Sang Bos memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke rumah yang saat itu keadaan pintu sudah dalam keadaan terbuka., Sang Bos pun memerintahkan anak buahnya “Tino!!! Bastian !!!! Kalian masuk ke dalam, periksa apa yang terjadi, periksa sampai ke ruangan atas juga!!!, Agus!!! Kardi!!! Kalian ikuti di belakangnya”, Tino dan Bastian pun memasuki rumah dengan sigap, Agus dan Kardi pun mengikuti di belakangnya. “Barjoo, kau awasi sekitar sini.. dan selalu dekat dengan ku !!! Mengerti !!!” Bisik sang Bos. “Siap Bos !!!” Subarjo mempererat pegangan tangan kirinya ke Lade AK 47, sementara tangan kanannya menggenggam erat Pistol grip Laras panjang tersebut dengan mengepitkan popor di ketiak kanannya.
Baru 3 menit berlalu dari perintahnya, ia mendengar dari ruangan atas rumah terdengar 2 ledakan senjata, Dorrrr… dorrr…. Dua detik selanjutnya terdengar jendela rumah ruangan atas pecah di susul dengan sesosok tubuh jatuh sambil menjerit “Aaaaaaaaaggghhhhhhhhh”, buk !!! Suara tubuh yang jatuh itu terdengar keras menghantam bumi tidak jauh dari sang bos berjongkok di belakang mobil miliknya, mata sang bos terbelalak melihat sosok tersebut, ia kenal betul tubuh siapa itu, yaah itu tubuh anak buahnya yang bernama Tino, matanya menyipit, gerahangnya mengembung, nafasnya menghembus dengan berat, sementara Subarjo yang berada di sampingnya berbisik tanpa sadar, “Tinoooo” matanya berubah menjadi sayu, otak Subarjo berfikir keras tentang siapa sebenarnya orang yang akan ia hadapi saat ini, sangat jelas ia melihat sahabatnya dengan kemampuan bertempur tingkat tinggi itu dilumpuhkan hanya dengan waktu yang singkat.
Belum sempat mereka berfikir lebih banyak lagi tiba-tiba terdengar suara teriakan “Aaaaghhh” sesosok tubuh seperti terdorong dengan kuat keluar melalui pintu teras atas dan menghantam pagar teras atas, selanjutnya tubuh itu jatuh tergeletak di teras lantai atas rumah tersebut dalam keadaan diam, tubuhnya telungkup dan hanya terlihat wajah yang sudah memejamkan mata, tangan kanannya terlihat menggelantung ke bawah melalui celah pagar hias teras atas, Subarjo menggigil dan berkata sambil terbata-bata, “ Bo.. bo.. boosss, i…ituuu Bas… Bas…Bastian boss…” Sang Bos yang di ajak bicara hanya diam sembari membunyikan gesekan gerahamnya berkali-kali.
Tidak berselang begitu lama di dalam ruangan bawah terdengar kegaduhan, suara ledakan senjata disertai teriakan-teriakan, hanya berlangsung 5 menit ruangan itu kembali sunyi, diantara kegaduhan tersebut sang Bos dapat mengetahui kalau suara-suara itu adalah suara anak buahnya Agus dan Kardi. Betapa sesaknya nafas ia saat itu, ia sempat berfikir siapa sebenarnya Piso Jalak itu. Telinganya tiba-tiba mendengar suara rintihan, “Sahabatku…. Tolong aku….” Suara itulah yang membuat darahnya kembali meluap. “Barjo… Ayo kita masuk!!!” Subarjo yang memang memiliki kemampuan dalam hal penyergapan langsung berlari zig-zag mendekati rumah tersebut, lalu Subarjo merapatkan punggungnya ke dinding samping pintu masuk, pintu yang memang sudah dalam keadaan terbuka lebih mudah ia lewati daripada pintu tertutup, karena sudah pasti ia harus melakukan satu dobrakan sebagai pembuka serangan, Subarjo meremas pistol grip senapan laras panjang dengan disertai nafas yang diusahakan teratur saat menghirup dan menghembuskannya, selanjutnya secara cepat ia tembakan 2 peluru ke dalam ruangan tanpa tujuan, hal itu dilakukan sebagai satu cara pengalihan konsentrasi musuh, kemudian dengan sigap Subarjo berguling beberapa kali di lantai rumah tersebut sembari mata tajamnya mencari dimana tempat yang tepat untuk berlindung dari serangan musuh.
Mata Subarjo dengan cepat melihat lemari Jam Unik di pojok ruangan, dengan melakukan gulingan terlatih ia menuju lemari tersebut, tepat di samping lemari jam itulah Subarjo kembali merapatkan punggungnya ke dinding ruangan, sesaat kemudian Subarjo berniat melihat situasi di ruangan itu dan berusaha mendeteksi dimana keberadaan musuh yang akan dihadapinya, namun tiba-tiba sebuah tangan kiri yang kekar mencekik lehernya dan menekan kepalanya sehingga menempel di dinding rumah, senjata AK 47 segera ia pukulkan ke orang tersebut, namun sayang satu pukulan tepat bersarang di persendian pundak kanannya, hal itu menyebabkan tangan kanan Subarjo kehilangan tenaga, AK 47 pun jatuh dari genggamannya, Ia sempat mendengar sebuah nafas yang keluar masuk menimbulkan irama kemantapan, matanya sempat melihat sesosok tubuh yang sedang mencekiknya, tidak berselang lama ia melihat bagaimana telapak tangan kanan orang tersebut dengan jari-jari rapat membentuk sebuah pisau dengan sisi kanan telapak meluncur keras ke arah tenggorokannya sembari melepaskan tangan kiri yang mencekik lehernya, “Hekkkzzz” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Subarjo, ia merasakan bagaimana rasa sakit di lehernya dilengkapi dengan tersumbatnya jalan untuk bernafas, selanjutnya dunia menjadi gelap, tiada cahaya, tiada siapapun jua.
Dalam keadaan seperti itu Subarjo tiba-tiba merasakan berada di alam lain, matanya melihat sebuah Bayangan Putih dengan sayap yang besar sekali, Bayangan tersebut semakin mendekatinya sembari membentangkan kedua sayap ke sisi kanan dan kiri, Sebenarnya dalam hitungan normal, kejadian ini terjadi begitu singkat, namun kedua mata Subarjo melihat betapa jelas perjalanan hidupnya mulai dari ia dilahirkan sampai keadaan saat ini, di sayap sebelah kanan Bayangan tersebut terlihat kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan teramat sedikit, yang sangat menyedihkan justru gambaran yang ada di sayap kiri memaksa Subarjo untuk menangis, disana terlihat perjalanan hidupnya di dunia ternyata sudah menyatu dengan nafsu angkara, bejat dan durjana, dengan sangat cepat tangan bayangan tersebut menepuk ubun-ubun kepalanya dan ia merasakan bagaimana sesuatu yang ada dalam tubuhnya tertarik paksa disertai dengan ribuan rasa sakit, sungguh rasa sakit ini belum pernah ia rasakan semasa hidup di dunia. Seluruh tenaga dan kesadarannya hilang, selanjutnya tubuh Subarjo jatuh terkulai dengan mata melotot seakan hendak keluar dari tempatnya, saat itu ternyata ruh pemilik tubuh tersebut sudah dibawa pergi oleh Bayangan putih yang tak lain adalah Malaikat Pencabut nyawa.
Mata Subarjo dengan cepat melihat lemari Jam Unik di pojok ruangan, dengan melakukan gulingan terlatih ia menuju lemari tersebut, tepat di samping lemari jam itulah Subarjo kembali merapatkan punggungnya ke dinding ruangan, sesaat kemudian Subarjo berniat melihat situasi di ruangan itu dan berusaha mendeteksi dimana keberadaan musuh yang akan dihadapinya, namun tiba-tiba sebuah tangan kiri yang kekar mencekik lehernya dan menekan kepalanya sehingga menempel di dinding rumah, senjata AK 47 segera ia pukulkan ke orang tersebut, namun sayang satu pukulan tepat bersarang di persendian pundak kanannya, hal itu menyebabkan tangan kanan Subarjo kehilangan tenaga, AK 47 pun jatuh dari genggamannya, Ia sempat mendengar sebuah nafas yang keluar masuk menimbulkan irama kemantapan, matanya sempat melihat sesosok tubuh yang sedang mencekiknya, tidak berselang lama ia melihat bagaimana telapak tangan kanan orang tersebut dengan jari-jari rapat membentuk sebuah pisau dengan sisi kanan telapak meluncur keras ke arah tenggorokannya sembari melepaskan tangan kiri yang mencekik lehernya, “Hekkkzzz” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Subarjo, ia merasakan bagaimana rasa sakit di lehernya dilengkapi dengan tersumbatnya jalan untuk bernafas, selanjutnya dunia menjadi gelap, tiada cahaya, tiada siapapun jua.
Dalam keadaan seperti itu Subarjo tiba-tiba merasakan berada di alam lain, matanya melihat sebuah Bayangan Putih dengan sayap yang besar sekali, Bayangan tersebut semakin mendekatinya sembari membentangkan kedua sayap ke sisi kanan dan kiri, Sebenarnya dalam hitungan normal, kejadian ini terjadi begitu singkat, namun kedua mata Subarjo melihat betapa jelas perjalanan hidupnya mulai dari ia dilahirkan sampai keadaan saat ini, di sayap sebelah kanan Bayangan tersebut terlihat kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan teramat sedikit, yang sangat menyedihkan justru gambaran yang ada di sayap kiri memaksa Subarjo untuk menangis, disana terlihat perjalanan hidupnya di dunia ternyata sudah menyatu dengan nafsu angkara, bejat dan durjana, dengan sangat cepat tangan bayangan tersebut menepuk ubun-ubun kepalanya dan ia merasakan bagaimana sesuatu yang ada dalam tubuhnya tertarik paksa disertai dengan ribuan rasa sakit, sungguh rasa sakit ini belum pernah ia rasakan semasa hidup di dunia. Seluruh tenaga dan kesadarannya hilang, selanjutnya tubuh Subarjo jatuh terkulai dengan mata melotot seakan hendak keluar dari tempatnya, saat itu ternyata ruh pemilik tubuh tersebut sudah dibawa pergi oleh Bayangan putih yang tak lain adalah Malaikat Pencabut nyawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar