Sesampainya di ruangan atas, Piso Jalak duduk santai di atas meja, tepat di samping meja tersebut sesosok tubuh sudah dalam keadaan tergeletak lemah, nampak sekali tubuh sahabatnya sudah lumpuh dan terputus dari sumber energi yang ada. “Tuan Kara sahabatku…” Sang bos mendekati sahabatnya sambil memeriksa beberapa bagian tubuh sahabatnya yang terlihat memar. Mata sang bos terpana melihat luka memar itu jaraknya sekilan saja, sekilan dari tengah leher adalah persendian pundak, sekilan selanjutnya adalah persendian sikut, lalu sekilannya lagi adalah pergelangan tangan. Begitupun bila ia urutkan kebawah maka sekilan selanjutnya adalah ulu hati, pusar, kemaluan, tengah tulang paha, persendian lutut, tulang kering dan terakhir persendian mata kaki. Orang yang disebut dengan panggilan Tuan Kara tersebut memaksakan tersenyum, lalu dengan menahan sakit iapun berkata “Sahabatku, Master Ginsen, tolong aku”,
Sang Bos yang ternyata bernama Master Ginsen itupun membalas senyum sahabatnya, digenggamnya tangan sahabat dengan erat sekali, lalu ia menoleh ke arah Piso Jalak, “Piso Jalak!!! Lepaskan sahabatku, aku akan membayarmu 3 kali lipat dari orang yang menyuruhmu!! lalu 10 kali lipat aku membayarmu untuk melenyapkan orang yang menyuruhmu!!” , Master Ginsen berkata sambil memandang Piso Jalak dengan tajam. Sebuah wajah angker, dengan mata tajam, berkumis tipis melintang, terlihat sedikit jenggot pendek di dagu orang tersebut, rambutnya ikal, di jarinya sebuah rokok filter terus ia isap berulang-ulang, tiba-tiba suara serak dan berat keluar dari mulut orang tersebut “Aku memang seorang pembunuh, namun aku tidak ingin menjadi seorang yang munafik!!” Piso Jalak mendekati kedua orang tersebut, sebenarnya saat itu sang bos yang dalam keadaan jongkok bisa saja meraih pistol Walther miliknya, namun ia terus menahan gejolak di hatinya untuk tidak melawan dan ingin menyelidiki siapa sebenarnya lelaki kekar di hadapannya. Piso Jalak berhenti dua langkah di depan kedua orang di depannya sambil berkata “Yang memerintahkan aku adalah seorang iblis, kalianpun iblis, dan mungkin saja aku juga iblis, maka sesama iblis seharusnya mengerti tugasnya masing-masing”,
Piso Jalak membalikkan tubuhnya lalu berjalan santai menuju halaman teras atas kamar tersebut, rokok di jarinya ia jentikan ke kanan dan jatuh di lantai kamar atas tersebut, tiba-tiba Piso Jalak berlari keluar ruangan tersebut dan melompati pagar teras atas, tanpa diduga Master Ginsen yang sedang memeluk sahabatnya, dalam keadaan melompat ia melihat tubuh Piso Jalak berputar arah menghadap ke arah mereka berdua dan tangannya kirinya mencabut sebuah badik berwarna kuning emas dari pinggang kirinya, dalam keadaan melompat itu Piso Jalak mencabut badik tersebut dengan tangan kanannya, badik itu mengeluarkan bias cahaya kuning keemasan, kemudian tangan kanan dan kiri direntangkan lurus kearah samping tubuh, tiba-tiba badik yang sudah tercabut itu terbelah menjadi 3, mata pisaunya melengkung dengan sisi tajam mengarah keluar, bentuknya bulat melingkar laksana CAKRA, kemudian Piso Jalak meleparkan badik yang sudah berubah bentuk tersebut dengan cepat sekali kearah sahabatnya sambil berteriak “Aku Piso Jalak! seorang Iblis yang tidak ingin gagal dalam setiap melaksanakan pekerjaan!!”, badik yang sudah bermetamorpose mirip CAKRA tersebut berputar cepat dan dengan tepat bersarang di tenggorokan sahabatnya, walau sebenarnya jarak sahabatnya hanya 2 jari tertutup oleh wajah Master Ginsen, “Akhhh” sahabatnya mengeluarkan suara meregang, darah keluar dengan cepat, Master Ginsen berteriak “Tuan Karaaa… tahan!!!”, ia melihat benda tersebut berputar memotong urat leher sahabatnya, saat itu matanya sempat melirik Piso Jalak merapatkan tangan kirinya yang memegang warangka badik tersebut ke tengah-tengah ulu hati Piso Jalak, lalu sebuah hal menakjubkan terjadi, Badik yang terbelah menjadi 3 dan melengkung itu seperti tertarik kembali pulang ke arah warangka badik di tangan Piso Jalak, tangan kanan Piso Jalak dengan sigap meraihnya kemudian cakra tersebut berubah menjadi badik seperti semula, mata Master Ginsen berubah menjadi merah, ia cabut pistol Walther dari betis kanannya dan berlari menuju teras ruangan atas tersebut lalu berteriak, “Ibliss kau Piso Jalak!!!!” lalu ia berlari dan mengarahkan Pistolnya ke arah Piso Jalak yang sedang melompat sambil menembakan pistol tersebut berulang-ulang sampai 5 kali tembakan, namun pekarangan di halaman tersebut terlihat sepi tanpa adanya Piso Jalak yang ia kejar, hanya terlihat sesosok mayat anak buahnya dan mobil Terano miliknya, kekesalannya memuncak, dengan hentakan emosi Master Ginsen menendang mayat Bastian yang ada di bibir teras sambil mengeluarkan suara nafas yang keras, ia sempat memandangi jenazah anak buahnya, tiba-tiba hatinya menjadi takjub, ia baru menyadari bahwa semua korban Piso Jalak mengalami kematian disebabkan oleh sebab yang sama, yaitu leher para korbannya mengalami kerusakan karena benturan benda keras seperti yang dialami oleh Subarjo, yaa itu pasti disebabkan oleh tangan kokoh milik Piso Jalak. Sesaat kemudian sang Bos berlari menuju ke tubuh sahabatnya yang ternyata sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar