Situasi yang hening tersebut terpecahkan oleh suara Piso Jalak yang berat dan mantap “Bagaimanapun kalian adalah caraka, maka ku hormati kalian karena sedang mengemban suatu perintah.” Kemudian Piso Jalak menekan tobol pelepas magazen dengan ibu jari tangan kanannya, terdengar sebuah suara “Klik” tiba-tiba magazen pistol FN tersebut terlepas ke bawah, dengan telunjuk tangan kiri Piso Jalak mendorong ke depan kunci penahan silinder pistol Revolver sehingga bagian pistol grip dan silender meregang, tangan kiri Piso Jalak diangkat ke atas selanjutnya secara otomatis 6 butir munisi caliber .38 berjatuhan ke tanah. Piso Jalak berdiri lalu berjalan menuju jalan yang sepi, tiga langkah berlalu dari Herman dan Andi, Piso Jalak membuang kedua pistol itu ke kanan dan ke kiri nya seraya berkata “ Besi buruk ini belum layak kalian pegang, berhati-hatilah menggunakannya karena hampir saja kalian merasakan bagaimana bahayanya kedua benda tersebut pada diri kalian tadi”. Herman dan Andi melihat Piso Jalak remang-remang menghilang di kegelapan malam, mereka berdua menghirup nafas yang panjang sekali, terlihat betapa wajah mereka berdua menemukan kebebasan yang amat besar, lalu masing-masing memungut kembali munisi yang berserakan di sekitar mereka, lalu berjalan memungut pistol masing-masing, keduanya masih tampak berdiam diri tanpa ingin saling bersapa, mereka larut dalam olah fikir jiwa yang bertanya dan berjawab sendiri. Herman melirik Andi dan berkata, “ Ayo!! Kita kembali” Andi tidak menjawab, dia hanya mengarahkan tubuhnya ke arah mobil mereka, mobil berbunyi dan meninggalkan area parkiran tersebut, remang, dingin, sepi, namun disana masih tertinggal dua jiwa yang merenungi kejadian yang baru saja mereka alami walau jasad mereka sudah meninggalkan jauh parkiran tersebut.
Sesampainya di rumah sang bos, keduanya menghadap, nampak seorang tua yang bertubuh terawat duduk di kursi yang besar sekali, minuman keras untuk penghangat badan terlihat di depannya, rokok besar berpipa gading gajah dengan ukiran naga terlihat indah dipandang mata. Di jarinya nampak cincin yang mewah, emas putih dihiasi permata dan bermata batu Mustika berwarna hijau bergambarkan awan, dengan santai orang tersebut berkata, “Kenapa kalian berdua, wajah kalian lusuh, dan nampak sekali kalian merasakan suatu sakit??” keduanya menunduk, lalu Herman berkata, “ Tugas telah kami laksanakan Boss, kami sudah bertemu langsung dengan Piso Jalak.” Laki-kaki tersebut tidak menjawab, ia hanya meminum setengguk minuman yang terlihat mahal tersebut. Herman berkata, “Maaf Bos, kami sebenarnya ada sedikit kesalah fahaman dengan Piso Jalak.” Orang yang dipanggil Bos itu melirik kedua anak buahnya, dengan suara datar ia bertanya : “Lalu ??” Herman menjawab, “Kami sadar, ternyata bos memang tidak salah dalam memilih orang.” Lelaki tua itu berdiri seraya berkata “ Hahahahaha, kalian belum melihat semuanya, kalian belum tahu betapa darah harus keluar secara paksa dari tubuh manusia, bila manusia itu bertemu dengan Piso Jalak.” Laki-laki tua itu memandang lukisan abstrak di dinding ruangannya yang menggambarkan keangkeran malam. Fikirannya kembali jernih saat mengingat bagaimana sahabatnya menelfon dirinya dengan nada yang amat ketakukan.
“Halooo sahabatku, tolong aku, dimana dirimu, tolong aku” sebuah suara dengan ketakutan yang amat sangat saat itu memekakan telinganya, ia menjawab “ Kenapa Tuan Kara?? Ada apa dengan diri mu??” Suara dalam Hp tersebut berkata “Aku sedang menyelamatkan diri dari kejaran si Piso Jalak!! Anak buah ku sudah 5 yang dilumpuhkan oleh nya.” Ia pun menjawab “ Siapa Piso Jalak???? Siapa itu Piso Jalak??? Aku belum pernah mendengar namanya???” : ”Sudahlah, aku minta tolong kirim bantuan, aku menuju markas rahasia kita di titik dua tujuh, sekarang juga sahabat ku !!!, aku membutuhkan pertolongan mu, Jauhkan aku dari titisan iblis kegelapan Piso Jalak!!!!!” tuutt..tuuut..tuuuut, suara Hp pun terputus, sang lelaki tua berteriak “Tuan Karaaaa!!! Halooo…. Halooo…halooo”. Hp pun di banting olehnya sembari mengumpat “Kunyuuuuukkk!!! (ia mengepalkan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bungi menggemeretak) Agus!!!! Subarjo!!! Tino!!! Bastian!!! Kardi!!! Kalian ikut saya sekarang juga!!! cepat!!! bawa senjata kalian masing-masing!!! Jangan lupa bawa laras panjang AK 47 juga, Cepaaaaaattt!!!!!” Orang-orang yang dipanggil tersebut dengan sigap berlarian menyiapkan perlengkapan, hanya dengan hitungan menit mereka berenam sudah menaiki mobil Terano warna hitam dan melaju kencang keluar dari rumah yang sebenarnya mirip dengan benteng istana-istana zaman kerajaan terdahulu.
Sesampainya di markas rahasia yang mereka sebut dengan titik dua tujuh tersebut sang lelaki yang selalu di panggil Bos tersebut terkesima, ia melihat 2 orang anak buah sahabatnya sudah keadaan merintih kesakitan tergeletak si pinggir jalan masuk gerbang markas rahasia tersebut, “Cepaaaaaaattt Barjooooo!!!!” Bentak sang Bos. Subarjo yang mendapat perintah langsung menginjang gas mobil Terano tersebut lebih dalam lagi. Tepat di halaman rumah yang laksana villa tersebut mobil Terano berhenti mendadak dengan suara rem mendecit, asap terlihat keluar dari ke empat ban yang bergesekan dengan aspal hotmik di area tersebut. Keenam penumpang langsung turun, mereka langsung mengokang senjata masing-masing, krak-krak, krak-krak, terlihat mata sang pemegang senjata sangat tajam dan haus darah, sementara sang bos menggenggam 2 pucuk pistol jenis Smith & Wesson 357 Magnum .38, nampak sang Bos saat itu terlihat seperti Cowboy karena Revolver jenis ini ber munisikan 6 butir dan berlaras panjang, dengan menggenggam 2 pucuk berarti ia berkesempatan untuk menembakan sebanyak 12 kali tembakan.