Rabu, 24 Januari 2018

PISO JALAK BAGIAN 2

Situasi yang hening tersebut terpecahkan oleh suara Piso Jalak yang berat dan mantap “Bagaimanapun kalian adalah caraka, maka ku hormati kalian karena sedang mengemban suatu perintah.” Kemudian Piso Jalak menekan tobol pelepas magazen dengan ibu jari tangan kanannya, terdengar sebuah suara “Klik” tiba-tiba magazen pistol FN tersebut terlepas ke bawah, dengan telunjuk tangan kiri Piso Jalak mendorong ke depan kunci penahan silinder pistol Revolver sehingga bagian pistol grip dan silender meregang, tangan kiri Piso Jalak diangkat ke atas selanjutnya secara otomatis 6 butir munisi caliber .38 berjatuhan ke tanah. Piso Jalak berdiri lalu berjalan menuju jalan yang sepi, tiga langkah berlalu dari Herman dan Andi, Piso Jalak membuang kedua pistol itu ke kanan dan ke kiri nya seraya berkata “ Besi buruk ini belum layak kalian pegang, berhati-hatilah menggunakannya karena hampir saja kalian merasakan bagaimana bahayanya kedua benda tersebut pada diri kalian tadi”. Herman dan Andi melihat Piso Jalak remang-remang menghilang di kegelapan malam, mereka berdua menghirup nafas yang panjang sekali, terlihat betapa wajah mereka berdua menemukan kebebasan yang amat besar, lalu masing-masing memungut kembali munisi yang berserakan di sekitar mereka, lalu berjalan memungut pistol masing-masing, keduanya masih tampak berdiam diri tanpa ingin saling bersapa, mereka larut dalam olah fikir jiwa yang bertanya dan berjawab sendiri. Herman melirik Andi dan berkata, “ Ayo!! Kita kembali” Andi tidak menjawab, dia hanya mengarahkan tubuhnya ke arah mobil mereka, mobil berbunyi dan meninggalkan area parkiran tersebut, remang, dingin, sepi, namun disana masih tertinggal dua jiwa yang merenungi kejadian yang baru saja mereka alami walau jasad mereka sudah meninggalkan jauh parkiran tersebut.

Sesampainya di rumah sang bos, keduanya menghadap, nampak seorang tua yang bertubuh terawat duduk di kursi yang besar sekali, minuman keras untuk penghangat badan terlihat di depannya, rokok besar berpipa gading gajah dengan ukiran naga terlihat indah dipandang mata. Di jarinya nampak cincin yang mewah, emas putih dihiasi permata dan bermata batu Mustika berwarna hijau bergambarkan awan, dengan santai orang tersebut berkata, “Kenapa kalian berdua, wajah kalian lusuh, dan nampak sekali kalian merasakan suatu sakit??” keduanya menunduk, lalu Herman berkata, “ Tugas telah kami laksanakan Boss, kami sudah bertemu langsung dengan Piso Jalak.” Laki-kaki tersebut tidak menjawab, ia hanya meminum setengguk minuman yang terlihat mahal tersebut. Herman berkata, “Maaf Bos, kami sebenarnya ada sedikit kesalah fahaman dengan Piso Jalak.” Orang yang dipanggil Bos itu melirik kedua anak buahnya, dengan suara datar ia bertanya : “Lalu ??” Herman menjawab, “Kami sadar, ternyata bos memang tidak salah dalam memilih orang.” Lelaki tua itu berdiri seraya berkata “ Hahahahaha, kalian belum melihat semuanya, kalian belum tahu betapa darah harus keluar secara paksa dari tubuh manusia, bila manusia itu bertemu dengan Piso Jalak.” Laki-laki tua itu memandang lukisan abstrak di dinding ruangannya yang menggambarkan keangkeran malam. Fikirannya kembali jernih saat mengingat bagaimana sahabatnya menelfon dirinya dengan nada yang amat ketakukan.

“Halooo sahabatku, tolong aku, dimana dirimu, tolong aku” sebuah suara dengan ketakutan yang amat sangat saat itu memekakan telinganya, ia menjawab “ Kenapa Tuan Kara?? Ada apa dengan diri mu??”  Suara dalam Hp tersebut berkata “Aku sedang menyelamatkan diri dari kejaran si Piso Jalak!! Anak buah ku sudah 5 yang dilumpuhkan oleh nya.” Ia pun menjawab “ Siapa Piso Jalak???? Siapa itu Piso Jalak??? Aku belum pernah mendengar namanya???” : ”Sudahlah, aku minta tolong kirim bantuan, aku menuju markas rahasia kita di titik dua tujuh, sekarang juga sahabat ku !!!, aku membutuhkan pertolongan mu, Jauhkan aku dari titisan iblis kegelapan Piso Jalak!!!!!” tuutt..tuuut..tuuuut, suara  Hp pun terputus, sang lelaki tua berteriak “Tuan Karaaaa!!! Halooo…. Halooo…halooo”. Hp pun di banting olehnya sembari mengumpat  “Kunyuuuuukkk!!! (ia mengepalkan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bungi menggemeretak) Agus!!!! Subarjo!!! Tino!!! Bastian!!! Kardi!!! Kalian ikut saya sekarang juga!!!  cepat!!! bawa senjata kalian masing-masing!!! Jangan lupa bawa laras panjang AK 47 juga, Cepaaaaaattt!!!!!” Orang-orang yang dipanggil tersebut dengan sigap berlarian menyiapkan perlengkapan, hanya dengan hitungan menit mereka berenam sudah menaiki mobil Terano warna hitam dan melaju kencang keluar dari rumah yang sebenarnya mirip dengan benteng istana-istana zaman kerajaan terdahulu.


Sesampainya di markas rahasia yang mereka sebut dengan titik dua tujuh tersebut sang lelaki yang selalu di panggil Bos tersebut terkesima, ia melihat 2 orang anak buah sahabatnya sudah keadaan merintih kesakitan tergeletak si pinggir jalan masuk gerbang markas rahasia tersebut, “Cepaaaaaaattt Barjooooo!!!!” Bentak sang Bos. Subarjo yang mendapat perintah langsung menginjang gas mobil Terano tersebut lebih dalam lagi. Tepat di halaman rumah yang laksana villa tersebut mobil Terano berhenti mendadak dengan suara rem mendecit, asap terlihat keluar dari ke empat ban yang bergesekan dengan aspal hotmik di area tersebut. Keenam penumpang langsung turun, mereka langsung mengokang senjata masing-masing, krak-krak, krak-krak, terlihat mata sang pemegang senjata sangat tajam dan haus darah, sementara sang bos menggenggam 2 pucuk pistol jenis Smith & Wesson 357 Magnum .38, nampak sang Bos saat itu terlihat seperti Cowboy karena Revolver jenis ini ber munisikan 6 butir dan berlaras panjang, dengan menggenggam 2 pucuk berarti ia berkesempatan untuk menembakan sebanyak 12 kali tembakan.

Senin, 22 Januari 2018

PISO JALAK BAGIAN 1

Jam dinding sudah menunjukan pukul 23.50 Wib tanda waktu semakin larut, di sudut ruangan bertaburkan cahaya gemerlap dengan iringan musik yang keras dan berirama tidak karuan sebagai ciri khas sebuah tempat hiburan malam, CAFÉ FLAMBOYAN yang terletak di pinggiran kota besar itu ternyata masih bisa menarik pelanggan dari berbagai tempat di kota itu. Satu meja dengan 4 kursi nampak terlihat di sudut ruangan itu, seseorang asyik menikmati kesendiriannya, di bibirnya terlihat rokok yang tidak dihidupkan sama sekali oleh pemiliknya, terlihat rokok tersebut hanya sekedar hiasan di bibirnya, 1 botol minuman beralkoholpun ada di mejanya, namun terlihat isi botol tidak berkurang sama sekali, menunjukan ia hanya menggugurkan kewajiban sebagai pengunjung yang duduk di cafe tersebut. 

Tiba-tiba dua orang pramuria mendekati orang tersebut, salah satunya berkata “ Kok sendirian bang, bolehkah kami menemani abang?”, orang yang ditanya bukannya menjawab, ia justru semakin tajam melihat penyanyi di bagian depan café tersebut, sungguh seolah-olah tidak ada orang yang sedang mengajaknya berbicara. Salah satu wanita mencibir sambil meninggalkan orang tersebut “Iiiihhhhh nyebelin kalau tidak punya uang bilang aja, jangan diem kayak gitu !!!”,  lalu kedua wanita tersebut berjalan mendekati seniornya di ujung ruang lainnya, “Mbak, siapa sih laki-laki yang di pojok itu?? Sombong amat!!”. Wanita yang sudah dianggap senior di Café situ menjawab dengan mata melotot “Astaga, dasar orang baru, pasti kalian belum tahu dia ya, beruntung dia tidak marah kepada kalian, nih mbak kasih tahu sama kalian, dia tuh adalah seseorang yang sudah beku hatinya, sudah membatu karena kesedihan, sudah menghitam hatinya karena kejahatan, ia milik para iblis yang berkedok manusia, tangannya bayak berlumuran darah manusia-manusia yang sebenarnya tidak ia kenal sama sekali” sambil menjelaskan wanita itu beberapa kali menghela nafasnya, ia teringat bagaimana tangan kokoh orang tersebut pernah menahan sebuah tamparan lelaki yang menjadi pelanggannya saat itu, maka sambil menunduk wanita itu berbisik tanpa sadar “ Namun mbak yakin, dia orang baik ” , 2 wanita yang baru tersebut menjadi bingung melihat seniornya yang seperti berbicara sendiri.

Tak berselang beberapa lama munculah dua orang mendekati sudut ruang yang diduduki oleh orang aneh itu, seseorang diantaranya berkata,  Maaf, apakah anda yang bernama PISO JALAK perkenalkan saya Herman dan ini teman saya Andi” seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, orang berjaket berwarna hitam yang memiliki sepasang mata tajam, kulit sawo matang, berkumis tipis melintang serta berambut ikal gondrong tersebut hanya diam saja, ia justru seperti serius melihat nyanyian penyanyi di Café tersebut. Melihat sikap Piso Jalak yang cuek teman Herman yang bernama Andi terlihat menahan marah, ia maju mendekati PisoJalak namun dihalangi oleh Herman, Hermanpun berkata “Sesuai dengan perintah BOS BESAR saya datang untuk mengantarkan uang sebesar Rp. 100 Juta sebagai uang pangkalnya, sisanya setelah tugas selesai anda laksanakan, map ini berisi target yang harus anda lenyapkan, saya permisi!!!” Herman dan Andi lalu beranjak pergi meninggalkan orang tersebut, namun naas tangannya tersenggol seorang pramuria hingga minuman yang ada di baki pramuria tersebut terjatuh, minuman yang ada di gelas tersebut tumpah mengenai jaket lengan kiri orang yang disebut sebagai Piso Jalak tersebut. Terlihat sekali betapa perempuan itu menunjukan wajah yang sangat menahan rasa takut sedalam-dalamnya. Herman dan Andi tak ambil pusing, kemudian mereka berlalu menuju pintu keluar café tesebut. 

Di luar Café Andi berkata kepada Herman, “Bang, wajah perempuan tadi terlihat sangat ketakutan, dia takut kepada kita atau kepada si Piso Jalak itu bang?” Herman dengan santai menjawab “Mungkin yang ia takuti ya si Piso Jalak itu, ternyata bos besar kita salah memilih orang, Piso Jalak hanya sebuah nama yang kita kira sangar, tidak tahunya hanya di takuti oleh seorang wanita, ha ha ha ”. Sontak Andipun ikut tertawa sembari berkata, “Coba abang tidak cegah saya, pasti tadi dia sudah saya beri pelajaran bang.” Hermanpun berkata “Aaahh sudahlah, kita berdua ini adalah orang pilihan bos, sudah lama dan banyak orang-orang yang kita bantai, entah kenapa justru dalam tugas itu bukan kita yang bos pilih, apa sih kehebatan si Piso Jalak itu??” Sampailah kedua orang tersebut ke mobil mereka yang terpakir di pojok parkiran yang sunyi, tiba-tiba mata keduanya melotot karena terkejut melihat seseorang sudah duduk santai di kap mobil mereka, terlebih lagi ternyata orang tersebut adalah seseorang yang tadi mereka jumpai di dalam café, belum sempat keduanya memikirkan keberadaan orang misterius yang baru mereka jumpai, laki-laki yang aneh itu mengeluarkan suara serak yang berat “Kalian senang memakan bangkai saudara-saudaramu sendiri, hingga dengan senangnya kalian menjelekan orang lain saat di belakang mereka ” Andi yang dari semula menaruh ketidak senangan kepada Piso Jalak menjadi naik pitam, iapun membentak,”Hai Tikuss!!! Jaga mulut mu!!” lalu ia memukul Piso Jalak dengan tinju tangan kanannya dengan kekuatan dan kecepatan full, namun betapa kaget Andi ketika ia merasakan bagaimana tangannya tiba-tiba sudah tertangkap erat oleh tangan Piso Jalak yang kekar dan kuat, belum sempat ia memikirkan serangan berikutnya, sebuah tinju yang amat keras ia rasakan di ulu hatinya.


“Ughhgg” Andipun jatuh terduduk, ia merasakan nafasnya tiba-tiba terhenti, kepalanya berkunang-kunang, Herman yang melihat Andi jatuh terduduk meraba sesuatu dari balik dada kiri jasnya, sebuah Pistol jenis Revolver .38 pun segera ia todongkan kepada Piso Jalak, namun seketika Herman terbelalak, betapa ia saksikan sebuah gerakan cepat yang berhasil merebut pistolnya, tak sampai disitu, ia merasakan tiba-tiba pandangannya menjadi gelap ketika sebuah tinju mampir di rahang kirinya, yah itulah pukulan yang berasal dari tangan kekar Piso Jalak, Hermanpun tersungkur, Andi yang kondisinya belum pulih benar mengatur pernafasannya, dengan jelas melihat Herman tersungkur, dengan cepat Andi mencabut pistol jenis FN Baretta kal. 9 mm miliknya, sesaat di dalambenaknya, ia akan mengokang pistol miliknya, tetapi tiba-tiba ia merasa keningnya dingin oleh sebuah besi padat, yah besi dingin yang merupakan moncong pistol Revolver milik Herman sudah menempel di keningnya dengan genggaman tangan kiri Piso Jalak, sementara tangan kanan Piso Jalak dengan sigap merebut senjata Baretta miliknya, mata Andi sempat melihat sesuatu yang menajubkan, satu tangan yang dilengkapi jemari kuat mengokang senjata FN miliknya, sungguh selama ini ia hanya bisa melakukan kokangan senjata FN dengan kedua tangan, Andi sangat terkejut menyaksikan pistol FN ternyata bisa di kokang oleh seseorang begitu cepat hanya dengan menggunakan kepitan ibu jari di Pistol grip serta peluncur pistol di kait dengan 4  jari lainnya, “krak-krak” ia mendengar dengan jelas pistol FN miliknya terkokang, satu butir munisi ber caliber 9 mm yang berada diurutan paling atas magasen pistol tersebut terangkat ke ruang atas, kemudian oleh peluncur bagian pistol tersebut  munisi diantarkan masuk ke kamar laras dengan bantuan peer dorong, pada saat itu penggalak munisi siap di pukul oleh pena pukul dalam rangkaian peluncur senjata tersebut,  andai saja picu pistol di kait oleh jari telunjuk Piso jalak maka akan mengakibatkan pelatuk memukul pena pukul, sudah pasti bila hal itu terjadi isian hantar akan terbakar dan membakar isian dorong sehingga terjadi ledakan di dalam kelongsong munisi, saat itulah tekanan di dalam kelongsong akan mendorong kepala proyektil keluar dari mulut laras dengan kecepatan 358 m/dt (1175 ft/s) . Sudah pasti itu akan membahayakan orang yang ada di garis lurus mulut laras pistol tersebut. Saat jantungnya terasa berhenti, Andi mulai merasakan nikmatnya bernafas, ternyata pistol itu hanya ditodongkan ke arah Herman, situasi hening dengan kondisi Andi dan Herman tertodong oleh Piso Jalak justru dengan keadaan pistol milik Andi mengarah ke kepala Herman dan pistol milik Herman menempel di tengah-tengah kening Andi. Saat itu di dalam benak Herman dan Andi terprasasti sebuah gambaran nyata siapa Piso Jalak sesungguhnya

Kamis, 18 Januari 2018

PISO JALAK

Piso Jalak adalah seorang Narapidana yang melarikan diri dari tahanan karena kasus pembunuhan, dalam pelariannya yang tanpa arah ia bertemu seseorang Alim di sebuah pinggiran hutan rimba, disana ia mengalami pengalaman spiritual yang membuatnya mengenal Sang Pencipta, dan orang tua alim tersebut menitipkan Piso Jalak ke sebuah Pondok Pesantren di sebuah desa terpencil.

Di Pondok tersebut Piso Jalak mempelajari ilmu-ilmu agama dan olah kanuragan, sampai pada suatu saat ia jatuh cinta kepada anak sang Guru Pondok Pesantren tersebut. Namun di saat hatinya sedang merasakan ketenangan dan rasa belas kasih sayang  serta cinta, persembunyiannya terendus oleh Pihak Kepolisian, Pondok Pesantren digeledah oleh satu Pleton Kepolisian, Piso Jalak terpaksa harus meninggalkan tempat dimana ia merasakan ketenangan, belas kasih dan cinta, ia berhasil meloloskan diri dari penggerebekan tersebut.

Dalam pelariannya yang kedua Piso Jalak mengganti namanya menjadi Adri, sampai akhirnya ia tiba di sebuah perkotaan yang tidak ia kenal sama sekali. Di Kota tersebut Piso Jalak sempat menolong seseorang dari keroyokan preman dan berhasil melumpuhkan gerombolan preman-preman Bromocorah tersebut.

Orang yang di tolong tersebut ternyata menyeret Piso Jalak dalam petualangannya membunuh beberapa Gembong Jaringan Bandar Narkotika, Musuh Piso Jalak di Kota tersebut semakin banyak dan Piso Jalak kehilangan arah saat orang yang ia tolong harus tewas di tangan gerombolan tersebut.

Bertahan sendiri tanpa sahabat dan saudara mempertemukannya dengan abang angkatnya saat di penjara, disana Piso Jalak justru dikenalkan dengan Gembong Narkotika internasional, Piso Jalak diberi pekerjaan sebagai Pembunuh Bayaran. Keadaan yang begitu memaksa menjadikan Jiwa Piso Jalak berfikir bahwa yang memerintahkan dirinya adalah Iblis, yang dibunuh olehnya juga Iblis bahkan ia menganggap dirinya juga sudah menjadi Iblis.

Tanpa diduga anak Gembong Narkotika Internasional tertangkap Pihak Kepolisian, Sang Gembongpun memerintahkan Piso Jalak untuk melenyapkan Pimpinan Tim Kepolisian yang menangkap anaknya dan itu bertepatan dengan tugas ke 100 Piso Jalak dalam membunuh targetnya.

Petualangan menjadi rumit saat Polisi tersebut dipindahkan ke Satuan Polsek sebuah desa terpencil dimana Pondok Pesantren Piso Jalak berada. Kenangan cintanya membuat Piso Jalak menjadi semakin bersedih, Terlebih lagi ternyata Kapolsek tersebut adalah salah satu Santri Pondok Pesantren dimana ia menimba ilmu agama.

Kebimbangan Piso Jalak dalam tugasnya memakan waktu yang melampoi batas waktu yang ditentukan oleh Sang Gembong Narkotika. Sampai akhirnya Sang Gembong memerintahkan 2 tim pembunuh bayaran, tugasnya adalah melenyapkan Piso Jalak dan Kapolsek.

Bagaimana kisah Fiksi ini akan berlanjut. BACA KISAH PISO JALAK SELANJUTNYA..