Selasa, 27 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 8

Piso Jalak memasuki rumah kontrakannya, setelah membuka jaket miliknya, Piso Jalak duduk di kursi yang hanya bertemankan 1 meja saja, diperhatikannya map yang tersegel rapat, di sobeknya map tersebut, di dalamnya ada sebuah cek tunai Rp. 100 juta sebagai DP, dan terlihat sebuah Foto seorang Anggota Polisi berpangkat AKP, wajah Polisi itu sangat tampan, matanya terlihat tajam dan jeli, Piso Jalak menarik nafas panjang sambil berguman dalam hati “Aku tidak mengenalmu, namun nampaknya dirimu akan segera bertemu denganku, yah dengan malaikat kematianmu ”Piso Jalak menggenggam gelas berisi air putih lalu meminumnya, dalam keadaan sedang menggenggam gelas itulah Piso Jalak memejamkan matanya, ia kembali mengingat bagaimana dulu ia sampai di jebloskan ke Penjara …. Saat itu usianya masih beranjak 9 tahun…

“Piso…. Pisoooo…” seorang ibu dengan lengkingan kuat mencari anaknya sembari membawa seember air yang ia siramkan ke tumpukan daun kering, plastik dan kertas yang terbakar. “Anak bandel, dimana dirimu?” sesekali kepala sang ibu menoleh ke kanan dan ke kiri, namun sang anak tak juga terlihat. Di balik sebuah belukar sang anak tersenyum sendiri, yaah itulah masa kecil Piso Jalak, ia hobi sekali membakar apapun yang ia lihat mudah dibakar, entah sudah berapa kali ia melakukannya, pertama kali ia membakar sampah, kedua telinganya sampai merah dijewer sang ibu, namun lama kelamaan sang Piso Jalak semakin menikmatinya, ia terus membakar, membakar dan membakar apapun yang mudah ia nyalakan. 

Sampai pada suatu sore hari Piso Jalak mengintip ibunya dalam keadaan lelah dan tertidur di dalam rumahnya, memang saat itu ibunya terlihat bekerja banyak sekali mengurusi dan membersihkan rumah dan pekarangan, niat Piso Jalak menjadi besar untuk memenuhi hobinya, secara sembunyi-sembunyi Piso Jalak mendekati sampah-sampah yang rencana akan dibuang oleh ibunya ke kotak sampah di ujung rumahnya yang berjarak 10 meter, sampah-sampah itu belum sempat dibuang dan masih berada di dekat pintu belakang rumahnya, Piso Jalakpun beraksi, ia mulai membakar sampah-sampah tersebut, dengan sigap korek api ia mainkan, apipun mulai terlihat keluar dari tumpukan sampah tersebut, Piso Jalak terus mengumpulkan yang lainnya hingga menggunung, saat api semakin membesar Piso Jalak berlari menuju semak belukar untuk mencari daun-daun kering lainnya, saat itu Piso Jalak melirik bagaimana angin berhembus kencang sehingga membuat api itu membesar dan sampah yang terbakar berterbangan, ia berlari mendekat namun api sudah berterbangan kemana-mana.

Piso Jalakpun panik dan berlari bersembunyi, ia sangat takut ibunya akan marah besar melihat kenakalan dirinya, tiba-tiba Piso Jalak merasakan takut yang sebesar-besarnya saat melihat api, selama ini bila ia melihat api maka akan membuat hatinya senang, hatinya semakin berdetak menahan rasa takut ketika melihat api tersebut terbang terbawa angin dan sebagian sampah yang terbakar mulai menyambar dapur yang ada di belakang rumahnya, Piso Jalak semakin gemetar, dilihatnya dinding dapur yang terbuat dari papan mulai terbakar, bibirnya tanpa sadar menyebut Nama Allah Tuhannya, dalam situasi seperti itu Piso Jalak hanya mampu menangis melihat bagaimana api tersebut dengan cepat merambat ke seluruh rumahnya, tubuhnya bergetar dan lemas, mulutnya terkunci sehingga tidak dapat berteriak, warga sekitar berlarian membawa air berusaha memadamkan api tersebut, Piso Jalak semakin menangis membayangkan suara teriakan ibunya yang marah besar dan pasti akan memukul pantatnya sampai biru.

Namun hiruk pikuk suara teriakan warga dan masyarakat sekitar yang sedang berusaha memadamkan api tak juga menghantarkan suara lengkingan ibunya, hati Piso Jalak tiba-tiba mengharapkan agar muncul teriakan-teriakan marah dari ibunya, kini perasaan takut dimarah oleh sang ibu berubah menjadi takut bila suara teriakan itu tidak keluar dari mulut ibunya, benar saja suara teriakan marah sang ibu tersebut tidak pernah ia dengar sampai api meninggi, saat itulah Piso Jalak tiba-tiba mendapatkan sebuah tenaga luar biasa dari dalam jiwanya, ia berteriak sambil berlari “Ibuuuuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu ”. 

Piso Jalak berlari menuju rumahnya, namun warga memegangnya dan menghalanginya untuk mendekati api yang sangat besar, “Lepaskaaaaaan!! lepaskaaaaaaaaaan!! ibuku ada di dalam!! ibuku ada di dalaaaaaaaaaaaaammmm!!!!”. Piso Jalak meronta-ronta dan menendang serta memukul orang yang memeganginya, salah seorang warga berteriak “Cepaaaaat panggil pak Supari, beliau sedang piket di Koramil!!! ”, salah satu wargapun berlari menuju Koramil untuk memanggil pak Supari, ayah dari Piso Jalak, sementara Piso Jalak berusaha melepaskan tangan yang membekapnya, ia gigit tangan tersebut, saat Piso Jalak hendak berlari ia merasakan ada sebuah pukulan ditengkuknya, matanya berkunang-kungan, dunia menjadi gelap, kemudian Piso Jalak tidak mengetahui apapun yang terjadi.

Minggu, 25 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 7

Akhirnya Bus berhenti di depan sebuah masjid, sang kondrektur menerima uang dari Piso Jalak sambil menahan nafas, Piso Jalak meliriknya lalu tanpa sadar Piso Jalak tersenyum, sang kondrekturpun seperti menemukan nafas lega, ia membalas senyum tersebut sambil berkata “Terima kasih bang”. Piso Jalak meraih sakunya, ia mengeluarkan rokok miliknya, lalu diberikan kepada kondrektur tersebut lalu berjalan menuju jalan sempit samping masjid, buspun beranjak pergi melanjutkan perjalanan. Di depan masjid Piso Jalak sempat melirik seorang tua di dalam masjid yang sedang sholat malam, dilihatnya jam tangan miliknya, pukul 03.15, Piso Jalak kembali berjalan, namun ia hentikan perjalanannya setelah mendengar batuk yang berulang-ulang kali dari orang tua di dalam masjid. Nampak orang tua itu baru usai melaksanakan sholat malam, karena batuk yang tiada reda maka sang orang tua pun menuju ke tempat wudhu, mata Piso Jalak terbelalak melihat orang tua tersebut meminum air wudhu yang belum dimasak tersebut. Piso Jalak teringat dua sahabat karibnya, Laga Puntha dan Rala Juntai saat berguru kepada seorang bijaksana dan lembut, Syajaratul Yaqin mereka bertiga menyebut Sang Guru yang senantiasa mengajarkan bagaimana seorang manusia selayaknya mengenali Siapa Tuhan, siapa manusia atau hamba dan bagaimana sejatinya diri juga bagaimana sejatinya hidup. Syajaratul Yaqin hanya memiliki murid 3 orang, dan mereka bertiga selalu bersama-sama selama 4 tahun, selama 4 tahun itu ketiga murid diajarkan puasa Nabi Daud AS, dengan 1 hari puasa dan 1 hari tidak, setiap buka puasa ketiga murid selalu berbuka puasa dengan meminum air wudhu dari pancuran saat berwudhu, maka mereka bertiga menamai diri mereka sebagai saudara jiwa SEPEMINUMAN AIR WUDHU YANG TERTELAN. Sayajaratul Yaqin tinggal di pinggiran hutan belantara, musholanya terbuat dari bambu, atapnya dari alang-alang, di pinggirnya ada sungai yang besar sebagai pembatas hutan dengan desa, disana Piso Jalak berguru secara diam-diam, karena saat itu Piso Jalak sendiri adalah santri Pondok Walyaathalatof  dimana ia bersembunyi dan tempat pelarian saat kabur dari penjara. 

Disanalah Piso Jalak menerima pengetahuan tentang Lafadz Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) secara hikmah, lafadz tersebut bermula dari huruf BA, maknanya adalah BABUN yaitu pintu, dimana manusia pasti akan memilih dan melewati pintunya masing-masing, namun carilah yang BA (BarakAllah / yang berkahi oleh Allah), SIN dapat dimaknai dengan kata salam (selamat) bila dirangkai akan menjadi sebuah makna tentang seorang anak manusia dalam menemukan pintu yang sudah dipilih untuk jalan kehidupan yang ia jalani, maka anak manusia itu harus menyertakan sabar dan benar saat berjalan memasuki pintu tersebut agar selamat, karena pintu-pintu itu ada yang baik dan yang buruk, lalu akan bertemu dengan MIM yaitu Ma'rifat (mengenal), mengenal siapa? MILLAH, mengenal ALLAH, disanalah anak manusia harus mengisi Pintu hidupnya dengan Sifat Allah yang AR-ROHMAN Maha Pengasih dan AR-ROHIM Maha Penyayang, maka rangkuman makna dari Bismillahirrahmanirrohim adalah bila manusia sudah memilih dan menemukan pintu masing-masing, apapun itu yang dipilih, sebagai contoh jalan Petani, Tentara, Polisi, Guru, Pedagang ataupun yang lainnya, namun ada juga pintu lainnya yang tidak benar sebagai contoh pintu sebagai pencuri, perampok atau sebagainya, semua tersedia karena Ar-Rohman adalah Maha Pengasih, semua dikasih, namun manusia tersebut tidak akan bertemu Ar-Rohim (Maha Penyayang), bisa saja seorang hamba itu dikasih (dikabulkan hajadnya) mereka belum tentu disayang, karena BA yang dimaksudkan bisa juga berarti BAROKALLAH (Yang diberkahi Allah), sehingga pada puncak tujuannya manusia yang memilih pintu hidupnya akan mencari serta mengenal Allah SWT dengan segala rahasia NYA, berpondasi sabar dan benar tersebut maka  manusia akan menemukan rasa syukur dan ikhlas terhadap apapun yang digariskan pada hidupnya, sebenarnya itu adalah bukti nyata Allah SWT selalu mengasihi dan menyayangi hamba-hamba NYA maka untuk berterima kasih kepada Allah SWT seorang hamba harus selalu berbelas kasih dan mempunyai rasa sayang terhadap sesama. 

Air mata Piso Jalak menetes tanpa disadarinya, dibukanya kedua telapak tangan miliknya, terlihat bagaimana tangan tersebut sudah banyak berlumur dosa, hati Piso Jalakpun berbisik “Aku akan temukan sejatinya diri dan sejatinya hidup ini, hanya musrik yang tidak akan diampuni oleh Allah Azizul Jabbar, yang lainnya semoga akan terampuni kelak bila bertaubat, saat ini jalan yang ku lalui adalah ini, Semua tetesan air yang menguap keangkasa dan berjatuhan ke bumi ini, walau jatuh di puncak gunung sekalipun pasti memiliki cara sendiri-sendiri dan mengalami banyak kejadian dalam perjalanan kembali ke samudera”  sesaat kemudian tiba-tiba Piso jalak dikagetkan oleh sebuah sapaan “Nak, mengapa berdiri saja disitu?” ternyata si pemilik suara itu adalah sapaan orang tua yang tadi batuk, “Tidak apa-apa pak” Piso Jalak menjawab, “Anak adalah orang yang ngontrak di belakang masjid ya ?” orang tua itu kembali bertanya, “Iya pak” Piso Jalak berusaha menjawab seadanya. “Nak saat ini keadaan masjid selalu sepi, sudikah anak menemani bapak sholat subuh berjamaah?” orang tua itu memberikan tawaran yang membuat hati Piso Jalak berdetak, dengan tersenyum Piso Jalak menjawab  Terima kasih pak, bapak menawarkan kebaikan kepada saya, saya senang mendengarnya, insan manusia yang selalu berusaha berbuat kebajikan dan selalu mengajak kebaikan walau itu sekecil apapun, tidak perduli diterima atau tidak oleh orang lain, maka yakinlah kita tidak akan pernah tahu dari kebaikan-kebaikan mana yang telah kita lakukan, disitulah justru membuat Allah SWT membukakan pintu Ridho NYA untuk kita ” 

Piso Jalak membalikkan tubuhnya kemudian berjalan meninggalkan orang tua tersebut, sang orang tua terpaku mendengar ucapan Piso Jalak yang memiliki makna yang harus ditelaah secara seksama, hatinya mulai berbisik “Siapa engkau sebenarnya nak?, orang-orang mengatakan engkau adalah seorang yang tertutup dan pendiam, juga tidak mau bergaul dengan siapapun jua, namun semua tentang dirimu sulit diketahui hanya dengan lintasan sebuah pemikiran ”. 

Piso Jalak sembari berjalan perlahan dengan kepala menunduk menghela nafasnya, di dalam hatinya berkata “Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin…. Segala Puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, sungguh segala puji-pujian hanyalah milik Allah, dalam kehidupan banyak sekali pujian di alamatkan kepada manusia, hewan, bebatuan dan lainnya, namun bila kita kupas secara hakikat pujian tersebut memang terbagi menjadi 4 macam, 

1. Puji khudus ‘alaa khudus, yaitu makhluk memuji makhluk, ini terjadi bisa saja karena makhluk (contoh manusia) yang memiliki kebaikan, pintar, bijaksana ataupun yang lainnya, itu hanyalah sebatas pujian sesama makhluk tanpa membandingkan terhadap Allah SWT. 

2. Puji khudus ‘alaa Khodim, manusia memuji Tuhannya, ini bisa saja berupa kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir ataupun Tahlil. 

3. Puji Khodim ‘alaa khudus, Tuhan memuji hamba-Nya, sebuah Sirr (Rahasia) Allah SWT saat memuji seorang hamba yang mungkin saja karena kepatuhan dan ketaatan kepada orang tua, atau seorang dermawan yang ikhlas atau seseorang yang rajin sholat malam dengan kekhusukannya, yang jelas Allah SWT berfirman dalam surat Al Qalam ayat 4 dengan tujuan memuji Rasulullah Muhammad SAW, yang berbunyi ”Wainnaka la`ala khulukin azhiim”, (Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki budi pekerti yang sangat agung.) juga pada surat At-Taubah ;128 , “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.” 

Dan yang ke 4 adalah puji Khodim ‘alaa Khodim, ini bisa kita lihat betapa Allah SWT memuji diri-Nya sendiri dengan 99 Asmaul Husna, dimana Allah itu Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Bijaksana dan lain-lain.” Dengan mata yang mulai sayu Piso Jalak membayangkan betapa dunia ini akan damai dan tenang bila masing-masing umat beragama secara kaffah (keseluruhan) memahami ajaran dan tujuan masing-masing agamanya.

Kamis, 22 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 6

Di depan lukisan abstrak tersebut mata sang Bos terlihat seperti berkaca-kaca, sahabat terbaiknya yang banyak membantu dirinya tewas mengenaskan justru di dalam pelukannya. Cerutu besar kembali ia hisap, kemudian dengan mata yang tajam ia memandang kedua anak buahnya. “Pergilah, kalian berdua justru membuat aku terbayang kembali betapa aku tak berdaya di depan Piso Jalak!! Aku sudah mengirim pembunuh-pembunuh bayaran untuk membunuhnya, namun selalu gagal, bahkan sudah puluhan kali aku membayar Piso Jalak untuk membunuh sasaran yang sebagian besar sebenarnya bertujuan agar ia mati di tangan orang menunggunya, semua ku lakukan agar Piso Jalak tewas dalam tugasnya, sayang hal itu belum terwujud sampai sekarang!!”  Herman dan Andi langsung menunduk hormat dan segera pergi, mereka takut sang bos naik darah hingga mereka harus menerima hal yang tidak akan pernah mereka bayangkan.

Setelah berhasil memberi pelajaran kepada Herman dan Andi, Piso Jalak berjalan menuju pemberhentian Bus, di jalan kaki lima Piso Jalak berjalan perlahan sembari menikmati rokok yang sebenarnya berbahaya bagi paru-parunya, namun ia sadar betapa petani tembakau dan warung emperan bisa menghasilkan pendapatan tambahan untuk menghidupi keluarga mereka dengan berjualan benda yang hanya menghasilkan asap polusi ini, “Semua selalu menghasilkan sebab akibat, baik yang saling menguatkan ataupun kebalikannya, inilah kehidupan, di satu sisi menguntungkan di satu sisi lagi merugikan, contoh ringan ada penjual bakso berdampingan dengan penjual es, bila terik matahari sangat panas maka penjual es laku keras dan penjual bakso hanya bisa melihat betapa penjual es kewalahan, namun bila keadaan mendung dan gerimis, situasi justru sebaliknya, kita selaku insane seharnya saling menyadari akan kodrat yang sudah di berikan oleh Allah SWT, bila keduanya saling menghargai dan saling mengerti maka pelanggan yang makan bakso tak salah juga bila melengkapi minumnya dengan es”. Tiba-tiba matanya menangkap pecahan beling botol suplemen dan botol beralkohol di jalan kaki lima tersebut, Piso Jalak mendekatinya lalu berjongkok, ia teringat kata-kata Gurunya, “ Muridku semua, bila kalian melakukan dosa maka kalian akan mempertanggung jawabkan sendiri dosa kalian tersebut, tetapi ada juga semacam dosa yang dilakukan oleh orang lain namun kalian akan ikut menanggungnya juga bila kalian mendiamkannya, contohnya, bila ada pecahan benda tajam yang berbahaya di jalan kalian melihatnya dan bisa menghindarinya namun tidak menyingkirkannya lalu benda itu mencelakai orang di belakang kalian yang saat itu tidak tahu ada benda berbahaya yang akan di pijaknya, maka sebenarnya kalian sudah ikut andil dalam celakanya orang tersebut”. 

Piso Jalak mulai mengumpulkan pecahan-pecahan beling tersebut kemudian membuangnya ke tempat sampah di pinggir jalan tersebut, hatinya berguman “Aku ikhlas bila kelak dosa-dosaku yang besar ini diadili di yaumil akhir, namun aku tidak ingin ikut bertanggung jawab atas apa yang tidak ku lakukan, sungguh perbuatan sepele namun bisa jadi ganjalan kelak”. Piso Jalak melihat sekelilingnya hatinya berbisik “Negara ini sudah menentukan undang-undang untuk mengatur kelangsungan hidup rakyatnya, namun masyarakat selalu membebani dengan tingkah laku dari sudut pandang sendiri-sendiri, kadang kala banyak yang berkata kenapa minuman keras yang diemperan di razia namun pabriknya tidak ditutup, hehehe itulah pemikiran masyarakat awam. Bila dikaji lebih dalam mengapa Negara memberikan tempat untuk mabuk-mabukan, ya tempatnya di BAR karena disana di jaga bodyguard, lalu anak kecil yang belum dewasa pasti dilarang masuk, bahaya kerawanan terhadap masyarakat umum lebih minimal, tetapi bila di jual diemperan, siapapun pasti akan di beri oleh penjualnya, tidak pandang itu anak kecil sekalipun, minumnyapun di pinggiran jalan,  ini yang justru menimbulkan bahaya, karena siapapun yang lewat bisa jadi korban orang-orang yang sedang mabuk, sayangnya manusia tidak menyadari sebab akibat sebuah perjalanan hidup manusia. ” 

Sesampainya di Halte Piso Jalak meneliti situasi mengenai orang dan keadaan, sisi pisau mata manusia sebenarnya bisa digunakan untuk melihat sesuatu sampai 90 derajat tanpa harus menoleh, hati Piso Jalak sempat terpokus melihat seorang pemuda diantara pemumpang yang sedang menunggu bus, pemuda itu berperawakan rapi dan memegang sebuah Koran, dari tatapan sang pemuda, Piso Jalak menangkap hampir 11 kali sang pemuda melirik tas milik seorang ibu setengah baya. Piso Jalak tersenyum sedikit melihatnya. Saat bus datang para penumpangpun menaiki bus yang sedang berhenti, sang ibu duduk di kursi pojok kanan belakang, di sebelahnya sang pemuda dan Piso Jalak di kursi pojok kiri belakang dekat dengan pintu dimana kondrektur bus yang sibuk berteriak mencari penumpang. Sekitar 10 menit berlalu sang pemuda yang tepat duduk di samping Piso Jalak mulai membuka Koran yang ia pegang, Koran ia buka menutupi tas milik sang ibu yang terlihat lelah, setelah berulang-ulang dibuka dengan menimbulkan bunyi namun sang ibu seperti tidak memperhatikan maka sebuah silet goal baru dikeluarkan dari sakunya, niatnya cuma satu yaitu untuk menyobek tas tersebut lalu mengambil isi tas tersebut, namun pemuda itu mengurungkan niatnya setelah mendengar bisikan Piso Jalak : ”Nampaknya engkau belum merasakan susahnya hidup di penjara anak muda!!” Sang pemuda pucat ternyata ia yang berhasil mengawasi sasaran operasionalnya namun berhasil diawasi oleh orang lain. Pemuda itupun berkata “Maaf maksud bapak apa?” Piso Jalak pun tersenyum “Tenagamu masih cukup kuat untuk memikul beban anak muda, keringat itu asin dan berbau tidak sedap, namun hasil dari keringat itu manis dan harum” sang pemuda menundukan kepalanya fikirannya berkecamuk, ia berfikir jangan-jangan orang yang di sampingnya ini adalah seorang anggota intel. “Maaf pak, siapa sebenarnya bapak, sepertinya bapak tahu saya dan pekerjaan saya.” Sang pemuda menunduk pasrah. 

Piso Jalakpun berkata sambil sedikit tersenyum “Anak muda, diantara sekian penumpang mata mu itu selalu mengawasi ibu itu berkali-kali, bahkan 11 kali engkau melirik tas milik ibu itu, terlebih lagi Koran yang engkau pegang itu Koran yang sudah lewat masa bacanya” Sang pemuda pun semakin menunduk “Maaf pak, tolong ampuni saya” Nada sang pemuda terlihat memelas. Piso Jalak berkata “Hmmm kita masih dilindungi oleh asas praduga tak bersalah” dirabanya saku sang Piso Jalak sambil mengeluarkan dompet, dikeluarkannya uang sebesar Rp. 300.000,- “Aku tahu uang ini tidak besar, namun bila jiwamu besar maka In Syaa Allah uang itupun akan besar!!”  Pemuda itupun menerima uang dari Piso Jalak sembari mencium tangan lelaki kekar dan sangar itu kemudian ia memberhentikan bus tersebut dan turun, mata Piso Jalak melihat tatapan sang pemuda dengan tatapan yang melukiskan kelahiran insan manusia baru. Buspun berjalan Piso Jalak berbisik untuk dirinya sendiri “Setiap insan manusia bisa saja dianggap Iblis oleh manusia-manusia lainnya, namun bisa juga dianggap Maalaikat oleh sebagian manusia lainnya” 

Sang kondrektur yang melihat kursi disamping Piso Jalak kosong, maka iapun duduk,  lalu kondrektur itu berkata “ Bang, kami tahu dia tu copet, tapi kami takut mobil kami menjadi tidak aman bila mengganggu pekerjaan mereka, kenapa abang lepaskan dia, dan sebenarnya abang ini siapa ?” Piso Jalakpun melirik sang kondrektur, suaranya yang berat menjawab “Saya seorang petinju mas”. “Hmmm lalu sekarang masih suka bertinju?” Tanya kondrektur kembali, “Tidak mas” Piso Jalak membuka rokok miliknya sembari menghidupkannya. “Kenapa bang?” sang kondrektur semakin gencar bertanya, “Saya libur di dalam penjara mas” sang kondrektur memandang Piso Jalak dengan seksama “Kenapa masuk penjara bang?” Piso Jalak menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya “Saya meninju orang yang banyak bertanya kepada saya hingga mati!!” mata sang kondrektur terbelalak, wajahnya menjadi pucat, sang kondrektur langsung berdiri ke bibir pintu sambil berteriak-teriak mengucapkan tempat yang sedang dituju bus tersebut, sembari teriak matanya terus melirik orang yang sangat angker di sampingnya.

Rabu, 21 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 5

Sesampainya di ruangan atas, Piso Jalak duduk santai di atas meja, tepat di samping meja tersebut sesosok tubuh sudah dalam keadaan tergeletak lemah, nampak sekali tubuh sahabatnya sudah lumpuh dan terputus dari sumber energi yang ada. “Tuan Kara sahabatku…” Sang bos mendekati sahabatnya sambil memeriksa beberapa bagian tubuh sahabatnya yang terlihat memar. Mata sang bos terpana melihat luka memar itu jaraknya sekilan saja, sekilan dari tengah leher adalah persendian pundak, sekilan selanjutnya adalah persendian sikut, lalu sekilannya lagi adalah pergelangan tangan. Begitupun bila ia urutkan kebawah maka sekilan selanjutnya adalah ulu hati, pusar, kemaluan, tengah tulang paha, persendian lutut, tulang kering dan terakhir persendian mata kaki. Orang yang disebut dengan panggilan Tuan Kara tersebut memaksakan tersenyum, lalu dengan menahan sakit iapun berkata “Sahabatku, Master Ginsen, tolong aku”, 

Sang Bos yang ternyata bernama Master Ginsen itupun membalas senyum sahabatnya, digenggamnya tangan sahabat dengan erat sekali, lalu ia menoleh ke arah Piso Jalak, “Piso Jalak!!! Lepaskan sahabatku, aku akan membayarmu 3 kali lipat dari orang yang menyuruhmu!! lalu 10 kali lipat aku membayarmu untuk melenyapkan orang yang menyuruhmu!!” , Master Ginsen berkata sambil memandang Piso Jalak dengan tajam. Sebuah wajah angker, dengan mata tajam, berkumis tipis melintang, terlihat sedikit jenggot pendek di dagu orang tersebut, rambutnya ikal, di jarinya sebuah rokok filter terus ia isap berulang-ulang, tiba-tiba suara serak dan berat keluar dari mulut orang tersebut “Aku memang seorang pembunuh, namun aku tidak ingin menjadi seorang yang munafik!!” Piso Jalak mendekati kedua orang tersebut, sebenarnya saat itu sang bos yang dalam keadaan jongkok bisa saja meraih pistol Walther miliknya, namun ia terus menahan gejolak di hatinya untuk tidak melawan dan ingin menyelidiki siapa sebenarnya lelaki kekar di hadapannya. Piso Jalak berhenti dua langkah di depan kedua orang di depannya sambil berkata “Yang memerintahkan aku adalah seorang iblis, kalianpun iblis, dan mungkin saja aku juga iblis, maka sesama iblis seharusnya mengerti tugasnya masing-masing”,  

Piso Jalak membalikkan tubuhnya lalu berjalan santai menuju halaman teras atas kamar tersebut, rokok di jarinya ia jentikan ke kanan dan jatuh di lantai kamar atas tersebut, tiba-tiba Piso Jalak berlari keluar ruangan tersebut dan melompati pagar teras atas, tanpa diduga Master Ginsen yang sedang memeluk sahabatnya, dalam keadaan melompat ia melihat tubuh Piso Jalak berputar arah menghadap  ke arah mereka berdua dan tangannya kirinya mencabut sebuah badik berwarna kuning emas dari pinggang kirinya, dalam keadaan melompat itu Piso Jalak mencabut badik tersebut dengan tangan kanannya, badik itu mengeluarkan bias cahaya kuning keemasan, kemudian tangan kanan dan kiri direntangkan lurus kearah samping tubuh, tiba-tiba badik yang sudah tercabut itu terbelah menjadi 3, mata pisaunya melengkung dengan sisi tajam mengarah keluar, bentuknya bulat melingkar laksana CAKRA, kemudian Piso Jalak meleparkan badik yang sudah berubah bentuk tersebut dengan cepat sekali kearah sahabatnya sambil berteriak “Aku Piso Jalak! seorang Iblis yang tidak ingin gagal dalam setiap melaksanakan pekerjaan!!”, badik yang sudah bermetamorpose mirip CAKRA tersebut berputar cepat dan  dengan tepat bersarang di tenggorokan sahabatnya, walau sebenarnya jarak sahabatnya hanya 2 jari tertutup oleh wajah Master Ginsen, “Akhhh” sahabatnya mengeluarkan suara meregang, darah keluar dengan cepat, Master Ginsen berteriak “Tuan Karaaa… tahan!!!”, ia melihat benda tersebut berputar memotong urat leher sahabatnya, saat itu matanya sempat melirik Piso Jalak merapatkan tangan kirinya yang memegang warangka badik tersebut ke tengah-tengah ulu hati Piso Jalak, lalu sebuah hal menakjubkan terjadi, Badik yang terbelah menjadi 3 dan melengkung itu seperti tertarik kembali pulang ke arah warangka badik di tangan Piso Jalak, tangan kanan Piso Jalak dengan sigap meraihnya kemudian cakra tersebut berubah menjadi badik seperti semula,  mata Master Ginsen berubah menjadi merah, ia cabut pistol Walther dari betis kanannya dan berlari menuju teras ruangan atas tersebut lalu berteriak, “Ibliss kau Piso Jalak!!!!” lalu ia berlari dan mengarahkan Pistolnya ke arah Piso Jalak yang sedang melompat sambil menembakan pistol tersebut berulang-ulang sampai 5 kali tembakan, namun pekarangan di halaman tersebut terlihat sepi tanpa adanya Piso Jalak yang ia kejar, hanya terlihat sesosok mayat anak buahnya dan mobil Terano miliknya, kekesalannya memuncak, dengan hentakan emosi Master Ginsen menendang mayat Bastian yang ada di bibir teras sambil mengeluarkan suara nafas yang keras, ia sempat memandangi jenazah anak buahnya, tiba-tiba hatinya menjadi takjub, ia baru menyadari bahwa semua korban Piso Jalak mengalami kematian disebabkan oleh sebab yang sama, yaitu leher para korbannya mengalami kerusakan karena benturan benda keras seperti yang dialami oleh Subarjo, yaa itu pasti disebabkan oleh tangan kokoh milik Piso Jalak. Sesaat kemudian sang Bos berlari menuju ke tubuh sahabatnya yang ternyata sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Jumat, 09 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 4

Subarjooooo, dimana kamuuu?” Sang Bos berteriak, kemuadian ia menyelinap masuk sembari merentangkan kedua tangan yang menggenggam pistol S&W 357 untuk berjaga-jaga dan siap menembak bila ia melihat musuhnya, mata sang bos terbelalak melihat Subarjo sudah telungkup tak bernafas, fikirannya berputar mencari jalan keluar, bagaimanapun kelima anak buahnya bukan orang sembarangan, namun kelimanya kini berhasil dilumpuhkan hanya dengan waktu yang singkat. Sebagai orang professional maka sang bos berteriak “Baiklah… siapapun engkau wahai orang yang bernama Piso Jalak!!! Aku tidak ada urusan dengan mu!!” Sang Bos berjalan santai dengan mata yang sangat cekatan menyapu seluruh ruangan, ia berhenti di depan sebuah meja dan meletakan dua pistolnya ke atas meja tersebut. “Aku sudah meletakan senjataku, keluarlah, aku ingin melihat siapa sebenarnya engkau!!” Sang bos sempat menempelkan betis kaki kirinya ke betis kanannya, disana terselip pistol ciss Walther PPK Caliber 2,2 mm dengan 7 butir munisi di magazennya, kedua tangannya diangkat yang memberikan isyarat bahwa ia sedang ingin bernegoisasi dengan musuhnya, matanya sempat terpejam membaca “Yoo Jabaraut, Petak gelap seketi” suatu rapalan yang ia dapatkan dari seorang guru spiritualnya bila dalam keadaan bahaya, ia sempat mengingat betapa di dalam sabuk miliknya tersimpan Batu Badar Besi yang sudah berkali-kali ia coba khasiatnya sebagai alat kebal terhadap berbagai macam benda tajam. 

Walau dalam keadaan dipaksakan tenang sebenarnya hatinya tetap bergemuruh was-was karena musuhnya kali ini benar-benar tidak bisa ia anggap enteng. Mata sang Bos melihat sebuah hembusan asap rokok melayang bebas dari balik sebuah pintu, sesaat ia mendengar sebuah langkah mendekat, matanya sedikit menyipit, berusaha melihat dengan jelas sosok yang muncul dari balik pintu tersebut, seorang lelaki berbadan kekar, dengan menggunakan topi hitam ala cowboy, jas panjang kulit seperti yang dipakai orang-orang eropa, sepatunya panjang seperti sepatu bot, warnanya hitam dan ia yakin itupun terbuat dari kulit asli, di lehernya nampak terlilit kain warna hitam menandakan kegunaan untuk menutupi hidung dan mulut sebagai bentuk penyamaran. “Itukah Piso Jalak… bertempur dengan lima anak buahku yang dilengkapi oleh senjata api namun masih merokok dengan santainya, hmmmm sungguh orang yang luar biasa, dia berani menunjukan wajahnya di hadapan korbannya, ini merupakan sebuah keyakinan bahwa ia pasti akan melenyapkan sasarannya.” Guman Sang bos dalam hati. 

Mata sang bos tetap mengawasi Piso Jalak yang tenang dan berjalan santai menaiki tangga rumah tersebut, ia mendekati suara rintihan yang ada di ruangan atas tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya masih ada orang lain di sekitarnya, sang bospun mengikuti di belakang Piso Jalak dengan jarak 4 meter, ia tetap  mengangkat tangannya tanda ia sedang menghentikan perlawanan, sang Bos belum bisa memutuskan untuk mencabut pistol dibetisnya, karena dibenaknya masih mempertimbangkan betapa musuh di depannya akan dengan mudah bisa melumpuhkan dirinya walaupun nampak jelas dimatanya si Piso Jalak tetap berjalan tenang tanpa menghiraukan di belakangnya ada seorang musuh dengan pistol tersembunyi dibetis yang kapan saja dapat digunakan untuk menghabisi nyawanya. Sang bos pun berkata dalam hati “Piso Jalak, aku yakin, engkau memperhatikan bayanganku yang ada di dinding, karena bayangan tersebut terlihat jelas sedang mengangkat tangan, itu karena pintu di luar memantulkan cahaya matahari, hmmmm sungguh cerdik juga tuyul satu ini”.

Kamis, 01 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 3


Sang Bos memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke rumah yang saat itu keadaan pintu sudah dalam keadaan terbuka., Sang Bos pun memerintahkan anak buahnya “Tino!!! Bastian !!!! Kalian masuk ke dalam, periksa apa yang terjadi, periksa sampai ke ruangan atas juga!!!, Agus!!! Kardi!!! Kalian ikuti di belakangnya”, Tino dan Bastian pun memasuki rumah dengan sigap, Agus dan Kardi pun mengikuti di belakangnya. “Barjoo, kau awasi sekitar sini.. dan selalu dekat dengan ku !!! Mengerti !!!”  Bisik sang Bos. “Siap Bos !!!” Subarjo mempererat pegangan tangan kirinya ke Lade  AK 47, sementara tangan kanannya menggenggam erat Pistol grip Laras panjang tersebut dengan mengepitkan popor di ketiak kanannya.

Baru 3 menit berlalu dari perintahnya, ia mendengar dari ruangan atas rumah terdengar 2 ledakan senjata, Dorrrr… dorrr…. Dua detik selanjutnya terdengar jendela rumah ruangan atas pecah di susul dengan sesosok tubuh jatuh sambil menjerit “Aaaaaaaaaggghhhhhhhhh”, buk !!! Suara tubuh yang jatuh itu terdengar keras menghantam bumi tidak jauh dari sang bos berjongkok di belakang mobil miliknya, mata sang bos terbelalak melihat sosok tersebut, ia kenal betul tubuh siapa itu, yaah itu tubuh anak buahnya yang bernama Tino, matanya menyipit, gerahangnya mengembung, nafasnya menghembus dengan berat, sementara Subarjo yang berada di sampingnya berbisik tanpa sadar, “Tinoooo” matanya berubah menjadi sayu, otak Subarjo  berfikir keras tentang siapa sebenarnya orang yang akan ia hadapi saat ini, sangat jelas ia melihat sahabatnya dengan kemampuan bertempur tingkat tinggi itu dilumpuhkan hanya dengan waktu yang singkat.

Belum sempat mereka berfikir lebih banyak lagi tiba-tiba terdengar suara teriakan “Aaaaghhh” sesosok tubuh seperti terdorong dengan kuat keluar melalui pintu teras atas dan menghantam pagar teras atas, selanjutnya tubuh itu jatuh tergeletak di teras lantai atas rumah tersebut dalam keadaan diam, tubuhnya telungkup dan hanya terlihat wajah yang sudah memejamkan mata, tangan kanannya terlihat menggelantung ke bawah melalui celah pagar hias teras atas, Subarjo menggigil dan berkata sambil terbata-bata, “ Bo.. bo.. boosss, i…ituuu Bas… Bas…Bastian boss…” Sang Bos yang di ajak bicara hanya diam sembari membunyikan gesekan gerahamnya berkali-kali.

Tidak berselang begitu lama di dalam ruangan bawah terdengar kegaduhan, suara ledakan senjata disertai teriakan-teriakan, hanya berlangsung 5 menit ruangan itu kembali sunyi, diantara kegaduhan tersebut sang Bos dapat mengetahui kalau suara-suara  itu adalah suara anak buahnya Agus dan Kardi. Betapa sesaknya nafas ia saat itu, ia sempat berfikir siapa sebenarnya Piso Jalak itu. Telinganya tiba-tiba mendengar suara rintihan, “Sahabatku…. Tolong aku….” Suara itulah yang membuat darahnya kembali meluap. “Barjo… Ayo kita masuk!!!” Subarjo yang memang memiliki kemampuan dalam hal penyergapan langsung berlari zig-zag mendekati rumah tersebut, lalu Subarjo merapatkan punggungnya ke dinding samping pintu masuk, pintu yang memang sudah dalam keadaan terbuka lebih mudah ia lewati daripada pintu tertutup, karena sudah pasti ia harus melakukan satu dobrakan sebagai pembuka serangan, Subarjo meremas pistol grip senapan laras panjang dengan disertai nafas yang diusahakan teratur saat menghirup dan menghembuskannya, selanjutnya secara cepat ia tembakan 2 peluru ke dalam ruangan tanpa tujuan, hal itu dilakukan sebagai satu cara pengalihan konsentrasi musuh, kemudian dengan sigap Subarjo berguling beberapa kali di lantai rumah tersebut sembari mata tajamnya mencari dimana tempat yang tepat untuk berlindung dari serangan musuh. 

Mata Subarjo dengan cepat melihat lemari Jam Unik di pojok ruangan, dengan melakukan gulingan terlatih ia menuju lemari tersebut, tepat di samping lemari jam itulah Subarjo kembali merapatkan punggungnya ke dinding ruangan, sesaat kemudian Subarjo berniat melihat situasi di ruangan itu dan berusaha mendeteksi dimana keberadaan musuh yang akan dihadapinya, namun tiba-tiba sebuah tangan kiri yang kekar mencekik lehernya dan menekan kepalanya sehingga menempel di dinding rumah, senjata AK 47 segera ia pukulkan ke orang tersebut, namun sayang satu pukulan tepat bersarang di persendian pundak kanannya, hal itu menyebabkan tangan kanan Subarjo kehilangan tenaga, AK 47 pun jatuh dari genggamannya, Ia sempat mendengar sebuah nafas yang keluar masuk menimbulkan irama kemantapan, matanya sempat melihat sesosok tubuh yang sedang mencekiknya, tidak berselang lama ia melihat bagaimana telapak tangan kanan orang tersebut dengan jari-jari rapat membentuk sebuah pisau dengan sisi kanan telapak meluncur keras ke arah tenggorokannya sembari melepaskan tangan kiri yang mencekik lehernya, “Hekkkzzz” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Subarjo, ia merasakan bagaimana rasa sakit di lehernya dilengkapi dengan tersumbatnya jalan untuk bernafas, selanjutnya dunia menjadi gelap, tiada cahaya, tiada siapapun jua. 

Dalam keadaan seperti itu Subarjo tiba-tiba merasakan berada di alam lain, matanya melihat sebuah Bayangan Putih dengan sayap yang besar sekali, Bayangan tersebut semakin mendekatinya sembari membentangkan kedua sayap ke sisi kanan dan kiri, Sebenarnya dalam hitungan normal, kejadian ini terjadi begitu singkat, namun kedua mata Subarjo melihat betapa jelas perjalanan hidupnya mulai dari ia dilahirkan sampai keadaan saat ini, di sayap sebelah kanan Bayangan tersebut terlihat kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan teramat sedikit, yang sangat menyedihkan justru gambaran yang ada di sayap kiri memaksa Subarjo untuk menangis, disana terlihat perjalanan hidupnya di dunia ternyata sudah menyatu dengan nafsu angkara, bejat dan durjana, dengan sangat cepat tangan bayangan tersebut menepuk ubun-ubun kepalanya dan ia merasakan bagaimana sesuatu yang ada dalam tubuhnya tertarik paksa disertai dengan ribuan rasa sakit, sungguh rasa sakit ini belum pernah ia rasakan semasa hidup di dunia. Seluruh tenaga dan kesadarannya hilang, selanjutnya tubuh Subarjo jatuh terkulai dengan mata melotot seakan hendak keluar dari tempatnya, saat itu ternyata ruh pemilik tubuh tersebut sudah dibawa pergi oleh Bayangan putih yang tak lain adalah Malaikat Pencabut nyawa.

Rabu, 24 Januari 2018

PISO JALAK BAGIAN 2

Situasi yang hening tersebut terpecahkan oleh suara Piso Jalak yang berat dan mantap “Bagaimanapun kalian adalah caraka, maka ku hormati kalian karena sedang mengemban suatu perintah.” Kemudian Piso Jalak menekan tobol pelepas magazen dengan ibu jari tangan kanannya, terdengar sebuah suara “Klik” tiba-tiba magazen pistol FN tersebut terlepas ke bawah, dengan telunjuk tangan kiri Piso Jalak mendorong ke depan kunci penahan silinder pistol Revolver sehingga bagian pistol grip dan silender meregang, tangan kiri Piso Jalak diangkat ke atas selanjutnya secara otomatis 6 butir munisi caliber .38 berjatuhan ke tanah. Piso Jalak berdiri lalu berjalan menuju jalan yang sepi, tiga langkah berlalu dari Herman dan Andi, Piso Jalak membuang kedua pistol itu ke kanan dan ke kiri nya seraya berkata “ Besi buruk ini belum layak kalian pegang, berhati-hatilah menggunakannya karena hampir saja kalian merasakan bagaimana bahayanya kedua benda tersebut pada diri kalian tadi”. Herman dan Andi melihat Piso Jalak remang-remang menghilang di kegelapan malam, mereka berdua menghirup nafas yang panjang sekali, terlihat betapa wajah mereka berdua menemukan kebebasan yang amat besar, lalu masing-masing memungut kembali munisi yang berserakan di sekitar mereka, lalu berjalan memungut pistol masing-masing, keduanya masih tampak berdiam diri tanpa ingin saling bersapa, mereka larut dalam olah fikir jiwa yang bertanya dan berjawab sendiri. Herman melirik Andi dan berkata, “ Ayo!! Kita kembali” Andi tidak menjawab, dia hanya mengarahkan tubuhnya ke arah mobil mereka, mobil berbunyi dan meninggalkan area parkiran tersebut, remang, dingin, sepi, namun disana masih tertinggal dua jiwa yang merenungi kejadian yang baru saja mereka alami walau jasad mereka sudah meninggalkan jauh parkiran tersebut.

Sesampainya di rumah sang bos, keduanya menghadap, nampak seorang tua yang bertubuh terawat duduk di kursi yang besar sekali, minuman keras untuk penghangat badan terlihat di depannya, rokok besar berpipa gading gajah dengan ukiran naga terlihat indah dipandang mata. Di jarinya nampak cincin yang mewah, emas putih dihiasi permata dan bermata batu Mustika berwarna hijau bergambarkan awan, dengan santai orang tersebut berkata, “Kenapa kalian berdua, wajah kalian lusuh, dan nampak sekali kalian merasakan suatu sakit??” keduanya menunduk, lalu Herman berkata, “ Tugas telah kami laksanakan Boss, kami sudah bertemu langsung dengan Piso Jalak.” Laki-kaki tersebut tidak menjawab, ia hanya meminum setengguk minuman yang terlihat mahal tersebut. Herman berkata, “Maaf Bos, kami sebenarnya ada sedikit kesalah fahaman dengan Piso Jalak.” Orang yang dipanggil Bos itu melirik kedua anak buahnya, dengan suara datar ia bertanya : “Lalu ??” Herman menjawab, “Kami sadar, ternyata bos memang tidak salah dalam memilih orang.” Lelaki tua itu berdiri seraya berkata “ Hahahahaha, kalian belum melihat semuanya, kalian belum tahu betapa darah harus keluar secara paksa dari tubuh manusia, bila manusia itu bertemu dengan Piso Jalak.” Laki-laki tua itu memandang lukisan abstrak di dinding ruangannya yang menggambarkan keangkeran malam. Fikirannya kembali jernih saat mengingat bagaimana sahabatnya menelfon dirinya dengan nada yang amat ketakukan.

“Halooo sahabatku, tolong aku, dimana dirimu, tolong aku” sebuah suara dengan ketakutan yang amat sangat saat itu memekakan telinganya, ia menjawab “ Kenapa Tuan Kara?? Ada apa dengan diri mu??”  Suara dalam Hp tersebut berkata “Aku sedang menyelamatkan diri dari kejaran si Piso Jalak!! Anak buah ku sudah 5 yang dilumpuhkan oleh nya.” Ia pun menjawab “ Siapa Piso Jalak???? Siapa itu Piso Jalak??? Aku belum pernah mendengar namanya???” : ”Sudahlah, aku minta tolong kirim bantuan, aku menuju markas rahasia kita di titik dua tujuh, sekarang juga sahabat ku !!!, aku membutuhkan pertolongan mu, Jauhkan aku dari titisan iblis kegelapan Piso Jalak!!!!!” tuutt..tuuut..tuuuut, suara  Hp pun terputus, sang lelaki tua berteriak “Tuan Karaaaa!!! Halooo…. Halooo…halooo”. Hp pun di banting olehnya sembari mengumpat  “Kunyuuuuukkk!!! (ia mengepalkan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bungi menggemeretak) Agus!!!! Subarjo!!! Tino!!! Bastian!!! Kardi!!! Kalian ikut saya sekarang juga!!!  cepat!!! bawa senjata kalian masing-masing!!! Jangan lupa bawa laras panjang AK 47 juga, Cepaaaaaattt!!!!!” Orang-orang yang dipanggil tersebut dengan sigap berlarian menyiapkan perlengkapan, hanya dengan hitungan menit mereka berenam sudah menaiki mobil Terano warna hitam dan melaju kencang keluar dari rumah yang sebenarnya mirip dengan benteng istana-istana zaman kerajaan terdahulu.


Sesampainya di markas rahasia yang mereka sebut dengan titik dua tujuh tersebut sang lelaki yang selalu di panggil Bos tersebut terkesima, ia melihat 2 orang anak buah sahabatnya sudah keadaan merintih kesakitan tergeletak si pinggir jalan masuk gerbang markas rahasia tersebut, “Cepaaaaaaattt Barjooooo!!!!” Bentak sang Bos. Subarjo yang mendapat perintah langsung menginjang gas mobil Terano tersebut lebih dalam lagi. Tepat di halaman rumah yang laksana villa tersebut mobil Terano berhenti mendadak dengan suara rem mendecit, asap terlihat keluar dari ke empat ban yang bergesekan dengan aspal hotmik di area tersebut. Keenam penumpang langsung turun, mereka langsung mengokang senjata masing-masing, krak-krak, krak-krak, terlihat mata sang pemegang senjata sangat tajam dan haus darah, sementara sang bos menggenggam 2 pucuk pistol jenis Smith & Wesson 357 Magnum .38, nampak sang Bos saat itu terlihat seperti Cowboy karena Revolver jenis ini ber munisikan 6 butir dan berlaras panjang, dengan menggenggam 2 pucuk berarti ia berkesempatan untuk menembakan sebanyak 12 kali tembakan.