Jumat, 09 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 4

Subarjooooo, dimana kamuuu?” Sang Bos berteriak, kemuadian ia menyelinap masuk sembari merentangkan kedua tangan yang menggenggam pistol S&W 357 untuk berjaga-jaga dan siap menembak bila ia melihat musuhnya, mata sang bos terbelalak melihat Subarjo sudah telungkup tak bernafas, fikirannya berputar mencari jalan keluar, bagaimanapun kelima anak buahnya bukan orang sembarangan, namun kelimanya kini berhasil dilumpuhkan hanya dengan waktu yang singkat. Sebagai orang professional maka sang bos berteriak “Baiklah… siapapun engkau wahai orang yang bernama Piso Jalak!!! Aku tidak ada urusan dengan mu!!” Sang Bos berjalan santai dengan mata yang sangat cekatan menyapu seluruh ruangan, ia berhenti di depan sebuah meja dan meletakan dua pistolnya ke atas meja tersebut. “Aku sudah meletakan senjataku, keluarlah, aku ingin melihat siapa sebenarnya engkau!!” Sang bos sempat menempelkan betis kaki kirinya ke betis kanannya, disana terselip pistol ciss Walther PPK Caliber 2,2 mm dengan 7 butir munisi di magazennya, kedua tangannya diangkat yang memberikan isyarat bahwa ia sedang ingin bernegoisasi dengan musuhnya, matanya sempat terpejam membaca “Yoo Jabaraut, Petak gelap seketi” suatu rapalan yang ia dapatkan dari seorang guru spiritualnya bila dalam keadaan bahaya, ia sempat mengingat betapa di dalam sabuk miliknya tersimpan Batu Badar Besi yang sudah berkali-kali ia coba khasiatnya sebagai alat kebal terhadap berbagai macam benda tajam. 

Walau dalam keadaan dipaksakan tenang sebenarnya hatinya tetap bergemuruh was-was karena musuhnya kali ini benar-benar tidak bisa ia anggap enteng. Mata sang Bos melihat sebuah hembusan asap rokok melayang bebas dari balik sebuah pintu, sesaat ia mendengar sebuah langkah mendekat, matanya sedikit menyipit, berusaha melihat dengan jelas sosok yang muncul dari balik pintu tersebut, seorang lelaki berbadan kekar, dengan menggunakan topi hitam ala cowboy, jas panjang kulit seperti yang dipakai orang-orang eropa, sepatunya panjang seperti sepatu bot, warnanya hitam dan ia yakin itupun terbuat dari kulit asli, di lehernya nampak terlilit kain warna hitam menandakan kegunaan untuk menutupi hidung dan mulut sebagai bentuk penyamaran. “Itukah Piso Jalak… bertempur dengan lima anak buahku yang dilengkapi oleh senjata api namun masih merokok dengan santainya, hmmmm sungguh orang yang luar biasa, dia berani menunjukan wajahnya di hadapan korbannya, ini merupakan sebuah keyakinan bahwa ia pasti akan melenyapkan sasarannya.” Guman Sang bos dalam hati. 

Mata sang bos tetap mengawasi Piso Jalak yang tenang dan berjalan santai menaiki tangga rumah tersebut, ia mendekati suara rintihan yang ada di ruangan atas tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya masih ada orang lain di sekitarnya, sang bospun mengikuti di belakang Piso Jalak dengan jarak 4 meter, ia tetap  mengangkat tangannya tanda ia sedang menghentikan perlawanan, sang Bos belum bisa memutuskan untuk mencabut pistol dibetisnya, karena dibenaknya masih mempertimbangkan betapa musuh di depannya akan dengan mudah bisa melumpuhkan dirinya walaupun nampak jelas dimatanya si Piso Jalak tetap berjalan tenang tanpa menghiraukan di belakangnya ada seorang musuh dengan pistol tersembunyi dibetis yang kapan saja dapat digunakan untuk menghabisi nyawanya. Sang bos pun berkata dalam hati “Piso Jalak, aku yakin, engkau memperhatikan bayanganku yang ada di dinding, karena bayangan tersebut terlihat jelas sedang mengangkat tangan, itu karena pintu di luar memantulkan cahaya matahari, hmmmm sungguh cerdik juga tuyul satu ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar