Selasa, 27 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 8

Piso Jalak memasuki rumah kontrakannya, setelah membuka jaket miliknya, Piso Jalak duduk di kursi yang hanya bertemankan 1 meja saja, diperhatikannya map yang tersegel rapat, di sobeknya map tersebut, di dalamnya ada sebuah cek tunai Rp. 100 juta sebagai DP, dan terlihat sebuah Foto seorang Anggota Polisi berpangkat AKP, wajah Polisi itu sangat tampan, matanya terlihat tajam dan jeli, Piso Jalak menarik nafas panjang sambil berguman dalam hati “Aku tidak mengenalmu, namun nampaknya dirimu akan segera bertemu denganku, yah dengan malaikat kematianmu ”Piso Jalak menggenggam gelas berisi air putih lalu meminumnya, dalam keadaan sedang menggenggam gelas itulah Piso Jalak memejamkan matanya, ia kembali mengingat bagaimana dulu ia sampai di jebloskan ke Penjara …. Saat itu usianya masih beranjak 9 tahun…

“Piso…. Pisoooo…” seorang ibu dengan lengkingan kuat mencari anaknya sembari membawa seember air yang ia siramkan ke tumpukan daun kering, plastik dan kertas yang terbakar. “Anak bandel, dimana dirimu?” sesekali kepala sang ibu menoleh ke kanan dan ke kiri, namun sang anak tak juga terlihat. Di balik sebuah belukar sang anak tersenyum sendiri, yaah itulah masa kecil Piso Jalak, ia hobi sekali membakar apapun yang ia lihat mudah dibakar, entah sudah berapa kali ia melakukannya, pertama kali ia membakar sampah, kedua telinganya sampai merah dijewer sang ibu, namun lama kelamaan sang Piso Jalak semakin menikmatinya, ia terus membakar, membakar dan membakar apapun yang mudah ia nyalakan. 

Sampai pada suatu sore hari Piso Jalak mengintip ibunya dalam keadaan lelah dan tertidur di dalam rumahnya, memang saat itu ibunya terlihat bekerja banyak sekali mengurusi dan membersihkan rumah dan pekarangan, niat Piso Jalak menjadi besar untuk memenuhi hobinya, secara sembunyi-sembunyi Piso Jalak mendekati sampah-sampah yang rencana akan dibuang oleh ibunya ke kotak sampah di ujung rumahnya yang berjarak 10 meter, sampah-sampah itu belum sempat dibuang dan masih berada di dekat pintu belakang rumahnya, Piso Jalakpun beraksi, ia mulai membakar sampah-sampah tersebut, dengan sigap korek api ia mainkan, apipun mulai terlihat keluar dari tumpukan sampah tersebut, Piso Jalak terus mengumpulkan yang lainnya hingga menggunung, saat api semakin membesar Piso Jalak berlari menuju semak belukar untuk mencari daun-daun kering lainnya, saat itu Piso Jalak melirik bagaimana angin berhembus kencang sehingga membuat api itu membesar dan sampah yang terbakar berterbangan, ia berlari mendekat namun api sudah berterbangan kemana-mana.

Piso Jalakpun panik dan berlari bersembunyi, ia sangat takut ibunya akan marah besar melihat kenakalan dirinya, tiba-tiba Piso Jalak merasakan takut yang sebesar-besarnya saat melihat api, selama ini bila ia melihat api maka akan membuat hatinya senang, hatinya semakin berdetak menahan rasa takut ketika melihat api tersebut terbang terbawa angin dan sebagian sampah yang terbakar mulai menyambar dapur yang ada di belakang rumahnya, Piso Jalak semakin gemetar, dilihatnya dinding dapur yang terbuat dari papan mulai terbakar, bibirnya tanpa sadar menyebut Nama Allah Tuhannya, dalam situasi seperti itu Piso Jalak hanya mampu menangis melihat bagaimana api tersebut dengan cepat merambat ke seluruh rumahnya, tubuhnya bergetar dan lemas, mulutnya terkunci sehingga tidak dapat berteriak, warga sekitar berlarian membawa air berusaha memadamkan api tersebut, Piso Jalak semakin menangis membayangkan suara teriakan ibunya yang marah besar dan pasti akan memukul pantatnya sampai biru.

Namun hiruk pikuk suara teriakan warga dan masyarakat sekitar yang sedang berusaha memadamkan api tak juga menghantarkan suara lengkingan ibunya, hati Piso Jalak tiba-tiba mengharapkan agar muncul teriakan-teriakan marah dari ibunya, kini perasaan takut dimarah oleh sang ibu berubah menjadi takut bila suara teriakan itu tidak keluar dari mulut ibunya, benar saja suara teriakan marah sang ibu tersebut tidak pernah ia dengar sampai api meninggi, saat itulah Piso Jalak tiba-tiba mendapatkan sebuah tenaga luar biasa dari dalam jiwanya, ia berteriak sambil berlari “Ibuuuuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu ”. 

Piso Jalak berlari menuju rumahnya, namun warga memegangnya dan menghalanginya untuk mendekati api yang sangat besar, “Lepaskaaaaaan!! lepaskaaaaaaaaaan!! ibuku ada di dalam!! ibuku ada di dalaaaaaaaaaaaaammmm!!!!”. Piso Jalak meronta-ronta dan menendang serta memukul orang yang memeganginya, salah seorang warga berteriak “Cepaaaaat panggil pak Supari, beliau sedang piket di Koramil!!! ”, salah satu wargapun berlari menuju Koramil untuk memanggil pak Supari, ayah dari Piso Jalak, sementara Piso Jalak berusaha melepaskan tangan yang membekapnya, ia gigit tangan tersebut, saat Piso Jalak hendak berlari ia merasakan ada sebuah pukulan ditengkuknya, matanya berkunang-kungan, dunia menjadi gelap, kemudian Piso Jalak tidak mengetahui apapun yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar