Senin, 22 Januari 2018

PISO JALAK BAGIAN 1

Jam dinding sudah menunjukan pukul 23.50 Wib tanda waktu semakin larut, di sudut ruangan bertaburkan cahaya gemerlap dengan iringan musik yang keras dan berirama tidak karuan sebagai ciri khas sebuah tempat hiburan malam, CAFÉ FLAMBOYAN yang terletak di pinggiran kota besar itu ternyata masih bisa menarik pelanggan dari berbagai tempat di kota itu. Satu meja dengan 4 kursi nampak terlihat di sudut ruangan itu, seseorang asyik menikmati kesendiriannya, di bibirnya terlihat rokok yang tidak dihidupkan sama sekali oleh pemiliknya, terlihat rokok tersebut hanya sekedar hiasan di bibirnya, 1 botol minuman beralkoholpun ada di mejanya, namun terlihat isi botol tidak berkurang sama sekali, menunjukan ia hanya menggugurkan kewajiban sebagai pengunjung yang duduk di cafe tersebut. 

Tiba-tiba dua orang pramuria mendekati orang tersebut, salah satunya berkata “ Kok sendirian bang, bolehkah kami menemani abang?”, orang yang ditanya bukannya menjawab, ia justru semakin tajam melihat penyanyi di bagian depan café tersebut, sungguh seolah-olah tidak ada orang yang sedang mengajaknya berbicara. Salah satu wanita mencibir sambil meninggalkan orang tersebut “Iiiihhhhh nyebelin kalau tidak punya uang bilang aja, jangan diem kayak gitu !!!”,  lalu kedua wanita tersebut berjalan mendekati seniornya di ujung ruang lainnya, “Mbak, siapa sih laki-laki yang di pojok itu?? Sombong amat!!”. Wanita yang sudah dianggap senior di Café situ menjawab dengan mata melotot “Astaga, dasar orang baru, pasti kalian belum tahu dia ya, beruntung dia tidak marah kepada kalian, nih mbak kasih tahu sama kalian, dia tuh adalah seseorang yang sudah beku hatinya, sudah membatu karena kesedihan, sudah menghitam hatinya karena kejahatan, ia milik para iblis yang berkedok manusia, tangannya bayak berlumuran darah manusia-manusia yang sebenarnya tidak ia kenal sama sekali” sambil menjelaskan wanita itu beberapa kali menghela nafasnya, ia teringat bagaimana tangan kokoh orang tersebut pernah menahan sebuah tamparan lelaki yang menjadi pelanggannya saat itu, maka sambil menunduk wanita itu berbisik tanpa sadar “ Namun mbak yakin, dia orang baik ” , 2 wanita yang baru tersebut menjadi bingung melihat seniornya yang seperti berbicara sendiri.

Tak berselang beberapa lama munculah dua orang mendekati sudut ruang yang diduduki oleh orang aneh itu, seseorang diantaranya berkata,  Maaf, apakah anda yang bernama PISO JALAK perkenalkan saya Herman dan ini teman saya Andi” seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, orang berjaket berwarna hitam yang memiliki sepasang mata tajam, kulit sawo matang, berkumis tipis melintang serta berambut ikal gondrong tersebut hanya diam saja, ia justru seperti serius melihat nyanyian penyanyi di Café tersebut. Melihat sikap Piso Jalak yang cuek teman Herman yang bernama Andi terlihat menahan marah, ia maju mendekati PisoJalak namun dihalangi oleh Herman, Hermanpun berkata “Sesuai dengan perintah BOS BESAR saya datang untuk mengantarkan uang sebesar Rp. 100 Juta sebagai uang pangkalnya, sisanya setelah tugas selesai anda laksanakan, map ini berisi target yang harus anda lenyapkan, saya permisi!!!” Herman dan Andi lalu beranjak pergi meninggalkan orang tersebut, namun naas tangannya tersenggol seorang pramuria hingga minuman yang ada di baki pramuria tersebut terjatuh, minuman yang ada di gelas tersebut tumpah mengenai jaket lengan kiri orang yang disebut sebagai Piso Jalak tersebut. Terlihat sekali betapa perempuan itu menunjukan wajah yang sangat menahan rasa takut sedalam-dalamnya. Herman dan Andi tak ambil pusing, kemudian mereka berlalu menuju pintu keluar café tesebut. 

Di luar Café Andi berkata kepada Herman, “Bang, wajah perempuan tadi terlihat sangat ketakutan, dia takut kepada kita atau kepada si Piso Jalak itu bang?” Herman dengan santai menjawab “Mungkin yang ia takuti ya si Piso Jalak itu, ternyata bos besar kita salah memilih orang, Piso Jalak hanya sebuah nama yang kita kira sangar, tidak tahunya hanya di takuti oleh seorang wanita, ha ha ha ”. Sontak Andipun ikut tertawa sembari berkata, “Coba abang tidak cegah saya, pasti tadi dia sudah saya beri pelajaran bang.” Hermanpun berkata “Aaahh sudahlah, kita berdua ini adalah orang pilihan bos, sudah lama dan banyak orang-orang yang kita bantai, entah kenapa justru dalam tugas itu bukan kita yang bos pilih, apa sih kehebatan si Piso Jalak itu??” Sampailah kedua orang tersebut ke mobil mereka yang terpakir di pojok parkiran yang sunyi, tiba-tiba mata keduanya melotot karena terkejut melihat seseorang sudah duduk santai di kap mobil mereka, terlebih lagi ternyata orang tersebut adalah seseorang yang tadi mereka jumpai di dalam café, belum sempat keduanya memikirkan keberadaan orang misterius yang baru mereka jumpai, laki-laki yang aneh itu mengeluarkan suara serak yang berat “Kalian senang memakan bangkai saudara-saudaramu sendiri, hingga dengan senangnya kalian menjelekan orang lain saat di belakang mereka ” Andi yang dari semula menaruh ketidak senangan kepada Piso Jalak menjadi naik pitam, iapun membentak,”Hai Tikuss!!! Jaga mulut mu!!” lalu ia memukul Piso Jalak dengan tinju tangan kanannya dengan kekuatan dan kecepatan full, namun betapa kaget Andi ketika ia merasakan bagaimana tangannya tiba-tiba sudah tertangkap erat oleh tangan Piso Jalak yang kekar dan kuat, belum sempat ia memikirkan serangan berikutnya, sebuah tinju yang amat keras ia rasakan di ulu hatinya.


“Ughhgg” Andipun jatuh terduduk, ia merasakan nafasnya tiba-tiba terhenti, kepalanya berkunang-kunang, Herman yang melihat Andi jatuh terduduk meraba sesuatu dari balik dada kiri jasnya, sebuah Pistol jenis Revolver .38 pun segera ia todongkan kepada Piso Jalak, namun seketika Herman terbelalak, betapa ia saksikan sebuah gerakan cepat yang berhasil merebut pistolnya, tak sampai disitu, ia merasakan tiba-tiba pandangannya menjadi gelap ketika sebuah tinju mampir di rahang kirinya, yah itulah pukulan yang berasal dari tangan kekar Piso Jalak, Hermanpun tersungkur, Andi yang kondisinya belum pulih benar mengatur pernafasannya, dengan jelas melihat Herman tersungkur, dengan cepat Andi mencabut pistol jenis FN Baretta kal. 9 mm miliknya, sesaat di dalambenaknya, ia akan mengokang pistol miliknya, tetapi tiba-tiba ia merasa keningnya dingin oleh sebuah besi padat, yah besi dingin yang merupakan moncong pistol Revolver milik Herman sudah menempel di keningnya dengan genggaman tangan kiri Piso Jalak, sementara tangan kanan Piso Jalak dengan sigap merebut senjata Baretta miliknya, mata Andi sempat melihat sesuatu yang menajubkan, satu tangan yang dilengkapi jemari kuat mengokang senjata FN miliknya, sungguh selama ini ia hanya bisa melakukan kokangan senjata FN dengan kedua tangan, Andi sangat terkejut menyaksikan pistol FN ternyata bisa di kokang oleh seseorang begitu cepat hanya dengan menggunakan kepitan ibu jari di Pistol grip serta peluncur pistol di kait dengan 4  jari lainnya, “krak-krak” ia mendengar dengan jelas pistol FN miliknya terkokang, satu butir munisi ber caliber 9 mm yang berada diurutan paling atas magasen pistol tersebut terangkat ke ruang atas, kemudian oleh peluncur bagian pistol tersebut  munisi diantarkan masuk ke kamar laras dengan bantuan peer dorong, pada saat itu penggalak munisi siap di pukul oleh pena pukul dalam rangkaian peluncur senjata tersebut,  andai saja picu pistol di kait oleh jari telunjuk Piso jalak maka akan mengakibatkan pelatuk memukul pena pukul, sudah pasti bila hal itu terjadi isian hantar akan terbakar dan membakar isian dorong sehingga terjadi ledakan di dalam kelongsong munisi, saat itulah tekanan di dalam kelongsong akan mendorong kepala proyektil keluar dari mulut laras dengan kecepatan 358 m/dt (1175 ft/s) . Sudah pasti itu akan membahayakan orang yang ada di garis lurus mulut laras pistol tersebut. Saat jantungnya terasa berhenti, Andi mulai merasakan nikmatnya bernafas, ternyata pistol itu hanya ditodongkan ke arah Herman, situasi hening dengan kondisi Andi dan Herman tertodong oleh Piso Jalak justru dengan keadaan pistol milik Andi mengarah ke kepala Herman dan pistol milik Herman menempel di tengah-tengah kening Andi. Saat itu di dalam benak Herman dan Andi terprasasti sebuah gambaran nyata siapa Piso Jalak sesungguhnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar