Minggu, 25 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 7

Akhirnya Bus berhenti di depan sebuah masjid, sang kondrektur menerima uang dari Piso Jalak sambil menahan nafas, Piso Jalak meliriknya lalu tanpa sadar Piso Jalak tersenyum, sang kondrekturpun seperti menemukan nafas lega, ia membalas senyum tersebut sambil berkata “Terima kasih bang”. Piso Jalak meraih sakunya, ia mengeluarkan rokok miliknya, lalu diberikan kepada kondrektur tersebut lalu berjalan menuju jalan sempit samping masjid, buspun beranjak pergi melanjutkan perjalanan. Di depan masjid Piso Jalak sempat melirik seorang tua di dalam masjid yang sedang sholat malam, dilihatnya jam tangan miliknya, pukul 03.15, Piso Jalak kembali berjalan, namun ia hentikan perjalanannya setelah mendengar batuk yang berulang-ulang kali dari orang tua di dalam masjid. Nampak orang tua itu baru usai melaksanakan sholat malam, karena batuk yang tiada reda maka sang orang tua pun menuju ke tempat wudhu, mata Piso Jalak terbelalak melihat orang tua tersebut meminum air wudhu yang belum dimasak tersebut. Piso Jalak teringat dua sahabat karibnya, Laga Puntha dan Rala Juntai saat berguru kepada seorang bijaksana dan lembut, Syajaratul Yaqin mereka bertiga menyebut Sang Guru yang senantiasa mengajarkan bagaimana seorang manusia selayaknya mengenali Siapa Tuhan, siapa manusia atau hamba dan bagaimana sejatinya diri juga bagaimana sejatinya hidup. Syajaratul Yaqin hanya memiliki murid 3 orang, dan mereka bertiga selalu bersama-sama selama 4 tahun, selama 4 tahun itu ketiga murid diajarkan puasa Nabi Daud AS, dengan 1 hari puasa dan 1 hari tidak, setiap buka puasa ketiga murid selalu berbuka puasa dengan meminum air wudhu dari pancuran saat berwudhu, maka mereka bertiga menamai diri mereka sebagai saudara jiwa SEPEMINUMAN AIR WUDHU YANG TERTELAN. Sayajaratul Yaqin tinggal di pinggiran hutan belantara, musholanya terbuat dari bambu, atapnya dari alang-alang, di pinggirnya ada sungai yang besar sebagai pembatas hutan dengan desa, disana Piso Jalak berguru secara diam-diam, karena saat itu Piso Jalak sendiri adalah santri Pondok Walyaathalatof  dimana ia bersembunyi dan tempat pelarian saat kabur dari penjara. 

Disanalah Piso Jalak menerima pengetahuan tentang Lafadz Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) secara hikmah, lafadz tersebut bermula dari huruf BA, maknanya adalah BABUN yaitu pintu, dimana manusia pasti akan memilih dan melewati pintunya masing-masing, namun carilah yang BA (BarakAllah / yang berkahi oleh Allah), SIN dapat dimaknai dengan kata salam (selamat) bila dirangkai akan menjadi sebuah makna tentang seorang anak manusia dalam menemukan pintu yang sudah dipilih untuk jalan kehidupan yang ia jalani, maka anak manusia itu harus menyertakan sabar dan benar saat berjalan memasuki pintu tersebut agar selamat, karena pintu-pintu itu ada yang baik dan yang buruk, lalu akan bertemu dengan MIM yaitu Ma'rifat (mengenal), mengenal siapa? MILLAH, mengenal ALLAH, disanalah anak manusia harus mengisi Pintu hidupnya dengan Sifat Allah yang AR-ROHMAN Maha Pengasih dan AR-ROHIM Maha Penyayang, maka rangkuman makna dari Bismillahirrahmanirrohim adalah bila manusia sudah memilih dan menemukan pintu masing-masing, apapun itu yang dipilih, sebagai contoh jalan Petani, Tentara, Polisi, Guru, Pedagang ataupun yang lainnya, namun ada juga pintu lainnya yang tidak benar sebagai contoh pintu sebagai pencuri, perampok atau sebagainya, semua tersedia karena Ar-Rohman adalah Maha Pengasih, semua dikasih, namun manusia tersebut tidak akan bertemu Ar-Rohim (Maha Penyayang), bisa saja seorang hamba itu dikasih (dikabulkan hajadnya) mereka belum tentu disayang, karena BA yang dimaksudkan bisa juga berarti BAROKALLAH (Yang diberkahi Allah), sehingga pada puncak tujuannya manusia yang memilih pintu hidupnya akan mencari serta mengenal Allah SWT dengan segala rahasia NYA, berpondasi sabar dan benar tersebut maka  manusia akan menemukan rasa syukur dan ikhlas terhadap apapun yang digariskan pada hidupnya, sebenarnya itu adalah bukti nyata Allah SWT selalu mengasihi dan menyayangi hamba-hamba NYA maka untuk berterima kasih kepada Allah SWT seorang hamba harus selalu berbelas kasih dan mempunyai rasa sayang terhadap sesama. 

Air mata Piso Jalak menetes tanpa disadarinya, dibukanya kedua telapak tangan miliknya, terlihat bagaimana tangan tersebut sudah banyak berlumur dosa, hati Piso Jalakpun berbisik “Aku akan temukan sejatinya diri dan sejatinya hidup ini, hanya musrik yang tidak akan diampuni oleh Allah Azizul Jabbar, yang lainnya semoga akan terampuni kelak bila bertaubat, saat ini jalan yang ku lalui adalah ini, Semua tetesan air yang menguap keangkasa dan berjatuhan ke bumi ini, walau jatuh di puncak gunung sekalipun pasti memiliki cara sendiri-sendiri dan mengalami banyak kejadian dalam perjalanan kembali ke samudera”  sesaat kemudian tiba-tiba Piso jalak dikagetkan oleh sebuah sapaan “Nak, mengapa berdiri saja disitu?” ternyata si pemilik suara itu adalah sapaan orang tua yang tadi batuk, “Tidak apa-apa pak” Piso Jalak menjawab, “Anak adalah orang yang ngontrak di belakang masjid ya ?” orang tua itu kembali bertanya, “Iya pak” Piso Jalak berusaha menjawab seadanya. “Nak saat ini keadaan masjid selalu sepi, sudikah anak menemani bapak sholat subuh berjamaah?” orang tua itu memberikan tawaran yang membuat hati Piso Jalak berdetak, dengan tersenyum Piso Jalak menjawab  Terima kasih pak, bapak menawarkan kebaikan kepada saya, saya senang mendengarnya, insan manusia yang selalu berusaha berbuat kebajikan dan selalu mengajak kebaikan walau itu sekecil apapun, tidak perduli diterima atau tidak oleh orang lain, maka yakinlah kita tidak akan pernah tahu dari kebaikan-kebaikan mana yang telah kita lakukan, disitulah justru membuat Allah SWT membukakan pintu Ridho NYA untuk kita ” 

Piso Jalak membalikkan tubuhnya kemudian berjalan meninggalkan orang tua tersebut, sang orang tua terpaku mendengar ucapan Piso Jalak yang memiliki makna yang harus ditelaah secara seksama, hatinya mulai berbisik “Siapa engkau sebenarnya nak?, orang-orang mengatakan engkau adalah seorang yang tertutup dan pendiam, juga tidak mau bergaul dengan siapapun jua, namun semua tentang dirimu sulit diketahui hanya dengan lintasan sebuah pemikiran ”. 

Piso Jalak sembari berjalan perlahan dengan kepala menunduk menghela nafasnya, di dalam hatinya berkata “Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin…. Segala Puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, sungguh segala puji-pujian hanyalah milik Allah, dalam kehidupan banyak sekali pujian di alamatkan kepada manusia, hewan, bebatuan dan lainnya, namun bila kita kupas secara hakikat pujian tersebut memang terbagi menjadi 4 macam, 

1. Puji khudus ‘alaa khudus, yaitu makhluk memuji makhluk, ini terjadi bisa saja karena makhluk (contoh manusia) yang memiliki kebaikan, pintar, bijaksana ataupun yang lainnya, itu hanyalah sebatas pujian sesama makhluk tanpa membandingkan terhadap Allah SWT. 

2. Puji khudus ‘alaa Khodim, manusia memuji Tuhannya, ini bisa saja berupa kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir ataupun Tahlil. 

3. Puji Khodim ‘alaa khudus, Tuhan memuji hamba-Nya, sebuah Sirr (Rahasia) Allah SWT saat memuji seorang hamba yang mungkin saja karena kepatuhan dan ketaatan kepada orang tua, atau seorang dermawan yang ikhlas atau seseorang yang rajin sholat malam dengan kekhusukannya, yang jelas Allah SWT berfirman dalam surat Al Qalam ayat 4 dengan tujuan memuji Rasulullah Muhammad SAW, yang berbunyi ”Wainnaka la`ala khulukin azhiim”, (Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki budi pekerti yang sangat agung.) juga pada surat At-Taubah ;128 , “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.” 

Dan yang ke 4 adalah puji Khodim ‘alaa Khodim, ini bisa kita lihat betapa Allah SWT memuji diri-Nya sendiri dengan 99 Asmaul Husna, dimana Allah itu Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Bijaksana dan lain-lain.” Dengan mata yang mulai sayu Piso Jalak membayangkan betapa dunia ini akan damai dan tenang bila masing-masing umat beragama secara kaffah (keseluruhan) memahami ajaran dan tujuan masing-masing agamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar