Kamis, 22 Februari 2018

PISO JALAK BAGIAN 6

Di depan lukisan abstrak tersebut mata sang Bos terlihat seperti berkaca-kaca, sahabat terbaiknya yang banyak membantu dirinya tewas mengenaskan justru di dalam pelukannya. Cerutu besar kembali ia hisap, kemudian dengan mata yang tajam ia memandang kedua anak buahnya. “Pergilah, kalian berdua justru membuat aku terbayang kembali betapa aku tak berdaya di depan Piso Jalak!! Aku sudah mengirim pembunuh-pembunuh bayaran untuk membunuhnya, namun selalu gagal, bahkan sudah puluhan kali aku membayar Piso Jalak untuk membunuh sasaran yang sebagian besar sebenarnya bertujuan agar ia mati di tangan orang menunggunya, semua ku lakukan agar Piso Jalak tewas dalam tugasnya, sayang hal itu belum terwujud sampai sekarang!!”  Herman dan Andi langsung menunduk hormat dan segera pergi, mereka takut sang bos naik darah hingga mereka harus menerima hal yang tidak akan pernah mereka bayangkan.

Setelah berhasil memberi pelajaran kepada Herman dan Andi, Piso Jalak berjalan menuju pemberhentian Bus, di jalan kaki lima Piso Jalak berjalan perlahan sembari menikmati rokok yang sebenarnya berbahaya bagi paru-parunya, namun ia sadar betapa petani tembakau dan warung emperan bisa menghasilkan pendapatan tambahan untuk menghidupi keluarga mereka dengan berjualan benda yang hanya menghasilkan asap polusi ini, “Semua selalu menghasilkan sebab akibat, baik yang saling menguatkan ataupun kebalikannya, inilah kehidupan, di satu sisi menguntungkan di satu sisi lagi merugikan, contoh ringan ada penjual bakso berdampingan dengan penjual es, bila terik matahari sangat panas maka penjual es laku keras dan penjual bakso hanya bisa melihat betapa penjual es kewalahan, namun bila keadaan mendung dan gerimis, situasi justru sebaliknya, kita selaku insane seharnya saling menyadari akan kodrat yang sudah di berikan oleh Allah SWT, bila keduanya saling menghargai dan saling mengerti maka pelanggan yang makan bakso tak salah juga bila melengkapi minumnya dengan es”. Tiba-tiba matanya menangkap pecahan beling botol suplemen dan botol beralkohol di jalan kaki lima tersebut, Piso Jalak mendekatinya lalu berjongkok, ia teringat kata-kata Gurunya, “ Muridku semua, bila kalian melakukan dosa maka kalian akan mempertanggung jawabkan sendiri dosa kalian tersebut, tetapi ada juga semacam dosa yang dilakukan oleh orang lain namun kalian akan ikut menanggungnya juga bila kalian mendiamkannya, contohnya, bila ada pecahan benda tajam yang berbahaya di jalan kalian melihatnya dan bisa menghindarinya namun tidak menyingkirkannya lalu benda itu mencelakai orang di belakang kalian yang saat itu tidak tahu ada benda berbahaya yang akan di pijaknya, maka sebenarnya kalian sudah ikut andil dalam celakanya orang tersebut”. 

Piso Jalak mulai mengumpulkan pecahan-pecahan beling tersebut kemudian membuangnya ke tempat sampah di pinggir jalan tersebut, hatinya berguman “Aku ikhlas bila kelak dosa-dosaku yang besar ini diadili di yaumil akhir, namun aku tidak ingin ikut bertanggung jawab atas apa yang tidak ku lakukan, sungguh perbuatan sepele namun bisa jadi ganjalan kelak”. Piso Jalak melihat sekelilingnya hatinya berbisik “Negara ini sudah menentukan undang-undang untuk mengatur kelangsungan hidup rakyatnya, namun masyarakat selalu membebani dengan tingkah laku dari sudut pandang sendiri-sendiri, kadang kala banyak yang berkata kenapa minuman keras yang diemperan di razia namun pabriknya tidak ditutup, hehehe itulah pemikiran masyarakat awam. Bila dikaji lebih dalam mengapa Negara memberikan tempat untuk mabuk-mabukan, ya tempatnya di BAR karena disana di jaga bodyguard, lalu anak kecil yang belum dewasa pasti dilarang masuk, bahaya kerawanan terhadap masyarakat umum lebih minimal, tetapi bila di jual diemperan, siapapun pasti akan di beri oleh penjualnya, tidak pandang itu anak kecil sekalipun, minumnyapun di pinggiran jalan,  ini yang justru menimbulkan bahaya, karena siapapun yang lewat bisa jadi korban orang-orang yang sedang mabuk, sayangnya manusia tidak menyadari sebab akibat sebuah perjalanan hidup manusia. ” 

Sesampainya di Halte Piso Jalak meneliti situasi mengenai orang dan keadaan, sisi pisau mata manusia sebenarnya bisa digunakan untuk melihat sesuatu sampai 90 derajat tanpa harus menoleh, hati Piso Jalak sempat terpokus melihat seorang pemuda diantara pemumpang yang sedang menunggu bus, pemuda itu berperawakan rapi dan memegang sebuah Koran, dari tatapan sang pemuda, Piso Jalak menangkap hampir 11 kali sang pemuda melirik tas milik seorang ibu setengah baya. Piso Jalak tersenyum sedikit melihatnya. Saat bus datang para penumpangpun menaiki bus yang sedang berhenti, sang ibu duduk di kursi pojok kanan belakang, di sebelahnya sang pemuda dan Piso Jalak di kursi pojok kiri belakang dekat dengan pintu dimana kondrektur bus yang sibuk berteriak mencari penumpang. Sekitar 10 menit berlalu sang pemuda yang tepat duduk di samping Piso Jalak mulai membuka Koran yang ia pegang, Koran ia buka menutupi tas milik sang ibu yang terlihat lelah, setelah berulang-ulang dibuka dengan menimbulkan bunyi namun sang ibu seperti tidak memperhatikan maka sebuah silet goal baru dikeluarkan dari sakunya, niatnya cuma satu yaitu untuk menyobek tas tersebut lalu mengambil isi tas tersebut, namun pemuda itu mengurungkan niatnya setelah mendengar bisikan Piso Jalak : ”Nampaknya engkau belum merasakan susahnya hidup di penjara anak muda!!” Sang pemuda pucat ternyata ia yang berhasil mengawasi sasaran operasionalnya namun berhasil diawasi oleh orang lain. Pemuda itupun berkata “Maaf maksud bapak apa?” Piso Jalak pun tersenyum “Tenagamu masih cukup kuat untuk memikul beban anak muda, keringat itu asin dan berbau tidak sedap, namun hasil dari keringat itu manis dan harum” sang pemuda menundukan kepalanya fikirannya berkecamuk, ia berfikir jangan-jangan orang yang di sampingnya ini adalah seorang anggota intel. “Maaf pak, siapa sebenarnya bapak, sepertinya bapak tahu saya dan pekerjaan saya.” Sang pemuda menunduk pasrah. 

Piso Jalakpun berkata sambil sedikit tersenyum “Anak muda, diantara sekian penumpang mata mu itu selalu mengawasi ibu itu berkali-kali, bahkan 11 kali engkau melirik tas milik ibu itu, terlebih lagi Koran yang engkau pegang itu Koran yang sudah lewat masa bacanya” Sang pemuda pun semakin menunduk “Maaf pak, tolong ampuni saya” Nada sang pemuda terlihat memelas. Piso Jalak berkata “Hmmm kita masih dilindungi oleh asas praduga tak bersalah” dirabanya saku sang Piso Jalak sambil mengeluarkan dompet, dikeluarkannya uang sebesar Rp. 300.000,- “Aku tahu uang ini tidak besar, namun bila jiwamu besar maka In Syaa Allah uang itupun akan besar!!”  Pemuda itupun menerima uang dari Piso Jalak sembari mencium tangan lelaki kekar dan sangar itu kemudian ia memberhentikan bus tersebut dan turun, mata Piso Jalak melihat tatapan sang pemuda dengan tatapan yang melukiskan kelahiran insan manusia baru. Buspun berjalan Piso Jalak berbisik untuk dirinya sendiri “Setiap insan manusia bisa saja dianggap Iblis oleh manusia-manusia lainnya, namun bisa juga dianggap Maalaikat oleh sebagian manusia lainnya” 

Sang kondrektur yang melihat kursi disamping Piso Jalak kosong, maka iapun duduk,  lalu kondrektur itu berkata “ Bang, kami tahu dia tu copet, tapi kami takut mobil kami menjadi tidak aman bila mengganggu pekerjaan mereka, kenapa abang lepaskan dia, dan sebenarnya abang ini siapa ?” Piso Jalakpun melirik sang kondrektur, suaranya yang berat menjawab “Saya seorang petinju mas”. “Hmmm lalu sekarang masih suka bertinju?” Tanya kondrektur kembali, “Tidak mas” Piso Jalak membuka rokok miliknya sembari menghidupkannya. “Kenapa bang?” sang kondrektur semakin gencar bertanya, “Saya libur di dalam penjara mas” sang kondrektur memandang Piso Jalak dengan seksama “Kenapa masuk penjara bang?” Piso Jalak menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya “Saya meninju orang yang banyak bertanya kepada saya hingga mati!!” mata sang kondrektur terbelalak, wajahnya menjadi pucat, sang kondrektur langsung berdiri ke bibir pintu sambil berteriak-teriak mengucapkan tempat yang sedang dituju bus tersebut, sembari teriak matanya terus melirik orang yang sangat angker di sampingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar