, tetapi ada juga semacam dosa yang dilakukan oleh orang lain namun kalian akan ikut menanggungnya juga bila kalian mendiamkannya, contohnya, bila ada pecahan benda tajam yang berbahaya di jalan kalian melihatnya dan bisa menghindarinya namun tidak menyingkirkannya lalu benda itu mencelakai orang di belakang kalian yang saat itu tidak tahu ada benda berbahaya yang akan di pijaknya, maka sebenarnya kalian sudah ikut andil dalam celakanya orang tersebut”. 

Piso Jalak mulai mengumpulkan pecahan-pecahan beling tersebut kemudian membuangnya ke tempat sampah di pinggir jalan tersebut, hatinya berguman “Aku ikhlas bila kelak dosa-dosaku yang besar ini diadili di yaumil akhir, namun aku tidak ingin ikut bertanggung jawab atas apa yang tidak ku lakukan, sungguh perbuatan sepele namun bisa jadi ganjalan kelak”. Piso Jalak melihat sekelilingnya hatinya berbisik “Negara ini sudah menentukan undang-undang untuk mengatur kelangsungan hidup rakyatnya, namun masyarakat selalu membebani dengan tingkah laku dari sudut pandang sendiri-sendiri, kadang kala banyak yang berkata kenapa minuman keras yang diemperan di razia namun pabriknya tidak ditutup, hehehe itulah pemikiran masyarakat awam. Bila dikaji lebih dalam mengapa Negara memberikan tempat untuk mabuk-mabukan, ya tempatnya di BAR karena disana di jaga bodyguard, lalu anak kecil yang belum dewasa pasti dilarang masuk, bahaya kerawanan terhadap masyarakat umum lebih minimal, tetapi bila di jual diemperan, siapapun pasti akan di beri oleh penjualnya, tidak pandang itu anak kecil sekalipun, minumnyapun di pinggiran jalan,  ini yang justru menimbulkan bahaya, karena siapapun yang lewat bisa jadi korban orang-orang yang sedang mabuk, sayangnya manusia tidak menyadari sebab akibat sebuah perjalanan hidup manusia. ” 

Sesampainya di Halte Piso Jalak meneliti situasi mengenai orang dan keadaan, sisi pisau mata manusia sebenarnya bisa digunakan untuk melihat sesuatu sampai 90 derajat tanpa harus menoleh, hati Piso Jalak sempat terpokus melihat seorang pemuda diantara pemumpang yang sedang menunggu bus, pemuda itu berperawakan rapi dan memegang sebuah Koran, dari tatapan sang pemuda, Piso Jalak menangkap hampir 11 kali sang pemuda melirik tas milik seorang ibu setengah baya. Piso Jalak tersenyum sedikit melihatnya. Saat bus datang para penumpangpun menaiki bus yang sedang berhenti, sang ibu duduk di kursi pojok kanan belakang, di sebelahnya sang pemuda dan Piso Jalak di kursi pojok kiri belakang dekat dengan pintu dimana kondrektur bus yang sibuk berteriak mencari penumpang. Sekitar 10 menit berlalu sang pemuda yang tepat duduk di samping Piso Jalak mulai membuka Koran yang ia pegang, Koran ia buka menutupi tas milik sang ibu yang terlihat lelah, setelah berulang-ulang dibuka dengan menimbulkan bunyi namun sang ibu seperti tidak memperhatikan maka sebuah silet goal baru dikeluarkan dari sakunya, niatnya cuma satu yaitu untuk menyobek tas tersebut lalu mengambil isi tas tersebut, namun pemuda itu mengurungkan niatnya setelah mendengar bisikan Piso Jalak : ”Nampaknya engkau belum merasakan susahnya hidup di penjara anak muda!!” Sang pemuda pucat ternyata ia yang berhasil mengawasi sasaran operasionalnya namun berhasil diawasi oleh orang lain. Pemuda itupun berkata “Maaf maksud bapak apa?” Piso Jalak pun tersenyum “Tenagamu masih cukup kuat untuk memikul beban anak muda, keringat itu asin dan berbau tidak sedap, namun hasil dari keringat itu manis dan harum” sang pemuda menundukan kepalanya fikirannya berkecamuk, ia berfikir jangan-jangan orang yang di sampingnya ini adalah seorang anggota intel. “Maaf pak, siapa sebenarnya bapak, sepertinya bapak tahu saya dan pekerjaan saya.” Sang pemuda menunduk pasrah. 

Piso Jalakpun berkata sambil sedikit tersenyum “Anak muda, diantara sekian penumpang mata mu itu selalu mengawasi ibu itu berkali-kali, bahkan 11 kali engkau melirik tas milik ibu itu, terlebih lagi Koran yang engkau pegang itu Koran yang sudah lewat masa bacanya” Sang pemuda pun semakin menunduk “Maaf pak, tolong ampuni saya” Nada sang pemuda terlihat memelas. Piso Jalak berkata “Hmmm kita masih dilindungi oleh asas praduga tak bersalah” dirabanya saku sang Piso Jalak sambil mengeluarkan dompet, dikeluarkannya uang sebesar Rp. 300.000,- “Aku tahu uang ini tidak besar, namun bila jiwamu besar maka In Syaa Allah uang itupun akan besar!!”  Pemuda itupun menerima uang dari Piso Jalak sembari mencium tangan lelaki kekar dan sangar itu kemudian ia memberhentikan bus tersebut dan turun, mata Piso Jalak melihat tatapan sang pemuda dengan tatapan yang melukiskan kelahiran insan manusia baru. Buspun berjalan Piso Jalak berbisik untuk dirinya sendiri “Setiap insan manusia bisa saja dianggap Iblis oleh manusia-manusia lainnya, namun bisa juga dianggap Maalaikat oleh sebagian manusia lainnya” 

Sang kondrektur yang melihat kursi disamping Piso Jalak kosong, maka iapun duduk,  lalu kondrektur itu berkata “ Bang, kami tahu dia tu copet, tapi kami takut mobil kami menjadi tidak aman bila mengganggu pekerjaan mereka, kenapa abang lepaskan dia, dan sebenarnya abang ini siapa ?” Piso Jalakpun melirik sang kondrektur, suaranya yang berat menjawab “Saya seorang petinju mas”. “Hmmm lalu sekarang masih suka bertinju?” Tanya kondrektur kembali, “Tidak mas” Piso Jalak membuka rokok miliknya sembari menghidupkannya. “Kenapa bang?” sang kondrektur semakin gencar bertanya, “Saya libur di dalam penjara mas” sang kondrektur memandang Piso Jalak dengan seksama “Kenapa masuk penjara bang?” Piso Jalak menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya “Saya meninju orang yang banyak bertanya kepada saya hingga mati!!” mata sang kondrektur terbelalak, wajahnya menjadi pucat, sang kondrektur langsung berdiri ke bibir pintu sambil berteriak-teriak mengucapkan tempat yang sedang dituju bus tersebut, sembari teriak matanya terus melirik orang yang sangat angker di sampingnya.


Selasa 14 Juni 2016.

Akhirnya Bus berhenti di depan sebuah masjid, sang kondrektur menerima uang dari Piso Jalak sambil menahan nafas, Piso Jalak meliriknya lalu tanpa sadar Piso Jalak tersenyum, sang kondrekturpun seperti menemukan nafas lega, ia membalas senyum tersebut sambil berkata “Terima kasih bang”. Piso Jalak meraih sakunya, ia mengeluarkan rokok miliknya, lalu diberikan kepada kondrektur tersebut lalu berjalan menuju jalan sempit samping masjid, buspun beranjak pergi melanjutkan perjalanan. Di depan masjid Piso Jalak sempat melirik seorang tua di dalam masjid yang sedang sholat malam, dilihatnya jam tangan miliknya, pukul 03.15, Piso Jalak kembali berjalan, namun ia hentikan perjalanannya setelah mendengar batuk yang berulang-ulang kali dari orang tua di dalam masjid. Nampak orang tua itu baru usai melaksanakan sholat malam, karena batuk yang tiada reda maka sang orang tua pun menuju ke tempat wudhu, mata Piso Jalak terbelalak melihat orang tua tersebut meminum air wudhu yang belum dimasak tersebut. Piso Jalak teringat dua sahabat karibnya, Laga Puntha dan Rala Juntai saat berguru kepada seorang bijaksana dan lembut, Syajaratul Yaqin mereka bertiga menyebut Sang Guru yang senantiasa mengajarkan bagaimana seorang manusia selayaknya mengenali Siapa Tuhan, siapa manusia atau hamba dan bagaimana sejatinya diri juga bagaimana sejatinya hidup. Syajaratul Yaqin hanya memiliki murid 3 orang, dan mereka bertiga selalu bersama-sama selama 4 tahun, selama 4 tahun itu ketiga murid diajarkan puasa Nabi Daud AS, dengan 1 hari puasa dan 1 hari tidak, setiap buka puasa ketiga murid selalu berbuka puasa dengan meminum air wudhu dari pancuran saat berwudhu, maka mereka bertiga menamai diri mereka sebagai saudara jiwa SEPEMINUMAN AIR WUDHU YANG TERTELAN. Sayajaratul Yaqin tinggal di pinggiran hutan belantara, musholanya terbuat dari bambu, atapnya dari alang-alang, di pinggirnya ada sungai yang besar sebagai pembatas hutan dengan desa, disana Piso Jalak berguru secara diam-diam, karena saat itu Piso Jalak sendiri adalah santri Pondok Walyaathalatof  dimana ia bersembunyi dan tempat pelarian saat kabur dari penjara. 

Disanalah Piso Jalak menerima pengetahuan tentang Lafadz Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) secara hikmah, lafadz tersebut bermula dari huruf BA, maknanya adalah BABUN yaitu pintu, dimana manusia pasti akan memilih dan melewati pintunya masing-masing, namun carilah yang BA (BarakAllah / yang berkahi oleh Allah), SIN dapat dimaknai dengan kata salam (selamat) bila dirangkai akan menjadi sebuah makna tentang seorang anak manusia dalam menemukan pintu yang sudah dipilih untuk jalan kehidupan yang ia jalani, maka anak manusia itu harus menyertakan sabar dan benar saat berjalan memasuki pintu tersebut agar selamat, karena pintu-pintu itu ada yang baik dan yang buruk, lalu akan bertemu dengan MIM yaitu Ma'rifat (mengenal), mengenal siapa? MILLAH, mengenal ALLAH, disanalah anak manusia harus mengisi Pintu hidupnya dengan Sifat Allah yang AR-ROHMAN Maha Pengasih dan AR-ROHIM Maha Penyayang, maka rangkuman makna dari Bismillahirrahmanirrohim adalah bila manusia sudah memilih dan menemukan pintu masing-masing, apapun itu yang dipilih, sebagai contoh jalan Petani, Tentara, Polisi, Guru, Pedagang ataupun yang lainnya, namun ada juga pintu lainnya yang tidak benar sebagai contoh pintu sebagai pencuri, perampok atau sebagainya, semua tersedia karena Ar-Rohman adalah Maha Pengasih, semua dikasih, namun manusia tersebut tidak akan bertemu Ar-Rohim (Maha Penyayang), bisa saja seorang hamba itu dikasih (dikabulkan hajadnya) mereka belum tentu disayang, karena BA yang dimaksudkan bisa juga berarti BAROKALLAH (Yang diberkahi Allah), sehingga pada puncak tujuannya manusia yang memilih pintu hidupnya akan mencari serta mengenal Allah SWT dengan segala rahasia NYA, berpondasi sabar dan benar tersebut maka  manusia akan menemukan rasa syukur dan ikhlas terhadap apapun yang digariskan pada hidupnya, sebenarnya itu adalah bukti nyata Allah SWT selalu mengasihi dan menyayangi hamba-hamba NYA maka untuk berterima kasih kepada Allah SWT seorang hamba harus selalu berbelas kasih dan mempunyai rasa sayang terhadap sesama. 

Air mata Piso Jalak menetes tanpa disadarinya, dibukanya kedua telapak tangan miliknya, terlihat bagaimana tangan tersebut sudah banyak berlumur dosa, hati Piso Jalakpun berbisik “Aku akan temukan sejatinya diri dan sejatinya hidup ini, hanya musrik yang tidak akan diampuni oleh Allah Azizul Jabbar, yang lainnya semoga akan terampuni kelak bila bertaubat, saat ini jalan yang ku lalui adalah ini, Semua tetesan air yang menguap keangkasa dan berjatuhan ke bumi ini, walau jatuh di puncak gunung sekalipun pasti memiliki cara sendiri-sendiri dan mengalami banyak kejadian dalam perjalanan kembali ke samudera”  sesaat kemudian tiba-tiba Piso jalak dikagetkan oleh sebuah sapaan “Nak, mengapa berdiri saja disitu?” ternyata si pemilik suara itu adalah sapaan orang tua yang tadi batuk, “Tidak apa-apa pak” Piso Jalak menjawab, “Anak adalah orang yang ngontrak di belakang masjid ya ?” orang tua itu kembali bertanya, “Iya pak” Piso Jalak berusaha menjawab seadanya. “Nak saat ini keadaan masjid selalu sepi, sudikah anak menemani bapak sholat subuh berjamaah?” orang tua itu memberikan tawaran yang membuat hati Piso Jalak berdetak, dengan tersenyum Piso Jalak menjawab Terima kasih pak, bapak menawarkan kebaikan kepada saya, saya senang mendengarnya, insan manusia yang selalu berusaha berbuat kebajikan dan selalu mengajak kebaikan walau itu sekecil apapun, tidak perduli diterima atau tidak oleh orang lain, maka yakinlah kita tidak akan pernah tahu dari kebaikan-kebaikan mana yang telah kita lakukan, disitulah justru membuat Allah SWT membukakan pintu Ridho NYA untuk kita ” 

Piso Jalak membalikkan tubuhnya kemudian berjalan meninggalkan orang tua tersebut, sang orang tua terpaku mendengar ucapan Piso Jalak yang memiliki makna yang harus ditelaah secara seksama, hatinya mulai berbisik “Siapa engkau sebenarnya nak?, orang-orang mengatakan engkau adalah seorang yang tertutup dan pendiam, juga tidak mau bergaul dengan siapapun jua, namun semua tentang dirimu sulit diketahui hanya dengan lintasan sebuah pemikiran ”. 

Piso Jalak sembari berjalan perlahan dengan kepala menunduk menghela nafasnya, di dalam hatinya berkata “Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin…. Segala Puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, sungguh segala puji-pujian hanyalah milik Allah, dalam kehidupan banyak sekali pujian di alamatkan kepada manusia, hewan, bebatuan dan lainnya, namun bila kita kupas secara hakikat pujian tersebut memang terbagi menjadi 4 macam, 

1. Puji khudus ‘alaa khudus, yaitu makhluk memuji makhluk, ini terjadi bisa saja karena makhluk (contoh manusia) yang memiliki kebaikan, pintar, bijaksana ataupun yang lainnya, itu hanyalah sebatas pujian sesama makhluk tanpa membandingkan terhadap Allah SWT. 

2. Puji khudus ‘alaa Khodim, manusia memuji Tuhannya, ini bisa saja berupa kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir ataupun Tahlil. 

3. Puji Khodim ‘alaa khudus, Tuhan memuji hamba-Nya, sebuah Sirr (Rahasia) Allah SWT saat memuji seorang hamba yang mungkin saja karena kepatuhan dan ketaatan kepada orang tua, atau seorang dermawan yang ikhlas atau seseorang yang rajin sholat malam dengan kekhusukannya, yang jelas Allah SWT berfirman dalam surat Al Qalam ayat 4 dengan tujuan memuji Rasulullah Muhammad SAW, yang berbunyi ”Wainnaka la`ala khulukin azhiim”, (Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki budi pekerti yang sangat agung.) juga pada surat At-Taubah ;128 , “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.” 

Dan yang ke 4 adalah puji Khodim ‘alaa Khodim, ini bisa kita lihat betapa Allah SWT memuji diri-Nya sendiri dengan 99 Asmaul Husna, dimana Allah itu Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Bijaksana dan lain-lain.” Dengan mata yang mulai sayu Piso Jalak membayangkan betapa dunia ini akan damai dan tenang bila masing-masing umat beragama secara kaffah (keseluruhan) memahami ajaran dan tujuan masing-masing agamanya.


Sabtu 24 Juni 2016

Piso Jalak memasuki rumah kontrakannya, setelah membuka jaket miliknya, Piso Jalak duduk di kursi yang hanya bertemankan 1 meja saja, diperhatikannya map yang tersegel rapat, di sobeknya map tersebut, di dalamnya ada sebuah cek tunai Rp. 100 juta sebagai DP, dan terlihat sebuah Foto seorang Anggota Polisi berpangkat AKP, wajah Polisi itu sangat tampan, matanya terlihat tajam dan jeli, Piso Jalak menarik nafas panjang sambil berguman dalam hati “Aku tidak mengenalmu, namun nampaknya dirimu akan segera bertemu denganku, yah dengan malaikat kematianmu ”Piso Jalak menggenggam gelas berisi air putih lalu meminumnya, dalam keadaan sedang menggenggam gelas itulah Piso Jalak memejamkan matanya, ia kembali mengingat bagaimana dulu ia sampai di jebloskan ke Penjara …. Saat itu usianya masih beranjak 9 tahun…


“Piso…. Pisoooo…” seorang ibu dengan lengkingan kuat mencari anaknya sembari membawa seember air yang ia siramkan ke tumpukan daun kering, plastik dan kertas yang terbakar. “Anak bandel, dimana dirimu?” sesekali kepala sang ibu menoleh ke kanan dan ke kiri, namun sang anak tak juga terlihat. Di balik sebuah belukar sang anak tersenyum sendiri, yaah itulah masa kecil Piso Jalak, ia hobi sekali membakar apapun yang ia lihat mudah dibakar, entah sudah berapa kali ia melakukannya, pertama kali ia membakar sampah, kedua telinganya sampai merah dijewer sang ibu, namun lama kelamaan sang Piso Jalak semakin menikmatinya, ia terus membakar, membakar dan membakar apapun yang mudah ia nyalakan. 

Sampai pada suatu sore hari Piso Jalak mengintip ibunya dalam keadaan lelah dan tertidur di dalam rumahnya, memang saat itu ibunya terlihat bekerja banyak sekali mengurusi dan membersihkan rumah dan pekarangan, niat Piso Jalak menjadi besar untuk memenuhi hobinya, secara sembunyi-sembunyi Piso Jalak mendekati sampah-sampah yang rencana akan dibuang oleh ibunya ke kotak sampah di ujung rumahnya yang berjarak 10 meter, sampah-sampah itu belum sempat dibuang dan masih berada di dekat pintu belakang rumahnya, Piso Jalakpun beraksi, ia mulai membakar sampah-sampah tersebut, dengan sigap korek api ia mainkan, apipun mulai terlihat keluar dari tumpukan sampah tersebut, Piso Jalak terus mengumpulkan yang lainnya hingga menggunung, saat api semakin membesar Piso Jalak berlari menuju semak belukar untuk mencari daun-daun kering lainnya, saat itu Piso Jalak melirik bagaimana angin berhembus kencang sehingga membuat api itu membesar dan sampah yang terbakar berterbangan, ia berlari mendekat namun api sudah berterbangan kemana-mana.

Piso Jalakpun panik dan berlari bersembunyi, ia sangat takut ibunya akan marah besar melihat kenakalan dirinya, tiba-tiba Piso Jalak merasakan takut yang sebesar-besarnya saat melihat api, selama ini bila ia melihat api maka akan membuat hatinya senang, hatinya semakin berdetak menahan rasa takut ketika melihat api tersebut terbang terbawa angin dan sebagian sampah yang terbakar mulai menyambar dapur yang ada di belakang rumahnya, Piso Jalak semakin gemetar, dilihatnya dinding dapur yang terbuat dari papan mulai terbakar, bibirnya tanpa sadar menyebut Nama Allah Tuhannya, dalam situasi seperti itu Piso Jalak hanya mampu menangis melihat bagaimana api tersebut dengan cepat merambat ke seluruh rumahnya, tubuhnya bergetar dan lemas, mulutnya terkunci sehingga tidak dapat berteriak, warga sekitar berlarian membawa air berusaha memadamkan api tersebut, Piso Jalak semakin menangis membayangkan suara teriakan ibunya yang marah besar dan pasti akan memukul pantatnya sampai biru.

Namun hiruk pikuk suara teriakan warga dan masyarakat sekitar yang sedang berusaha memadamkan api tak juga menghantarkan suara lengkingan ibunya, hati Piso Jalak tiba-tiba mengharapkan agar muncul teriakan-teriakan marah dari ibunya, kini perasaan takut dimarah oleh sang ibu berubah menjadi takut bila suara teriakan itu tidak keluar dari mulut ibunya, benar saja suara teriakan marah sang ibu tersebut tidak pernah ia dengar sampai api meninggi, saat itulah Piso Jalak tiba-tiba mendapatkan sebuah tenaga luar biasa dari dalam jiwanya, ia berteriak sambil berlari “Ibuuuuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu ”. 

Piso Jalak berlari menuju rumahnya, namun warga memegangnya dan menghalanginya untuk mendekati api yang sangat besar, “Lepaskaaaaaan!! lepaskaaaaaaaaaan!! ibuku ada di dalam!! ibuku ada di dalaaaaaaaaaaaaammmm!!!!”. Piso Jalak meronta-ronta dan menendang serta memukul orang yang memeganginya, salah seorang warga berteriak “Cepaaaaat panggil pak Supari, beliau sedang piket di Koramil!!! ”, salah satu wargapun berlari menuju Koramil untuk memanggil pak Supari, ayah dari Piso Jalak, sementara Piso Jalak berusaha melepaskan tangan yang membekapnya, ia gigit tangan tersebut, saat Piso Jalak hendak berlari ia merasakan ada sebuah pukulan ditengkuknya, matanya berkunang-kungan, dunia menjadi gelap, kemudian Piso Jalak tidak mengetahui apapun yang terjadi.



Jumat 8 Juli 2016


Entah berapa lama Piso Jalak pinsan, saat kesadarannya pulih Piso Jalak kembali berteriak “Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu ” Piso Jalak bangkit berdiri dengan pandangan mata yang menajam, diperhatikan sekelilingnya, ia melihat banyak orang berkumpul di rumah tetangga sebelah kanannya, Piso Jalak melihat orang-orang sedang membaca surat Yasin berjama’ah, seorang ibu merapat mendekati Piso Jalak sambil berkata “Sabar nak, sabar ya” tak lama sang ayah mendekati Piso Jalak, dipeluknya sang anak, terlihat wajah Supari menahan air mata, iapun berbisik “Anakku, ikhlaskan ibumu betemu Tuhannya, Allah sayang kepada ibumu, hingga rindu NYA dipercepat agar bisa mendekatkan ibumu di sisi NYA”. Piso Jalak melihat wajah ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, “Ayaah, ibu kemana? Kenapa sekarang ini sudah malam ayah? Ibu kemana ayah, ibu kemana?” Sang ayah tersenyum dengan sejuta rasa kedamaian, “Engkau tidur lama sekali anakku, kini ambil air wudhu, mari kita sama-sama mengantarkan ibu menuju rumahnya disana ” . Piso Jalak semakin tak kuat menahan diri, sesaat ia ingin berteriak namun sang ayah memegang pundaknya sambil berkata “Saat kelahiranmu, ibumu tersenyum bahagia dalam menahan sejuta rasa sakit, dan ayahmu menepuk dada ayah sambil berteriak, ini putraku, pewarisku, kebanggaanku, jangan nodai kebanggaan kami dengan tangis cengengmu dalam melepaskan ibumu nak! Ingat! Agama kita melarang kita menangisi kepergian seorang hamba menghadap Tuhannya, Pemilik Jiwa dan segalanya, karena tangisan hanya akan membebani perjalan orang yang sedang kembali kepada Allahu Jabbar

Piso Jalak kebelakang rumah diantar sang pemilik rumah, ditimbanya air sumur lalu ia berkumur 3 x, membasuh hidung 3 x, membasuh telapak tangan kanan dan kiri sampai kesiku 3 x, membasuh muka 3 x, daun telinga 3 x dan membasuh kaki kanan dan kiri sebatas mata kaki 3 x, setidak-tidaknya ia pernah merasakan pelajaran berwudhu dari kurikulum agama di sekolahnya , sang tetanggapun memberikannya kopiah, lalu Piso Jalak ikut dikeramaian tengah rumah tetangganya yang sedang melanjutkan acara tahlil. Diliriknya sang ayah yang khusuk mengikuti imam Tahlil, mata Piso Jalak kembali berkaca-kaca, ia ingat bagaimana kenakalannya selama ini, kepalanya menunduk, pikirannya terus mengingat bagaimana kesabaran ibunya dalam menasehati dan mengingatkan semua kenakalan yang ia lakukan.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Piso Jalak merasakan sesuatu yang ganjil, ia seolah-olah hidup di alam kandungan, ia merasakan bagaimana tiba-tiba ia bisa bercakap-cakap dengan Tuhan, Piso Jalak merasakan seperti suasana di dalam perut ibunya, jiwanya merasakan seperti nyata, ketika bagaimana ia bertanya kepada Tuhan dan Tuhan selalu menjawab pertanyaannya:
Piso Jalak : “Para malaikat disini mengatakan bahwa esok Engkau akan mengirimku ke dunia, Yaa Tuhan, lalu bagaimana caranya aku akan hidup di alam seperti itu? aku begitu kecil dan lemah?”
Tuhan menjawab: “AKU telah memilih satu malaikat untuk mu, Ia akan menjaga dan mengasihi mu”
Piso Jalak : “Tetapi aku disini … di alam ini... aku bisa tertawa....dan sepertinya suasana ini sudah cukup bagi ku untuk berbahagia, sedang di dunia itu aku belum tentu mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang ini, Yaa Tuhan”.
Tuhan : “Di dunia itu kamu akan selalu melihat Malaikatmu tersenyum untuk mu setiap hari... dan kamu akan merasakan kebahagiaan akan cinta dan kasihnya... itu akan membuat mu menjadi lebih berbahagia.”
Piso Jalak : “Lalu bagaimana cara aku bisa mengerti saat orang-orang disana berbicara kepada ku?, bukankah aku tidak mengerti bahasa mereka?”
Tuhan : “Malaikatmu akan selalu berbicara kepada mu dengan bahasa yang paling indah yang akan membuatmu mengerti... dan dengan penuh kesabaran juga perhatian...... dia akan mengajarkan mu bagaimana cara berbicara.”
Piso Jalak : “Dan apa yang harus aku lakukan?, jika aku ingin berbicara kepada-Mu Yaa Tuhan?”
Tuhan : “Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa.”
Piso Jalak : “Tetapi...aku mendengar dari penghuni di alam ini bahwa di alam itu banyak orang jahat Yaa Tuhan, siapa yang akan melindungi ku?”
Tuhan : “Malaikat mu akan senantiasa melindungimu...menjagamu.. walaupun hal tersebut mungkin saja dapat mengancam jiwanya.”
Piso Jalak : “Tetapi... aku merasa sedih karena tidak bisa melihat-Mu lagi Yaa Tuhan.”
Tuhan : “Malaikat mu akan menceritakan kepada mu tentang Aku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada KU... walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada dekat dengan mu.”
(Dalam keadaan alam yang begitu tenangnya Piso Jalak bisa mendengar suara-suara dari alam bumi yang sedang menantikan kedatangannya).
Piso Jalakpun bertanya pelahan : “Yaa Tuhan... jika Engkau taqdirkan aku harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahukan kepadaku...siapa nama malaikat yang Engkau agung-agungkan itu?”
Tuhan : “Kamu akan memanggilnya...dengan sebutan  ‘I B U".


Piso Jalak tersentak, tiba-tiba ia berteriak Yaa Tuhan!!!! Aku ingin malaikatku Engkau kembalikan kemari, aku akan tukar dengan diriku ini yaa Tuhaan!!!” Piso Jalak berdiri sambil menengadahkan kepalanya sembari berteriak lebih kencang lagi “Tuhaaaaaan kembalikan malaikatku kepadaku……!!!!” orang-orang yang ada di ruangan itupun sontak kaget melihat anak berusia 9 tahun berteriak memanggil Tuhan, Suparipun mendekati anaknya, tangan kekarnya mencengkeram tangan kanan Piso Jalak dengan kerasnya “Piso!!! Tenangkan dirimu!!”  Piso Jalak memandang wajah ayahnya dengan tatapan yang tajam, sembari teriak Piso Jalakpun menjawab ”Ayaah!!! Aku sedang meminta Tuhan mengembalikan ibu, kenapa ayah melarangku!!” , sang ayah justru menajamkan matanya tanda sebuah ketegasan harus dilakukan, “Kita menumpang berdoa di rumah tetangga, Piso!!! Rumah kita terbakar, sopanlah sedikit!! Sana kebelakang!!” . Piso Jalak menundukan kepalanya, ia takut sang ayah murka, dengan lunglai Piso Jalak menuju dapur rumah tetangganya. Acara Tahlil selesai pukul 21.00, tiba-tiba istri sang pemilik rumah yang ia gunakan untuk acara tahlilan buat istrinya tercinta berkata “Pak Supari, maaf, nak Piso Jalak tidak ada di belakang, saya sudah cari kemana-mana namun belum ketemu”  hati Supari terkejut lalu sempat berfikir keras dimana Piso Jalak berada, tak lama Suparipun menarik nafas yang panjang sekali, 3 orang rekan kantornya mendekat, “Bolehkah kami mencarinya pak??” “Hmmm ayo kita cari bersama-sama, namun saya akan mencarinya sendiri, tolong bila bertemu bawa saja ia kemari!” . Jawab Supari sembari berdiri, lalu berjalan keluar rumah tersebut.



Selasa 12 Juli 2016






Di Perkuburan desa, jauh dari perumahan penduduk melintas sosok kecil memasuki area pekuburan, ia berjalan berputar-putar sampai akhirnya berdiri sejenak, lalu bersimpuh di pekuburan yang tanahnya masih merah, tertulis di nisan makam tersebut ‘Nissa Nadzira’, airmata menetes dari muaranya, Piso Jalak bersimpuh sembari berkata “Ibu, maafkan aku ibu, semua ini karena aku, aku tak pernah mau mendengar nasehat-nasehat ibu, kini, apapun yang ibu kehendaki dariku akan aku lakukan bu  ” Piso Jalak menahan nafasnya saat mendengar suara di belakangnya .. tegas dan jelas .. “Ibumu menginginkan dirimu jadi orang yang jujur lagi lemah lembut anakku ” Supari duduk di samping Piso Jalak sembari memegang makam istrinya. “Ayah, maafkan aku ayah, akulah penyebab kematian ibu, akulah yang membakar rumah” tangis Piso Jalak,  Supari memandang anaknya dengan tatapan mata yang bercahaya, walau malam begitu kelam mata itu memancar bagaikan matahari di dalam kegelapan, Piso Jalak terus menangis membuat pengakuan “Ayah maafkan aku ayah, aku bingung ayah, apa yang akan kulakukan?” Supari berdiri memegang tangan anaknya, “Ayoo nak kita ke kantor Polisi, Di mata Allah SWT mungkin saja engkau bisa di ampuni, namun jangan lewati hukum yang sudah dibentuk di Negara kita nak ” Piso Jalak pun menjawab “Maksud ayah aku akan ayah serahkan ke kantor Polisi? Apa maksud ayah? ” Supari terus berjalan sambil menjawab “Anakku kesalahan mu harus diputuskan dari mata rantainya, bila saja ini tidak ayah lakukan maka engkau akan terus dalam lingkar kesalahan tersebut!”  , Piso Jalak menunduk “Tapi ayah adalah seorang Tentara, bagaimana martabat ayah nantinya?” Supari melihat anaknya, ia berjongkok lalu memeluk anaknya, digendongnya Piso Jalak “Martabat kita dimata manusia adalah ketiadaan anakku, di mata Allah Azza wa Jalla lah kita seharusnya berusaha meraihnya ”. Piso Jalak memeluk ayahnya saat di gendongan, dipeluknya dengan penuh kehangatan, Piso Jalakpun berkata “Bila aku dihukum, aku tidak sekolah ayah ”.  

Nafas Supari semakin terlihat berat, dibelai rambut anaknya sembari berkata “Sekolah itu jalan dunia anakku, jalan hakiki adalah jalan dimana engkau bisa kembali ke Jalan Ilaahi”. Sesampainya di perkampungan wargapun berkumpul “Itu pak Supari ” wargapun mendekat, “Syukurlah, Piso ketemu dimana pak?”. Suparipun menjawab, “Di perkuburan desa kita, pak ”. Salah satu tetanggapun bertanya “Masyaa Allah, kenapa ada disana pak?” , Suparipun menjawab dengan menghela nafas “Yaah mungkin rindu ibunya” diturunkannya Piso Jalak lalu ia ambil motor miliknya, “Laah bapak mau kemana?” Tanya warga. “Saya hendak ke Polsek pak, menyerahkan anak saya kesana ” jawab Supari, “Apaa… apa maksud bapak ??” warga menjadi kaget dengan jawaban Supari.  “Kebakaran tadi siang itu ulah anak saya pak, jadi saya ingin meluruskan akhlaknya saat ini agar tidak bengkok dikemudian hari.” Jawab Supari. “Tapi bukankah itu merupakan kelalaian pak, tidak disengaja pak, apalagi Piso masih kecil dan belum tahu apa-apa. ” Protes warga , Supari berkata dengan tegas “Apapun alasannya baik disengaja, terencana atau kelalaian yang menyebabkan korban nyawa ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pak, dunia ini memiliki hukum-hukum yang harus disepakati, begitupula dengan Allah .. Tuhan yang memegang keadilan dan Maha Penghitung hisab, bila saya tutupi ini maka sama saja saya menjerumuskan anak saya pada keyakinan yang salah!!” , mata tajam Supari seakan menyobek hati para warga, diarahkan pandangannya ke anak tercintanya, nampak butiran air mata yang mengkristal menandakan air mata tersebut terbekukan oleh keteguhan jiwa, “Piso Jalak, apa yang akan engkau putuskan sekarang!! ”  Piso Jalak yang baru berusia 9 tahun itupun membalas tatapan bapaknya dengan mata yang bersinar “ Ayah!! Demi Ibu, dia malaikatku, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku, semua demi ibu, akan aku sempurnakan dan ku buktikan bahwa ibu adalah seorang malaikat, Tuhan tak akan pernah salah mengutus seorang malaikat untukku, maka ibu akan tersenyum bangga karena berhasil mendidikku sebagai manusia yang mengerti apa itu kebenaran dan kebatilan .


Supari berjongkok dan memeluk anaknya, air matanya yang membeku mencair terbakar api kebesaran jiwa anaknya “Ayah sayang kepada ibumu nak, ayah sayang kepadamu,  doakan agar jiwa ayah tegar nak, berpisah dengan ibumu, kini dengan dirimu ”. Piso Jalak menguatkan pelukannya di tubuh ayahnya “Ayah, aku tidak ingin menjadi seorang iblis, aku ingin menjadi malaikat ayah, aku ingin membakar dosa-dosaku di penjara, agar aku bisa menjadi malaikat kelak, dan aku bisa menjumpai ibu, aku tidak ingin menjadi iblis ayah… aku tidak ingin menjadi iblis, ayah… aku tidak ingin menjadi musuh ibuku sendiri ”. 


Kamis 21 Juli 2016



Digendongnya Piso Jalak kemudian didudukan di jok belakang motor milik Supari, lalu mereka meninggalkan kerumunan warga. Piso Jalak memeluk ayahnya, iapun berkata “Ayah aku pasti akan rindu ayah dan ibu”, Supari yang mendengar anaknya berkatapun semakin menambah gas motornya. Sekitar 15 menit sampailah mereka ke Polsek wilayah itu, Supari menurunkan anaknya langsung menuju ke pelayanan laporan, dituntunnya Piso Jalak, Anggota Polsek yang mengenali Supari langsung menyapa “Selamat malam pak, ada yang bisa kita Bantu ?”. Suparipun duduk di hadapan anggota Polsek yang sedang Piket malam itu. Senyum Supari mengembang “Saya ingin melaporkan anak saya pak, ini berkaitan dengan musibah tadi sore mengenai kebakaran rumah saya”, Anggota Polsek yang sedang Piket tersebut mengkerutkan dahinya, sementara 3 orang anggota lainnya mendekati Supari dan anaknya. “Maksud bapak apa ?” terlihat wajah Anggota Polsek tersebut bingung. Suparipun menghela nafas panjang lalu ia berkata “Kebakaran yang merenggut nyawa istri saya adalah akibat perbuatan anak saya pak.” Anggota Polsek itu semakin bingung “Maksud pak Supari bagaimana?”, Suparipun kembali berkata “Apabila seseorang melakukan kelalaian sampai menyebabkan kematian apakah ada sangsinya pak ?”, Anggota Piket tersebut nampak seperti berfikir, lalu ia berkata Menurut Pasal 359 KUHP, dalam hal kelalaian seseorang yang mengakibatkan kebakaran atau banjir, dapat dilakukan penuntutan berdasarkan Pasal 188 KUHP, bunyinya “Barang siapa karena kesalahan (kealpaan) menyebabkan kebakaran, ledakan atau banjir, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah, jika karena perbuatan itu timbul bahaya umum bagi barang, jika karena perbuatan itu timbul bahaya bagi nyawa orang lain, atau jika karena perbuatan itu mengakibatkan orang mati.” . Supari menarik nafas, dengan berat iapun berkata “Saya serahkan anak saya untuk diberikan kepada hukum yang berlaku di Negara ini pak ”.  

Mata Anggota piket yang ada disana menjadi terbelalak, salah seorang anggota berkata “Tapi dia kan anak bapak, dan lagi bapak sedang berkabung, apa bapak sudah fikirkan baik-baik, anak ini masih kecil pak, tanah kuburan ibunya pun masih merah”, salah satu anggota pun menjelaskan Anak yang melakukan suatu tindak pidana memang bukan berarti tidak dapat dihukum, namun sebisa mungkin hukuman yang diberikan tidaklah berat. Negara Indonesia menjamin suatu prinsip pokok penerapan hukum terhadap anak, yakni tidak adanya diskriminasi dalam bentuk apapun, didasarkan pada kepentingan yang terbaik bagi anak, memberikan hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak sesuai dengan Konvensi Hak-hak Anak. Ada Hal  yang diperkuat oleh, Pasal 3 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyebutkan bahwa: Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berahlak mulia, dan sejahtera. Adapun bunyi dari Pasal 16 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa: Penangkapan,  penahanan, atau pidana penjara hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir, pak Supari. ”


Mata Supari memerah, sorotnya menjadi tajam “Saya menginginkan anak saya dihukum pak, ini saya lakukan justru untuk memperbaikinya, saya berharap kelak ia menjadi anak yang mentatati Undang-undang dan seluruh ajaran agama!”. Anggota yang berada di Polsek itu saling berpandangan satu dengan yang lainnya, lalu Ka Jaga berkata “Baiklah bila ini tuntutan bapak, kami tidak bisa berbuat apa-apa, Bribda Anton segera catat laporan pak Supari ini, saya akan laporkan kepada Kapolsek!” Bripda Antonpun menjawab “Siap!”  lalu Ka Jaga berkata kepada Supari “Apakah bapak sudah laporan ke Komando Atas bapak ? kami tidak menginginkan opini masyarakat dan rekan-rekan Satuan bapak salah menilai tindakan kami, apalagi Unit Labfor belum tuntas menyelesaikan hasil penyelidikannya.” Suparipun menjawab dengan tegas “Besok pagi saya akan Laporan kepada Danramil, selanjutnya saya akan menghadap Komandan Unit Intelijen Kodim dan Pasi Intel lalu saya lanjutkan menghadap Komandan Kodim pak, saya menginginkan anak saya menerima resiko apapun hasil perbuatannya, apalagi dia memang ikut mendesak saya agar hal ini dilaksanakan, semua demi ibunya, dia ingin membuktikan kepada ibunya bahwa Piso Jalak adalah seorang yang bertanggung Jawab!



Kamis 28 Juli 2016



Gigi Piso Jalak bergemerak, kepalannya mengeras hingga memecahkan gelas yang ia genggam, Air matanya mulai menetes, “Ibu, Maafkanlah aku, ayah aku rindu kepadamu ” Foto seseorang berpangkat Akp (Ajun Komisaris Polisi) yang akan dijadikan target olehnya  sudah membuka lembar kenangan hitam kelam perjalanan hidupnya 21 tahun silam. Piso Jalak terlihat berusaha keras menenangkan gejolak jiwanya yang sedang bergemuruh. Lalu ia berjalan mendekati lemari miliknya, dibukanya lemari tersebut, terlihat sebuah Jaket kulit panjang, di dada bagian kanan dan kiri terlihat hiasan rantai sampai ke pinggang, diliriknya sarung tangan kulit warna hitam dan sebuah topi cowboy juga berwarna hitam, Celana panjang jeans hitam dan sepatu bot hitam hatinya berbisik “Piso Jalak, ini targetmu ke 100, dimana engkau akan tahu apakah ini keberhasilanmu ataukah justru ini kematianmu ”, kalimat ini selalu ia ucapkan di dalam hati setiap kali ia akan menggunakan jubah kebesarannya dalam melaksanakan tugas dunia hitam.

Azan Subuh berkumandang, terdengar suara orang tua di masjid begitu mengalun merdu, Piso Jalak mendengarkan suara jiwanya yang mengartikan makna azan tersebut. ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR (2 X) , Allah Maha Besar, siapakah yang lebih besar dari DIA, lalu kenapa banyak manusia tanpa sadar dan selalu berselimut kesombongan akan ketampanan, kekayaan, harkat, derajad ataupun pangkat, sungguh naïf hati manusia yang lupa akan kebesaran Allah SWT, maka Piso Jalakpun menjawab dengan berucap Allahu Akbar.. Allahu Akbar 2 X, 

ASSYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAH (2 X) nun mati atau tanwin bertemu Lam, itu bernama IDGHAM BILA GHUNNAH dimana nun itu akan dibaca mengikuti huruf belakangnya menjadi A(L)LAA yang berarti Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah, sebenarnya ini adalah kunci awal manusia yang ada di dalam alam kandungan, saat itu masing-masing manusia diberikan Syahadat Tauhid, sebuah pengakuan pertama dan utama bahwa manusia yang terlahir harus memiliki Tuhan, namun kenapa banyak manusia yang melupakan hal tersebut, bukankah manusia terlahir hanya untuk menyembah Allah SWT? Hati Piso Jalak semakin memasuki alam jiwanya dan menjawabnya dengan membaca Assyhadu anlaailaaha illallah.. 2 X, 

ASSYHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH (2 X) artinya Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, Sahadat Rosul ini memiliki makna sebagai sarana kembali kepada Allah SWT, karena syareat akan kita lalui di dunia ini. Saat Dzat Allah berniat menciptakan dunia dan seisinya, juga Arsy dan para malaikat, Dzat Allah menciptakan Nur Allah dan Nur Muhammad sehingga saat kedua NUR tersebut bertemu membiaskan banyak kejadian-kejadian mulai dari Malaikat, Makhluk dan alam semesta ini. Dan Allah berkehendak untuk menitipkan Nur Muhammad tersebut kepada seorang manusia bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim, Terlahir dari Pasangan Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim dan Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf, tanggal 17 Rabiul Awwal tahun 570 M. Hati Piso Jalak semakin malu bila ia kelak tidak bisa kembali kepada jati dirinya, dimana hanya Syafa’at Rosulullah Muhammad SAW lah yang ia dambakan kelak di yaumil akhir sebagai bentuk penambalan-penambalan amal ibadah yang kurang benar saat ia lakukan. Kembali Piso Jalak menjawab Assyahadu anna Muhammadarrasuulullah 2 X, 

HAYYA’ALASSHOLAAH 2 X, Marilah kita tunaikan sholat, sebuah seruan untuk manusia agar melaksanakan kewajibannya, dimana anak manusia sudah diberi kewajiban dan haq, karena bila seorang muslim tidak melakukan sholat sungguh ia sedang merobohkan agamanya sendiri, disini Piso Jalak menjawabnya dengan ucapan Laa khaulaa walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim 2 X,  

HAYYA’ALAL FALAKH 2X, artinya Marilah kita menuju kemenangan, sungguh ironis rasanya bila anak manusia tidak menginginkan kemenangan, baik kemenangan di bidang ekonomi, kemenangan di bidang haq, ataupun kemenangan-kemenangan lainnya, lalu hanya orang-orang yang merugi yang tidak menginginkan menuju kepada sebuah kemenangan, kembali Piso Jalak menjawabnya dengan ucapan Laa khaulaa walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim 2 X (Tiada daya upaya dan kekuatan ku hanyalah datangnya dari Allah). Karena saat itu adzan subuh maka muadzin menambahkan Assholaatu khoirun minannaum 2 x (Sholat itu lebih baik daripada tidur), kembali terlihat nun mati atau tanwin bertemu dengan mim, maka dibaca mengikuti mim, ini bernama Idgham Maal Ghunnah, Saat Allah menawarkah pahala yang akan diberikan kepada hamba Nya bilasaja mereka mau sholat dan meninggalkan tidur mereka, Piso Jalakpun menjawab Syadaqta wa bararta wa ana dzalika minassyahidiin ( benarlah dan mendapatkan kebaikanlah engkau dan aku yang menyaksikan) 2 X, 

ALLAHU AKBAR , Allah Maha Besar, merupakan sebuah penengasan kembali, bahwa selama kita di dunia ini bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan Sang Maha Kuasa, kembali Piso Jalak menjawab Allahu Akbar .. Allahu Akbar

LAA ILAAHA ILLALLAH, pengakhiran dengan makna Tiada Tuhan selain Allah, dimana manusia tanpa menyadari sudah bertuhankan Uang, Jabatan, Harkat ataupun yang lainnya, pengucapan Tuhan memang tidak tampak oleh sareat, karena bibir-bibir manusia membungkusnya dengan rapi dan sempurna, namun di dalam jiwanya, ia selalu berdzikir dengan ucapan uang.. uang.. uang… atau pangkat.. pangkat… pangkat, yah itulah jiwa manusia yang tersembunyi manis di dalam wadah jasad, kelak semuanya akan nampak di hari Pembalasan, dimana hari itu adalah ditampakkan semua kebaikan dan keburukan walaupun itu sebesar biji zarah sekalipun. Piso Jalak menjwab Laa ilaaha illallah. 

Lalu Piso Jalak berdoa ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATTI TAAMMAH WASH-SHALAATIL QAA'IMAH. AATI SAYYIDANA MUHAMMADANIL WASIILATA WAL-FADHIILAH. WAS SYARAFA WAD-DARAJATAL 'AALIYATAR RAFII'A WAB'ATSHUL MAQAAMAL MAHMUUDAL LADZI WA'ADTAHU INNAKA LAA TUKHLIFUL MII'AAD (Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan… Berikanlah junjungan kami, Nabi Muhammad SAW wasilah, keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi… Dan angkatlah ia ketempat (kedudukan) yang terpuji, yang telah Engkau janjikan kepadanya. Sesungguhnya Engkau tak akan menyalahi janji)”. Lalu Piso Jalak kebelakang rumah kontrakannya untuk mengambil air wudhu dan melanjutkannya dengan sholat subuh 2 rekaat.


Selesai sholat seperti kebiasaan Piso Jalak selalu mengirimkan surat Al Fatihah kepada Rasulullah, orang tuanya, Gurunya dan seluruh muslimin muslimat walau ia tidak mengenalinya sekalipun, lalu kepada dirinya sendiri agar harapannya bisa kenal siapa dirinya sesungguhnya, "Al-Insaanu Sirriy,, wa Ana SirruHu (Manusia itu Rahasia-Ku dan Aku menjadi Rahasianya)”. Lalu Piso Jalak memejamkan matanya, ia mengatur pernafasannya agar setenang mungkin, ia melakukan hal ini setiap selesai sholat sebagai usaha mencari ketenangan jiwa, tarikan nafasnya selalu berbunyi Laailaaha illallah dan hembusannya Muhammadurrasuulullah, Piso Jalak melakukannya sampai matahari terbit. Dalam alam meditasinya ia melihat gambaran tentang tugas yang akan ia laksanakan, ia melihat Tamzil (gambaran) berupa matahari, bulan dan bumi. 



Minggu 21 Agustus 2016





Fajar menyingsing Piso Jalak menarik nafas dalam-dalam, Tamzil kali ini benar-benar aneh baginya.

“Apa maksud Matahari... Bulan dan Bumi?” Piso Jalak berfikir keras atas petunjuk yang ia dapatkan dari meditasinya. “Biarlah aku tetap menjadi Sifatullah (Ciptaan Allah) yang senantiasa menjalani kehidupan sesuai dengan Af’alullah (cerita yang di kehendaki Allah) sehingga aku bisa menjalani Sirrullah (Rahasia yang disembunyikan Allah) dengan sebaik-baiknya, karena aku yaqin Dazatullah (Allah Swt) tidak akan sia-sia menciptakan segala macam bentuk dan rupa serta watak di dunia ini”

Piso Jalak melanjutkan mandi kemudian memakai pakaian sederhana namun rapi, pagi itu rencana Piso Jalak adalah Penjejakan dan Pengamatan target yang akan ia habisi. Sekitar pikul 08.00 Piso Jalak mulai keluar dari rumah kontrakannya, ia menaiki mini bus menuju Polda di wilayah tersebut, di dalam mobil tersebut ada seorang ibu yang sedang menangis dan menceritakan penderitaannya kepada orang yang berada di sebelahnya, seorang memakai topi putih melingkar menandakan ia seorang yang memiliki pengetahuan agama kususnya agama Islam. 

Ibu itu sembari sesenggukan berkata dalam suara lirih yang terbata-bata, “Pak Ustadz, saya sudah ikhlas apa yang telah dilakukan oleh suami saya, tidak diberi kasih sayang, cinta, pengertian dan nafkah, saya ikhlas pak”. Orang yang disebut sebagai ustadz itupun berkata “Syukurlah, serahkan semuanya kepada Allah, Innallaha ma’asshobiriin, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar, semoga keikhlasan ibu menjadikan Allah semakin mendengar semua doa-doa ibu”. Wanita itu tersenyum, ia seperti mendapat sebuah guryuran air hujan yang menyejukan jiwa, dengan mata berkaca-kaca wanita itu bertanya “Apakah benar saya sudah ikhlas dengan sebenar-benarnya pak ustadz?”, dengan wajah tersenyum lelaki di sampingnya berkata “In Syaa Allah, karena ibu sudah sepenuhnya menyerahkan jalan hidup ibu kepada Allah”. Sang wanita memandang serius kepada lelaki di sampingnya.

“Bagaimana merasakan kenikmatan ikhlas di dalam jiwa pak ustadz?”, Sang lelaki yang disebut sebagai ustadz itupun terdiam, Markas Polda tepat dilewati oleh mini bus tersebut, Piso Jalak memberi isyarat kepada kondektur untuk menghentikan mini bus, dengan santai Piso Jalak berjalan keluar dari mini bus, saat melewati kursi dimana wanita dan lelaki bertopi putih melingkar tersebut Piso Jalak berucap lirih “Saat kata-kata ikhlas masih keluar dari mulut kita, maka ikhlas tersebut belum mencapai derajat tertinggi… karena orang yang mendapatkan Anugerah ikhlas, ia tidak akan bisa mengucapkan atau menggambarkan bagaimana kata ikhlas atau makna ikhlas di dalam hatinya, di bibirnya, bahkan di dalam fikirannya sekalipun, yang ia tahu, seluruh hidupnya milik Allah SWT, sedikit saja ia merasa memiliki keikhlasan, saat itu ia membuktikan jiwanya belum sepenuhnya ikhlas, karena saat manusia mengucapkan kata ikhlas sesungguhnya nafsunyalah yang sedang berkata.” Sang Lelaki dan wanita tersebut menoleh kearah Piso Jalak, terlihat wajah ketidaktahuan wanita tersebut dalam memaknai kata-kata Piso Jalak, namun sang lelaki bertopi putih bulat terlihat sangat kanget dan terperangah, di dalam matanya terlihat betapa saat itu akal, pikiran dan hati sedang melaksanakan rapat penting di dalam jiwa.


Piso Jalak berlalu dari mini bus tersebut, sementara di dalam mini bus tersebut sang ibu dengan keheranan bertanya kepada sang ustadz “Apa maksud dari kata-kala lelaki tadi pak?”, dengan bibir bergetar sang ustadz berkata   “Subhanallah, ada 2 macam jenis manusia yang memegang makna ikhlas tertinggi di dalam kehidupan yaitu jenis manusia Mukhlisin dan Mukhlasin. Mukhlisin yaitu saat seorang hamba melakukan amal perbuatannya melalui segala bentuk upaya sampai bisa ikhlas benar di bibirnya tidak akan terucap kata ikhlas, ia menyimpannya di dalam hati dan hanya Allah SWT saja yang berhaq mengetahuinya, lalu yang kedua  jenis Mukhlasin yaitu seorang hamba yang di dalam melakukan amalnya tidak mencari ikhlas karena ikhlasnya sudah ditinggalkan jauh-jauh, hal tersebut karena  ia ikhlas dari wacana dan kata-kata ikhlas itu sendiri. Ia bebas dari belenggu psikologis ikhlas, dia tidak mau mengakui bahwa ia memiliki makna ikhlas, yang terpenting baginya adalah bisa total karena Allah,ia sudah tidak memikirkan mempunyai amal kebajikan walaupun ia melakukannya, semua yang ada dalam fikirannya adalah jiwa raga adalah milik sang Kholiq, lalu bagaimana mungkin jiwa yang di miliki oleh Sang Pencipta mengakui kepemilikan amal kebajikan tersebut, Allahu Akbar” . Mata sang ustadz tiba-tiba memerah dan mengeluarkan air mata “Maka di dalam SURAT AL IKHLAS kita tidak menemui kata ikhlas sama sekali yang ada adalah pengakuan seutuh-utuhnya tentang ke Esa an Allah yang menjadi tempat bergantung manusia, lelaki tadi cenderung berkata tentang makna jenis manusia kedua yaitu Muhlasin” sang wanita yang tambah bingung mencoba melihat ke luar mini bus dimana terlihat jelas Piso Jalak berjalan dengan tenang dan diiringi oleh langkah kaki yang mantap menuju suatu tempat. 


Kamis 27 Oktober 2016


Di depan penjagaan Polda, Piso Jalak pun bertanya kepada petugas piket, “Selamat pagi pak, Maaf, saya mau bertemu AKP Satria Samudera”  Petugas piket memandang Piso Jalak dengan ramah, terlihat jawaban yang lembut tetapi tegas “Maaf bapak dari mana dan ada keperluan apa?” dengan tenang Piso Jalak menjawab “Nama saya Adri pak, saya ada keperluan dengan Bapak AKP Satria Samudera”.  Seorang petugas yang lain mendekati Piso Jalak seraya berkata “Apa bapak tidak tahu, 1 minggu yang lalu orang yang bapak cari di mutasi ke daerah terpencil di pulau seberang”.  Piso Jalak tertunduk, ia kelihatan sekali berfikir keras, ditengadahkannya kembali wajahnya sambil berkata ”Kalau boleh tahu ke daerah mana pak?” Mata Piso Jalak sempat melihat raut wajah kedua petugas itu terlihat sedih, dengan menarik nafas yang dalam salah seorang petugas berkata  “Beliau di pindahkan ke wilayah terpencil menjadi seorang Kapolsek, kalau tidak salah namanya Kecamatan Suka Damai, hmmmm beliau adalah orang yang ramah namun tegas, budi pekertinya disini terkenal sebagai suri tauladan, semua pimpinan ataupun bawahan amat suka kepadanya, namun…..”  Sang Petugas menghentikan keterangannya setelah salah seorang rekannya mencolek dirinya. Lalu ia melanjutkan cerita “Ya sudahlah, hanya itu yang bisa kami bantu, apakah ada hal lain yang mungkin bisa kami bantu pak?” , Piso Jalak tersenyum, “Tidak ada pak, terima kasih, saya permisi”  

Piso Jalak membalikkan tubuhnya setelah membungkuk memberi hormat, selanjutnya ia berjalan tenang meninggalkan pos penjagaaan, telinganya yang tajam sempat mendengar seorang petugas yang mencolek rekannya berkata “Jangan memberikan keterangan terlalu dalam, kan kita belum tahu siapa orang itu”  Rekannya menjawab dengan ketus, “Laah memangnya kenapa, pak Satria kan di mutasi gara-gara menangkap bandar Narkoba, bahkan gembong kejahatan di negara kita”.  Sang rekan kembali menimpal dengan lebih sengit “Kita ini bawahan, jangan banyak mengoreksi kebijakan atasan, ilmu kita belum sampai kesana!”  Sang rekan semakin ketus menjawab “Bicaramu itu sudah seperti Jenderal aja!”.

Piso Jalak tersenyum mendengarnya lalu ia memberhentikan sebuah mobil angkot, di dalam fikirannya berfikir “Satria Samudera, nampaknya dirimu orang baik-baik, namun apa peduliku, aku adalah seorang pembunuh, jadi aku hanya melaksanakan tugas dari orang yang membayarku, hmmmm (Piso Jalak kembali teringat hasil tafakkurnya tadi pagi) Matahari…. Bumi… bulan… apa maksud makna itu, selama ini aku selalu mendapatkan petunjuk berhasil atau tidak dalam menjalankan tugas… apa maksud dari bayangan itu..?” 


Jumat 28 Oktober 2016


Tiba-tiba gerahamnya menggeretak, “Aku tidak peduli, mau orang baik, mau orang jahat bagiku sama saja, toh aku sudah merasakan betapa seorang petugas bersikap kejam kepada tahanan, itu sudah ku rasakan bertahun-tahun sewaktu di penjara.”  Mata Piso Jalak meredup, ia teringat saat ia berhasil meloloskan diri dari penjara. Dalam pelariannya, Piso Jalak tidak memperdulikan kemana arah dan tujuan, yang ada di benaknya hanya bersembunyi dari kejaran Polisi. Tak terasa sampailah ia di sebuah desa terpencil pinggiran hutan belantara, ia melewati sungai yang panjang sekali dengan berhiaskan bebatuan yang besar dan berserakan tidak beraturan, Mata Piso Jalak tertegun melihat sesosok tubuh manusia di atas sebuah batu besar yang datar, nampak seorang kakek tua berwajah bersih sedang melakukan gerakan-gerakan yang sepertinya pernah ia lihat.

Piso Jalak menghampiri sosok tersebut sembari berharap siapa tahu ada bahan makanan yang bisa menjadi ganjal untuk hari ini hingga malam nanti, bila orang tersebut tidak mau memberikan Piso Jalak sudah meniatkan untuk mengambilnya secara paksa. Saat Piso Jalak sampai di pinggir batu besar tersebut ia melihat kakek tua menoleh kekanan dan ke kiri sembari berucap “Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh” dua kali. Piso Jalak yang tak asing mendengar salam tersebut pun menjawab “Wa’alaikumussalaam” , kakek tersebut mengusap wajahnya dengan kedua tangan miliknya,  ia menoleh sambil tersenyum. “Silahkan mendekat anak muda” , Piso Jalak pun naik ke atas batu yang ternyata cukup nyaman ia duduki, selanjutnya ia bersila di depan orang tua itu. Nampak sekali wajah tenang, damai dan bersinar, walau wajah itu sudah memasuki usia renta, pancaran matanya nampak bagaikan lentera di kegelapan, sungguh Piso Jalak tertegun melihat orang tua di depannya. Piso Jalak yang sudah menguasai ilmu penipuan yang ia dapatkan dalam penjarapun mulai berkata, “Perkenalkan Nama saya Adri kek, saya kesini mendapatkan petunjuk bertemu dengan orang baik, mungkin yang di maksud dalam petunjuk saya adalah kakek”.

Sang orang tuapun tersenyum, lalu diambilnya kendi di sampingnya kemudian di berikan kepada Piso Jalak, “Minumlah anak muda, kakek lihat dirimu sangat letih dan lelah”. Piso Jalak terkejut melihat keramahan orang tua tersebut, lalu iapun mengambil kendi kecil dari tangan kakek tersebut dan menengguknya tanpa berdoa sebelumnya, dalam hati Piso Jalak ia berniat untuk menghabiskan air di dalam kendi tersebut, Piso Jalak merasakan betapa air dalam kendi yang ia teguk sangat dingin dan luar biasa nikmatnya, tanpa ia sadari bayak sekali air yang sebenarnya ia minum, namun isi kendi seakan-akan tidak berkurang sedikitpun, lagi-lagi Piso Jalak sempat melirik orang tua tersebut tersenyum, lalu Piso Jalak menghentikan meminum air dalam kendi tersebut dan memberikannya kepada kakek tua di hadapannya, Kakek itupun berkata “Maaf siapa nama anak tadi ? dan anak orang mana? Kakek sepertinya belum pernah melihat anak?”. Piso Jalak pun menjawab “Saya Adri Kek, seperti yang saya katakan kek, saya datang kesini atas petunjuk”.

 Laki-laki tua itu memandangi wajah Piso Jalak dengan tatapan wajah yang menggambarkan betapa luasnya kasih sayang yang dimiliki oleh kakek itu, “Petunjuk dari siapa nak? Dan kenapa kalau anak memenuhi petunjuk tersebut harus memakai nama samaran?”. Mata Piso Jalak sempat sedikit membesar menahan kaget, ia tidak menyangka akan ada pertanyaan seperti itu, tersirat seolah-olah sang kakek tahu sedang ia bohongi, dengan terbata-bata Piso Jalakpun menjawab “Da… da… dari mimpi saya kek, yaah dari mimpi saya, dan nama sa..saya Adri kek, yah Adri!!”. Orang tua itupun menjawab “Yaa sudahlah, nama saya ALIM, orang sekitar sini memanggil saya dengan sebutan mbah Alim” . Piso Jalak mangguk-mangguk walaupun ia belum mengerti kenapa ia harus melakukan itu. Tak Lama Piso Jalakpun berkata “Maaf kek, apakah kakek mempunyai perbekalan makanan, saya lapar sekali.”  Tak henti-hentinya Piso Jalak terkagum-kagum saat melihat kakek tersebut tersenyum setiap kali hendak menjawab setiap pertanyaannya, Orang tua renta itu membuka bungkusan kain yang ternyata isinya 5 buah pisang gadis yang besarnya hanya seibu jari orang dewasa, Piso Jalakpun berguman dalam hati “Hmmm , bagaimana aku akan kenyang bila makan Pisang sekecil itu”.

Sang kakekpun berkata “Aku akan memberikannya dengan 1 syarat nak”, “Apakah itu kek??” jawab Piso Jalak. Kakek itu mengupas 1 buah pisang kemudian diberikan kepada Piso Jalak, “Sebelum makan pisang ini maukah engkau membaca Bismillahirrahmaanirrahiim??” Piso Jalak pun menerima pisang tersebut sambil mengangguk tanda ia setuju, selanjutnya Piso Jalak membaca BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM, kemudian memakan buah pisang tersebut. Dahi Piso Jalak tiba-tiba mengkerut yang menandakan betapa ia sedang berfikir keras, betapa tidak, di dalam penjara makan 3 piringpun bisa ia habiskan, namun 1 buah pisang ini sudah membuatnya sangat kenyang. Sambil melirik kakek tua tersebut Piso Jalak mendengar kakek itu berkata “Ucapkanlah Alhamdulillah, anak muda!” Piso Jalakpun tanpa sadar mengikuti kalimat hamdalah tersebut. 

Sabtu 05 November 2016



“Maaf kek, tadi saya melihat kakek melakukan sebuah kegiatan, saya tahu itu adalah gerakan Sholat, apakah benar kek?”  Piso Jalak terlihat hati-hati dalam bertanya karena di dalam hatinya ia takut keceplosan kalau di dalam Penjara pun banyak penghuninya yang melaksanakan ibadah tersebut.

Lagi-lagi senyum manis kembali menghiasi bibir sang kakek, “Anak muda, benar adanyanya apa yang anak katakan, tadi kakek baru melaksanakan ibadah sholat, sholat dari makna syariat sebagai kewajiban seorang hamba dan setelah sholat kita harus mendirikan sholat dalam arti melaksanakan nilai-nilai yang ada pada ibadah sholat tersebut”. Piso Jalak terlihat sedikit tidak mengerti, kenapa dibedakan melaksanakan dan mendirikan sholat, mengapa berbeda. Isi otak Piso Jalak yang terpenting adalah mencari tempat yang ia jadikan persembunyian, jadi ia harus banyak menyimpan kesalahan baik dalam berbicara ataupunberbuat, itu demi keselamatan dirinya sendiri.

“Sudahlah anak muda, bila dirimu ingin mengetahui makna sholat nak Adri bisa tinggal di gubuk saya, namun ada syarat yang harus anak lakukan!” , Sang kakek menatap wajah Piso Jalak dengan tajam. Piso Jalak terperanjat melihat tatapan tajam orang tua di depannya, tajam, luas dan menyimpan banyak pemikiran yang tak sanggup ia gambarkan, “Aa..a..apa itu kek?” . Sang Kakek memegang pundak Piso Jalak sembari sentengan berbisik “Jujurlah!” , Piso Jalak semakin gugup “Apa maksud kakek?” , Senyum kali ini seperti memiliki daya hipnotis yang merasuk ke dalam jiwa Piso Jalak “Jujurlah!”. Piso Jalak tertunduk, lalu dengan lirih ia berkata “Baiklah kek, nama saya Piso Jalak, saya baru melarikan diri dari penjara, saya adalah terpidana mati, namun saya tidak menginginkan mati sebagai seorang tahanan, saya ingin dijemput oleh kematian namun dalam keadaan terhormat”.

Sang kakek tersenyum, “Anak muda, setiap yang bernama malam aka nada masa puncaknya, pasti akan bertemu pagi bila saja kita mau menjalaninya dan bersabar serta berusaha mencari pagi tersebut, tinggalah bersama kakek tiga hari, lalu kakek akan mengantarkan dirimu ke sebuat tempat dimana pagi akan dirimu temui.” . Mata Piso Jalak berkaca-kaca, letih dalam pelarian yang tidak memiliki arah dan tujuan, kini terasa teduh saat ada seseorang yang tetap menerimanya walau ia adalah seorang pelarian.

Lamunan Piso Jalak terhenti saat kernet angkot memberitahukan penumpang bahwa tujuan pasar sudah sampai, sembari meminta ongkos penumpang sang kernet mulai menghimbau apakah ada barang yang tertinggal. Setelah membayar Piso Jalak turun dari angkot dan berjalan menuju warung kopi, ia memesan segelas kopi panas, yaah dengan kopi panas itu tentunya segala pikiran akan segera tenang. Dengan duduk santai di pojokan warung kopi Piso Jalak teringat kembali bagaimana tiga hari ia berada di rumah sang kakek.

Hari menjelang magrib Piso Jalak dan sang kakek tiba di sebuah rumah yang kesemuanya dari bahan alam, kayu dan bambu sebagai bahan utama ornament rumah sederahana itu, halaman kanan dan kiri dipenuhi tanaman sayur-sayuran, belakang rumah terdapat kolam ikan dan di atas kolam tersebut terdapat surau atau mushola yang terbuat dari bambu juga. “Mandilah Piso Jalak, dang anti bajumu, kakek masih memiliki persediaan baju yang In Syaa Allah sesuai dengan bentuk tubuhmu”. Piso Jalak menuruti perintah sang kakek, Magrib itu Piso Jalak merasakan betapa nikmatnya sholat magrib dengan mengimam pada seorang kakek yang ramah, Sang kakek terlihat lebih mengutamakan tamu daripada amalan maqomi, karena terlihat setelah sholat Magrib sang kakek tidak melanjutkan dzikir yang lama, ia langsung mempersiapkan makan malam, itu dilakukan sendiri, Piso Jalak ikut membantunya sembari bertanya “Kakek tinggal sendiri?” , Sang kakek hanya menjawab dengan tersenyum. Setelah makan malam mereka berdua terlihat ngopi di bangku terbuat dari bambu di teras depan rumah sambil menunggu waktu sholat isya. Saat itulah sang kakek berkata “Nak Piso, nama kakek Syajaratul Yaqin, tapi nama itu terlihat terlalu tinggi hehhehe, karena dirimu sudah jujur maka kakekpun harus jujur”.

Sambil memandang segelas kopi yang panas sang kakek berkata “Kopi aslinya pahit nak Piso, ini bagaikan gambaran kehidupan kita yang selalu bertemu dengan kesulitan, masalah dan yang lainnya, maka dengan air panas yang maknanya adalah kerja keras dan ikhtiar dan kita beri gula yang maknanya adalah rasa syukur maka kita bisa menikmatinya, kalau kakek gambarkan dengan bahasa jawa KOPI itu tegese saking kata KOpyor PIkirane… maka rosone pahit, namun pahitnya kopi masih bisa dibikin LEGI … legi itu Legowo ning ati… jadi walau kehidupan yang sesulit apapun bila hati kita selalu menerimanya itulah mengapa harus diikhtiarkan dengan memberinya GULO yang bermakna Gulangane Roso …. maksudnya adalah kita bisa mengendalikan rasa itu, rasa tidak puas, rasa kecewa dan lainnya… mengapa demikian karena gulo kui asale soko TEBU … yang artinya anTEB ning qolbU … pengendalian saja akan rapuh bila tidak diberi pondasi kemantebpan lan keyakinan, nah sudah itu kita wadahi nang CANGKIR dengan makna NyanCANGne piKIR bila sudah manteb di dalam hati maka kita akan bisa mengarahkan alam fikiran kita… maka disiram WEDAN atau WEjangane sing marahi paDANG … maksudnya adalah nasehat-nasehat untuk kebaikan… dalam Surat Al Asr Demi Masa kita akan merugi bila salah satunya tidak mendapatkan nasehat tentang kebaikan … lalu di UDHEG yang maknanya UsaHane ojo nganti mandEG … ya kita harus memiliki sifat tawakal dalam menjalani kehidupan yang kita jalani … nah ngudhegnya itu usahakan pakai SENDOK yang maknanya SENdeko marang sing duwe ponDOK … nah pondok ini maksudnya dunia … jadi kita harus pasrah kepada Sang Penguasa Jagad… lalu tunggu rodo ADEM yang maknanya Ati Digowo lerEM yaitu hati kita kita bawa ke dalam damai … nah baru kita bisa SERUPUT atau Sedoyo Rubedo bakal luput maknanya segala sesuatu masalah, perbedaan atau yang lainnya akan segera hilang”.


Piso Jalak tersenyum memandang kopi di hadapannya, namun matanya terlihat berkaca-kaca, di warung kopi ini Piso Jalak kembali merasakan kerinduan kepada Gurunya Syajaratul Yaqin, seorang tua yang mengajarkannya makna-makna kehidupan. 


Minggu 06 November 2016

Saat asyik dalam kenangan Piso Jalak dikagetkan dengan sebuah sapaan lembut “Mas Adri, kok ada disini?’  terlihat seorang wanita berjilbab tersenyum manis. Piso Jalak sempat mengenyitkan dahinya seakan berfikir siapa wanita tersebut, mata tajam Piso Jalak tetap bekerja sesuai dengan kebiasaan, namun sang wanita bukannya takut, ia justru semakin mendekat, “Saya Ria mas, masa panjenengan lupa?”  kali ini mata Piso Jalak melotot kaget, kemudian mata tersebut menjadi lembut saat memandang, Piso Jalak sampai Pangling kepada wanita tersebut, yaah wanita tersebut Piso Jalak kenal dari sebuah Café di Kota dimana Piso Jalak sering menghabiskan waktu malamnya dengan melihat gemerlap syurga dunia yang semu. Piso Jalak mulai tersenyum “Mbak Ria mau kemana dan dari mana?” . Hati Ria amat tersentak melihat keramahan Piso Jalak, ia tahu betapa orang yang sebenarnya ia kenal tersebut adalah sosok monster yang tak mengenal belas kasihan kepada musuh-musuhnya, namun senyum itu justru bagaikan ribuan tetes embut yang bisa membasuh wajah yang berdebu. Dengan rileks  Ria menjawab “Rumah saya tidakjauh dari sini mas, oh iya, ini kebetulan warung saya mas, saya sudah berhenti satu minggu ini dari pekerjaan yang lama”.  Tanpa sengaja di dalam hati Piso Jalak berucap Alhamdulillah, lalu Piso Jalak menggeser tempatnya duduk terlihat Piso Jalak sedang member ruang kepada Ria untuk duduk.

“Oh iya, syukurlah bila ini warung mbak Ria, sepertinya saya duduk disini dari tadi banyak sekali yang sudah singgah disini, tuan rumah disinipun ramah sekali”.  Piso Jalak menjawab dengan nada yang sengaja ia sembunyikan bahwa sebenarnya ia bersyukur atas berubahnya sikap dan pekerjaan Ria, namun Piso Jalak mengalihkannya kepada keadaan warung. Riapun tersenyum “Alhamdulillah mas, itu yang jaga adik saya mas, cantik nggak?”, Piso Jalak tidak menyangka aka nada pertanyaan yang tidak ia duga, wajahnya memrah menahan malu, sambil membuang muka Piso Jalak tanpa sengaja menghirup kopi yang masih panas sehingga terlihat sekali bahwa Piso Jalak benar-benar gugup. Ria semakin menahan senyum, sungguh ia tidak menyangka bisa mengajak Piso Jalak bercanda. “Sudilah kiranya mas mau mampir ke gubuk saya di seberang jalan sana mas, yang itu tuh!!”,  Ria menunjuk rumah diseberang jalan berjarak sekitar 70 meter. Piso Jalak berusaha menahan gugupnya, namun lagi-lagi ia gagal “I.. iya.. iya..mbak”.  Riapun memandang adiknya di ruangan kasir “Dik, mbak pulang dulu ya, nggak jadi tungguin warung, mbak ada tamu teman lama nih!”  ucap Ria sambil ternyum manis, sang adik justru membalasnya dengan senyuman yang lebih manis “Ehem-ehemmmm yeni ntar lagi punya abang nih hihihihi” . Piso Jalak yang saat itu sedang meminum kopi tiba-tiba terbatuk, beberapa tetes kopi membasahi dagu dan dadanya, melihat itu sang adik yang bernama Yeni justu berlari mendekat sambil mengantar kertas tissue “Maaf bang, adik keceplosan”.  Piso Jalak berdiri namun ia tersunyum “Sudah, sudah dik, abang tadi sepertinya tidak sengaja meminum kopi yang masih kasar, jadi terbatuk”. , dengan santai Piso Jalak mengambil tissue tersebut lalu mengusap dagunya yang basah.


Riapun merengut sambil mencubit adiknya “iiihhh jangan nakal ya, cepet minta maaf sama mas Adri!!” . Yeni sambil meringis kesakitan meminta maaf kepada Piso Jlaak “Maaf bang ya, Yeni tadi nggak sengaja, sueer.”  Terlihat tangan kanannya diangkat sembari memperlihatkan dua jarinya tengah dan telunjuk. Piso Jalak kembali tersenyum sungguh ia merasakan ada kebahagiaan di kakak dan adik tersebut. “Sudahlah dik Yeni, tidak apa-apa kok, oh iya berapa harga kopinya?”.  Riapun menatap Piso Jalak sesaat lalu dengan tersenyum ia mengajak Piso Jalak ke rumahnya, “Sudah mas Adri, Ria hari ini yang traktir hehhee, ayo buruan kita ke rumah”. Piso Jalak mengucapkan terima kasih lalu mengikuti Ria, hatinya teringat pesan sang Guru, bahwa membahagiakan orang lain itu justru akan menjadikan jiwa kita bahagia pula. Hanya butuh waktu 5 menit mereka berdua sampai ke rumah sederhana namun sangat terlihat nyaman, Piso Jalak dipersilahkan duduk di ruang tamu,lalu sang tuan rumah masuk ke dapur, ingin rasanya Piso Jalak melarang untuk repot-repot, namun Piso Jalak mengurungkannya, saat tuan rumah sedang di ruangan belakang Piso Jalak terlihat memperhatikan foto-foto yang ada di ruangan tersebut. 

Rabu 22 Maret 2017


Mata Piso Jalak amat jeli memperhatikan wajah Ria diantara foto-foto sekelompok wanita berbusana muslimah, ada yang di tempat pengajian ataupun di masjid atau mushola, luar biasa, Ria yang ia kenal sebagai wanita terseksi di Café tempatnya menongkrong kini menjadi bidadari yang cantik jelita. Siapapun manusia yang sering datang ke Café tempat Ria bekerja maka pasti akan mengenal siapa Ria, gadis yang ramah dan cantik, para pelangganpun amat sopan bila ingin mengajaknya kencan, yaah rata-rata pelanggan akan mengeluarkan kocek yang tidak sedikit walau sebenarnya Ria adalah Pramuria tanpa menentukan tarif, akan tetapi kesopanan yang ia tujukan justru membuatnya menjadi orang yang memiliki nilai tinggi.

Sampai suatu malam menjelang hari Raya Idul Fitri, Café ditutup sementara, saat itu Ria ingin pulang namun tidak ada teman sehingga saat itu Ria sempat digoda oleh tiga orang pelanggan baru yang mabuk berat dan memaksa pemilik Café untuk menambah jam buka lalu memaksa Ria untuk menemani dan melayani mereka bertiga. Sebenarnya saat itu Piso Jalak sedang tidak ingin ikut campur, walau terlihat Ria diseret bahkan dijambak oleh salah seorang diantara tiga orang yang sedang mabuk berat tersebut.Terdengar rintihan  Ria yang memohon belas kasihan, namun ketiga manusia yang sudah dipenuhi oleh nafsu binatang justru menjadikan irama tangisan Ria sebagai bahan gelak tawa mereka. Piso Jalak yang sudah berada di pintu keluar sempat melirik pemilik Café yang wajahnya terlihat sangat cemas melihat perlakuan tiga orang tersebut terhadap Ria. 


Sang Pemilik Café sebenarnya ingin meminta bantuan Piso Jalak namun wajahnya terlihat sangat ragu-ragu, Piso Jalak tanpa menghiraukan itu semua akhirnya mendekati pintu keluar sampai akhirnya terdengar rintihan Ria, “Demi Tuhan yang menciptakan seorang ibu, apakah kalian semua tidak kasihan melihat ibu kalian melahirkan anak yang memiliki sifat bagai Iblis!!”.  Ketiga orang yang terjerat syurga Alkohol bukannya marah namun semakin tertawa lebar-lebar, salah seorang dari mereka bahkan menjambak rambut Ria seraya berkata “Kami semua memang lahir dari rahim seorang ibu, namun ibu kami bukan pelacur seperti dirimu, kalaupun ibu kami menjadi pelacur pasti sudah kami bakar hidup-hidup, karena itu pantas dilakukan seorang anak terhadap seorang ibu yang pekerjaannya adalah pelacur!!.  Darah Piso Jalak seketika mendidih mendengar perkataan lelaki tersebut, ia teringat bagaimana ibunya terbakar hidup-hidup akibat kenakalannya, Tangan kanan Piso Jalak secara reflek menyambar gelas kecil di meja kasir lalu secepat kilat ia kibaskan kearah lelaki yang menjambak Ria, gelas kecil berkecepatan laksana peluru itu mendarat renyah di atas telinga kiri lelaki yang sedang menjambak Ria. TARRR Gelas kecil itupun pecah lalu terlihat semburan darah dari atas telinga kiri orang yang menjadi sasaran gelas.


BERSAMBUNG (TO BE CONTINU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar