Tidak berselang
begitu lama di dalam ruangan bawah terdengar kegaduhan, suara ledakan senjata
disertai teriakan-teriakan, hanya berlangsung 5 menit ruangan itu kembali
sunyi, diantara kegaduhan tersebut sang Bos dapat mengetahui kalau
suara-suara itu adalah suara anak
buahnya Agus dan Kardi. Betapa sesaknya nafas ia saat itu, ia sempat berfikir
siapa sebenarnya Piso Jalak itu. Telinganya tiba-tiba mendengar suara rintihan,
“Sahabatku…. Tolong aku….” Suara
itulah yang membuat darahnya kembali meluap.
“Barjo… Ayo kita masuk!!!” Subarjo yang memang memiliki kemampuan dalam hal
penyergapan langsung berlari zig-zag mendekati rumah tersebut, lalu Subarjo
merapatkan punggungnya ke dinding samping pintu masuk, pintu yang memang sudah
dalam keadaan terbuka lebih mudah ia lewati daripada pintu tertutup, karena
sudah pasti ia harus melakukan satu dobrakan sebagai pembuka serangan, Subarjo
meremas pistol grip senapan laras panjang dengan disertai nafas yang diusahakan
teratur saat menghirup dan menghembuskannya, selanjutnya secara cepat ia
tembakan 2 peluru ke dalam ruangan tanpa tujuan, hal itu dilakukan sebagai satu
cara pengalihan konsentrasi musuh, kemudian dengan sigap Subarjo berguling
beberapa kali di lantai rumah tersebut sembari mata tajamnya mencari dimana
tempat yang tepat untuk berlindung dari serangan musuh.
Mata Subarjo dengan
cepat melihat lemari Jam Unik di pojok ruangan, dengan melakukan gulingan
terlatih ia menuju lemari tersebut, tepat di samping lemari jam itulah Subarjo
kembali merapatkan punggungnya ke dinding ruangan, sesaat kemudian Subarjo
berniat melihat situasi di ruangan itu dan berusaha mendeteksi dimana
keberadaan musuh yang akan dihadapinya, namun tiba-tiba sebuah tangan kiri yang
kekar mencekik lehernya dan menekan kepalanya sehingga menempel di dinding
rumah, senjata AK 47 segera ia pukulkan ke orang tersebut, namun sayang satu pukulan
tepat bersarang di persendian pundak kanannya, hal itu menyebabkan tangan kanan
Subarjo kehilangan tenaga, AK 47 pun jatuh dari genggamannya, Ia sempat
mendengar sebuah nafas yang keluar masuk menimbulkan irama kemantapan, matanya
sempat melihat sesosok tubuh yang sedang mencekiknya, tidak berselang lama ia
melihat bagaimana telapak tangan kanan orang tersebut dengan jari-jari rapat
membentuk sebuah pisau dengan sisi kanan telapak meluncur keras ke arah
tenggorokannya sembari melepaskan tangan kiri yang mencekik lehernya, “Hekkkzzz” Hanya itu yang bisa keluar
dari mulut Subarjo, ia merasakan bagaimana rasa sakit di lehernya dilengkapi
dengan tersumbatnya jalan untuk bernafas, selanjutnya dunia menjadi gelap,
tiada cahaya, tiada siapapun jua.
Dalam keadaan seperti itu Subarjo tiba-tiba
merasakan berada di alam lain, matanya melihat sebuah Bayangan Putih dengan
sayap yang besar sekali, Bayangan tersebut semakin mendekatinya sembari
membentangkan kedua sayap ke sisi kanan dan kiri, Sebenarnya dalam hitungan
normal, kejadian ini terjadi begitu singkat, namun kedua mata Subarjo melihat
betapa jelas perjalanan hidupnya mulai dari ia dilahirkan sampai keadaan saat
ini, di sayap sebelah kanan Bayangan tersebut terlihat kebaikan-kebaikan yang
pernah ia lakukan teramat sedikit, yang sangat menyedihkan justru gambaran yang
ada di sayap kiri memaksa Subarjo untuk menangis, disana terlihat perjalanan
hidupnya di dunia ternyata sudah menyatu dengan nafsu angkara, bejat dan
durjana, dengan sangat cepat tangan bayangan tersebut menepuk ubun-ubun
kepalanya dan ia merasakan bagaimana sesuatu yang ada dalam tubuhnya tertarik
paksa disertai dengan ribuan rasa sakit, sungguh rasa sakit ini belum pernah ia
rasakan semasa hidup di dunia. Seluruh tenaga dan kesadarannya hilang,
selanjutnya tubuh Subarjo jatuh terkulai dengan mata melotot seakan hendak
keluar dari tempatnya, saat itu ternyata ruh pemilik tubuh tersebut sudah
dibawa pergi oleh Bayangan putih yang tak lain adalah Malaikat Pencabut nyawa.
Selasa, 18 Mei 2016.
“Subarjooooo, dimana kamuuu?” Sang Bos
berteriak, kemuadian ia menyelinap masuk sembari merentangkan kedua tangan yang
menggenggam pistol S&W 357 untuk berjaga-jaga dan siap menembak bila ia
melihat musuhnya, mata sang bos terbelalak melihat Subarjo sudah telungkup tak
bernafas, fikirannya berputar mencari jalan keluar, bagaimanapun kelima anak
buahnya bukan orang sembarangan, namun kelimanya kini berhasil dilumpuhkan
hanya dengan waktu yang singkat. Sebagai orang professional maka sang bos
berteriak “Baiklah… siapapun engkau wahai
orang yang bernama Piso Jalak!!! Aku tidak ada urusan dengan mu!!” Sang Bos
berjalan santai dengan mata yang sangat cekatan menyapu seluruh ruangan, ia
berhenti di depan sebuah meja dan meletakan dua pistolnya ke atas meja
tersebut. “Aku sudah meletakan senjataku,
keluarlah, aku ingin melihat siapa sebenarnya engkau!!” Sang bos sempat
menempelkan betis kaki kirinya ke betis kanannya, disana terselip pistol ciss
Walther PPK Caliber 2,2 mm dengan 7 butir munisi di magazennya, kedua tangannya
diangkat yang memberikan isyarat bahwa ia sedang ingin bernegoisasi dengan
musuhnya, matanya sempat terpejam membaca “Yoo
Jabaraut, Petak gelap seketi” suatu rapalan yang ia dapatkan dari seorang
guru spiritualnya bila dalam keadaan bahaya, ia sempat mengingat betapa di
dalam sabuk miliknya tersimpan Batu Badar Besi yang sudah berkali-kali ia coba
khasiatnya sebagai alat kebal terhadap berbagai macam benda tajam.

Walau dalam
keadaan dipaksakan tenang sebenarnya hatinya tetap bergemuruh was-was karena
musuhnya kali ini benar-benar tidak bisa ia anggap enteng. Mata sang Bos
melihat sebuah hembusan asap rokok melayang bebas dari balik sebuah pintu,
sesaat ia mendengar sebuah langkah mendekat, matanya sedikit menyipit, berusaha
melihat dengan jelas sosok yang muncul dari balik pintu tersebut, seorang
lelaki berbadan kekar, dengan menggunakan topi hitam ala cowboy, jas panjang
kulit seperti yang dipakai orang-orang eropa, sepatunya panjang seperti sepatu
bot, warnanya hitam dan ia yakin itupun terbuat dari kulit asli, di lehernya
nampak terlilit kain warna hitam menandakan kegunaan untuk menutupi hidung dan
mulut sebagai bentuk penyamaran. “Itukah
Piso Jalak… bertempur dengan lima anak buahku yang dilengkapi oleh senjata api
namun masih merokok dengan santainya, hmmmm sungguh orang yang luar biasa, dia
berani menunjukan wajahnya di hadapan korbannya, ini merupakan sebuah keyakinan
bahwa ia pasti akan melenyapkan sasarannya.” Guman Sang bos dalam hati.
Mata sang bos tetap mengawasi Piso Jalak yang tenang dan berjalan santai menaiki
tangga rumah tersebut, ia mendekati suara rintihan yang ada di ruangan atas
tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya masih ada orang lain di sekitarnya, sang
bospun mengikuti di belakang Piso Jalak dengan jarak 4 meter, ia tetap mengangkat tangannya tanda ia sedang
menghentikan perlawanan, sang Bos belum bisa memutuskan untuk mencabut pistol
dibetisnya, karena dibenaknya masih mempertimbangkan betapa musuh di depannya
akan dengan mudah bisa melumpuhkan dirinya walaupun nampak jelas dimatanya si
Piso Jalak tetap berjalan tenang tanpa menghiraukan di belakangnya ada seorang
musuh dengan pistol tersembunyi dibetis yang kapan saja dapat digunakan untuk
menghabisi nyawanya. Sang bos pun berkata dalam hati “Piso Jalak, aku yakin, engkau memperhatikan bayanganku yang ada di
dinding, karena bayangan tersebut terlihat jelas sedang mengangkat tangan, itu
karena pintu di luar memantulkan cahaya matahari, hmmmm sungguh cerdik juga
tuyul satu ini”.
Minggu 29 Mei 2016.

Sesampainya
di ruangan atas, Piso Jalak duduk santai di atas meja, tepat di samping meja
tersebut sesosok tubuh sudah dalam keadaan tergeletak lemah, nampak sekali
tubuh sahabatnya sudah lumpuh dan terputus dari sumber energi yang ada. “Tuan Kara sahabatku…” Sang bos
mendekati sahabatnya sambil memeriksa beberapa bagian tubuh sahabatnya yang
terlihat memar. Mata sang bos terpana melihat luka memar itu jaraknya sekilan
saja, sekilan dari tengah leher adalah persendian pundak, sekilan selanjutnya
adalah persendian sikut, lalu sekilannya lagi adalah pergelangan tangan. Begitupun
bila ia urutkan kebawah maka sekilan selanjutnya adalah ulu hati, pusar,
kemaluan, tengah tulang paha, persendian lutut, tulang kering dan terakhir
persendian mata kaki. Orang yang disebut dengan panggilan Tuan Kara tersebut
memaksakan tersenyum, lalu dengan menahan sakit iapun berkata “Sahabatku, Master Ginsen, tolong aku”,
Sang
Bos yang ternyata bernama Master Ginsen itupun membalas senyum sahabatnya,
digenggamnya tangan sahabat dengan erat sekali, lalu ia menoleh ke arah Piso
Jalak, “Piso Jalak!!! Lepaskan sahabatku,
aku akan membayarmu 3 kali lipat dari orang yang menyuruhmu!! lalu 10 kali
lipat aku membayarmu untuk melenyapkan orang yang menyuruhmu!!” , Master
Ginsen berkata sambil memandang Piso Jalak dengan tajam. Sebuah wajah angker,
dengan mata tajam, berkumis tipis melintang, terlihat sedikit jenggot pendek di
dagu orang tersebut, rambutnya ikal, di jarinya sebuah rokok filter terus ia
isap berulang-ulang, tiba-tiba suara serak dan berat keluar dari mulut orang
tersebut “Aku memang seorang pembunuh,
namun aku tidak ingin menjadi seorang yang munafik!!” Piso Jalak mendekati
kedua orang tersebut, sebenarnya saat itu sang bos yang dalam keadaan jongkok
bisa saja meraih pistol Walther miliknya, namun ia terus menahan gejolak di
hatinya untuk tidak melawan dan ingin menyelidiki siapa sebenarnya lelaki kekar
di hadapannya. Piso Jalak berhenti dua langkah di depan kedua orang di depannya
sambil berkata “Yang memerintahkan aku
adalah seorang iblis, kalianpun iblis, dan mungkin saja aku juga iblis, maka
sesama iblis seharusnya mengerti tugasnya masing-masing”,
Piso Jalak membalikkan tubuhnya lalu berjalan
santai menuju halaman teras atas kamar tersebut, rokok di jarinya ia jentikan
ke kanan dan jatuh di lantai kamar atas tersebut, tiba-tiba Piso Jalak berlari
keluar ruangan tersebut dan melompati pagar teras atas, tanpa diduga Master
Ginsen yang sedang memeluk sahabatnya, dalam keadaan melompat ia melihat tubuh
Piso Jalak berputar arah menghadap ke arah
mereka berdua dan tangannya kirinya mencabut sebuah badik berwarna kuning emas
dari pinggang kirinya, dalam keadaan melompat itu Piso Jalak mencabut badik
tersebut dengan tangan kanannya, badik itu mengeluarkan bias cahaya kuning
keemasan, kemudian tangan kanan dan kiri direntangkan lurus kearah samping tubuh,
tiba-tiba badik yang sudah tercabut itu terbelah menjadi 3, mata pisaunya
melengkung dengan sisi tajam mengarah keluar, bentuknya bulat melingkar laksana
CAKRA, kemudian Piso Jalak meleparkan badik yang sudah berubah bentuk tersebut
dengan cepat sekali kearah sahabatnya sambil berteriak “Aku Piso Jalak! seorang Iblis yang tidak ingin gagal dalam setiap
melaksanakan pekerjaan!!”, badik yang sudah bermetamorpose mirip CAKRA
tersebut berputar cepat dan dengan tepat
bersarang di tenggorokan sahabatnya, walau sebenarnya jarak sahabatnya hanya 2
jari tertutup oleh wajah Master Ginsen, “Akhhh”
sahabatnya mengeluarkan suara meregang, darah keluar dengan cepat, Master
Ginsen berteriak “Tuan Karaaa… tahan!!!”,
ia melihat benda tersebut berputar memotong urat leher sahabatnya, saat itu
matanya sempat melirik Piso Jalak merapatkan tangan kirinya yang memegang
warangka badik tersebut ke tengah-tengah ulu hati Piso Jalak, lalu sebuah hal
menakjubkan terjadi, Badik yang terbelah menjadi 3 dan melengkung itu seperti
tertarik kembali pulang ke arah warangka badik di tangan Piso Jalak, tangan
kanan Piso Jalak dengan sigap meraihnya kemudian cakra tersebut berubah menjadi
badik seperti semula, mata Master Ginsen
berubah menjadi merah, ia cabut pistol Walther dari betis kanannya dan berlari
menuju teras ruangan atas tersebut lalu berteriak, “Ibliss kau Piso Jalak!!!!” lalu ia berlari dan mengarahkan
Pistolnya ke arah Piso Jalak yang sedang melompat sambil menembakan pistol
tersebut berulang-ulang sampai 5 kali tembakan, namun pekarangan di halaman
tersebut terlihat sepi tanpa adanya Piso Jalak yang ia kejar, hanya terlihat
sesosok mayat anak buahnya dan mobil Terano miliknya, kekesalannya memuncak,
dengan hentakan emosi Master Ginsen menendang mayat Bastian yang ada di bibir
teras sambil mengeluarkan suara nafas yang keras, ia sempat memandangi jenazah
anak buahnya, tiba-tiba hatinya menjadi takjub, ia baru menyadari bahwa semua
korban Piso Jalak mengalami kematian disebabkan oleh sebab yang sama, yaitu
leher para korbannya mengalami kerusakan karena benturan benda keras seperti
yang dialami oleh Subarjo, yaa itu pasti disebabkan oleh tangan kokoh milik
Piso Jalak. Sesaat kemudian sang Bos berlari menuju ke tubuh sahabatnya yang
ternyata sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Minggu 5 Juni 2016.
Di depan lukisan
abstrak tersebut mata sang Bos terlihat seperti berkaca-kaca, sahabat
terbaiknya yang banyak membantu dirinya tewas mengenaskan justru di dalam
pelukannya. Cerutu besar kembali ia hisap, kemudian dengan mata yang tajam ia
memandang kedua anak buahnya. “Pergilah,
kalian berdua justru membuat aku terbayang kembali betapa aku tak berdaya di
depan Piso Jalak!! Aku sudah mengirim pembunuh-pembunuh bayaran untuk
membunuhnya, namun selalu gagal, bahkan sudah puluhan kali aku membayar Piso
Jalak untuk membunuh sasaran yang sebagian besar sebenarnya bertujuan agar ia
mati di tangan orang menunggunya, semua ku lakukan agar Piso Jalak tewas dalam
tugasnya, sayang hal itu belum terwujud sampai sekarang!!” Herman dan Andi langsung menunduk hormat dan
segera pergi, mereka takut sang bos naik darah hingga mereka harus menerima hal
yang tidak akan pernah mereka bayangkan.
Setelah
berhasil memberi pelajaran kepada Herman dan Andi, Piso Jalak berjalan menuju
pemberhentian Bus, di jalan kaki lima Piso Jalak berjalan perlahan sembari
menikmati rokok yang sebenarnya berbahaya bagi paru-parunya, namun ia sadar
betapa petani tembakau dan warung emperan bisa menghasilkan pendapatan tambahan
untuk menghidupi keluarga mereka dengan berjualan benda yang hanya menghasilkan
asap polusi ini, “Semua selalu
menghasilkan sebab akibat, baik yang saling menguatkan ataupun kebalikannya,
inilah kehidupan, di satu sisi menguntungkan di satu sisi lagi merugikan,
contoh ringan ada penjual bakso berdampingan dengan penjual es, bila terik
matahari sangat panas maka penjual es laku keras dan penjual bakso hanya bisa
melihat betapa penjual es kewalahan, namun bila keadaan mendung dan gerimis,
situasi justru sebaliknya, kita selaku insane seharnya saling menyadari akan
kodrat yang sudah di berikan oleh Allah SWT, bila keduanya saling menghargai
dan saling mengerti maka pelanggan yang makan bakso tak salah juga bila
melengkapi minumnya dengan es”. Tiba-tiba matanya menangkap pecahan beling
botol suplemen dan botol beralkohol di jalan kaki lima tersebut, Piso Jalak
mendekatinya lalu berjongkok, ia teringat kata-kata Gurunya, “ Muridku semua, bila kalian melakukan dosa
maka kalian akan mempertanggung jawabkan sendiri dosa kalian tersebut, tetapi
ada juga semacam dosa yang dilakukan oleh orang lain namun kalian akan ikut
menanggungnya juga bila kalian mendiamkannya, contohnya, bila ada pecahan benda
tajam yang berbahaya di jalan kalian melihatnya dan bisa menghindarinya namun
tidak menyingkirkannya lalu benda itu mencelakai orang di belakang kalian yang
saat itu tidak tahu ada benda berbahaya yang akan di pijaknya, maka sebenarnya
kalian sudah ikut andil dalam celakanya orang tersebut”.
Piso Jalak mulai
mengumpulkan pecahan-pecahan beling tersebut kemudian membuangnya ke tempat
sampah di pinggir jalan tersebut, hatinya berguman “Aku ikhlas bila kelak dosa-dosaku yang besar ini diadili di yaumil
akhir, namun aku tidak ingin ikut bertanggung jawab atas apa yang tidak ku
lakukan, sungguh perbuatan sepele namun bisa jadi ganjalan kelak”. Piso
Jalak melihat sekelilingnya hatinya berbisik “Negara ini sudah menentukan undang-undang untuk mengatur kelangsungan
hidup rakyatnya, namun masyarakat selalu membebani dengan tingkah laku dari
sudut pandang sendiri-sendiri, kadang kala banyak yang berkata kenapa minuman
keras yang diemperan di razia namun pabriknya tidak ditutup, hehehe itulah
pemikiran masyarakat awam. Bila dikaji lebih dalam mengapa Negara memberikan
tempat untuk mabuk-mabukan, ya tempatnya di BAR karena disana di jaga
bodyguard, lalu anak kecil yang belum dewasa pasti dilarang masuk, bahaya
kerawanan terhadap masyarakat umum lebih minimal, tetapi bila di jual
diemperan, siapapun pasti akan di beri oleh penjualnya, tidak pandang itu anak
kecil sekalipun, minumnyapun di pinggiran jalan, ini yang justru menimbulkan bahaya, karena
siapapun yang lewat bisa jadi korban orang-orang yang sedang mabuk, sayangnya
manusia tidak menyadari sebab akibat sebuah perjalanan hidup manusia. ”
Sesampainya di Halte Piso Jalak meneliti situasi mengenai orang dan keadaan, sisi
pisau mata manusia sebenarnya bisa digunakan untuk melihat sesuatu sampai 90
derajat tanpa harus menoleh, hati Piso Jalak sempat terpokus melihat seorang
pemuda diantara pemumpang yang sedang menunggu bus, pemuda itu berperawakan
rapi dan memegang sebuah Koran, dari tatapan sang pemuda, Piso Jalak menangkap
hampir 11 kali sang pemuda melirik tas milik seorang ibu setengah baya. Piso
Jalak tersenyum sedikit melihatnya. Saat bus datang para penumpangpun menaiki
bus yang sedang berhenti, sang ibu duduk di kursi pojok kanan belakang, di
sebelahnya sang pemuda dan Piso Jalak di kursi pojok kiri belakang dekat dengan
pintu dimana kondrektur bus yang sibuk berteriak mencari penumpang. Sekitar 10
menit berlalu sang pemuda yang tepat duduk di samping Piso Jalak mulai membuka
Koran yang ia pegang, Koran ia buka menutupi tas milik sang ibu yang terlihat
lelah, setelah berulang-ulang dibuka dengan menimbulkan bunyi namun sang ibu
seperti tidak memperhatikan maka sebuah silet goal baru dikeluarkan dari
sakunya, niatnya cuma satu yaitu untuk menyobek tas tersebut lalu mengambil isi
tas tersebut, namun pemuda itu mengurungkan niatnya setelah mendengar bisikan
Piso Jalak : ”Nampaknya engkau belum
merasakan susahnya hidup di penjara anak muda!!” Sang pemuda pucat ternyata
ia yang berhasil mengawasi sasaran operasionalnya namun berhasil diawasi oleh
orang lain. Pemuda itupun berkata “Maaf
maksud bapak apa?” Piso Jalak pun tersenyum “Tenagamu masih cukup kuat untuk memikul beban anak muda, keringat itu
asin dan berbau tidak sedap, namun hasil dari keringat itu manis dan harum”
sang pemuda menundukan kepalanya fikirannya berkecamuk, ia berfikir
jangan-jangan orang yang di sampingnya ini adalah seorang anggota intel. “Maaf pak, siapa sebenarnya bapak,
sepertinya bapak tahu saya dan pekerjaan saya.” Sang pemuda menunduk
pasrah.
Piso Jalakpun berkata sambil sedikit tersenyum “Anak muda, diantara sekian penumpang mata mu itu selalu mengawasi ibu
itu berkali-kali, bahkan 11 kali engkau melirik tas milik ibu itu, terlebih
lagi Koran yang engkau pegang itu Koran yang sudah lewat masa bacanya” Sang
pemuda pun semakin menunduk “Maaf pak,
tolong ampuni saya” Nada sang pemuda terlihat memelas. Piso Jalak berkata “Hmmm kita masih dilindungi oleh asas
praduga tak bersalah” dirabanya saku sang Piso Jalak sambil mengeluarkan
dompet, dikeluarkannya uang sebesar Rp. 300.000,- “Aku tahu uang ini tidak besar, namun bila jiwamu besar maka In Syaa
Allah uang itupun akan besar!!” Pemuda
itupun menerima uang dari Piso Jalak sembari mencium tangan lelaki kekar dan
sangar itu kemudian ia memberhentikan bus tersebut dan turun, mata Piso Jalak
melihat tatapan sang pemuda dengan tatapan yang melukiskan kelahiran insan
manusia baru. Buspun berjalan Piso Jalak berbisik untuk dirinya sendiri “Setiap insan manusia bisa saja dianggap
Iblis oleh manusia-manusia lainnya, namun bisa juga dianggap Maalaikat oleh
sebagian manusia lainnya”
Sang kondrektur yang melihat kursi disamping Piso
Jalak kosong, maka iapun duduk, lalu
kondrektur itu berkata “ Bang, kami tahu
dia tu copet, tapi kami takut mobil kami menjadi tidak aman bila mengganggu
pekerjaan mereka, kenapa abang lepaskan dia, dan sebenarnya abang ini siapa ?”
Piso Jalakpun melirik sang kondrektur, suaranya yang berat menjawab “Saya seorang petinju mas”. “Hmmm lalu sekarang masih suka bertinju?”
Tanya kondrektur kembali, “Tidak mas”
Piso Jalak membuka rokok miliknya sembari menghidupkannya. “Kenapa bang?” sang kondrektur semakin
gencar bertanya, “Saya libur di dalam
penjara mas” sang kondrektur memandang Piso Jalak dengan seksama “Kenapa masuk penjara bang?” Piso Jalak
menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya “Saya
meninju orang yang banyak bertanya kepada saya hingga mati!!” mata sang
kondrektur terbelalak, wajahnya menjadi pucat, sang kondrektur langsung berdiri
ke bibir pintu sambil berteriak-teriak mengucapkan tempat yang sedang dituju
bus tersebut, sembari teriak matanya terus melirik orang yang sangat angker di
sampingnya.
Selasa 14 Juni 2016.

Akhirnya Bus
berhenti di depan sebuah masjid, sang kondrektur menerima uang dari Piso Jalak
sambil menahan nafas, Piso Jalak meliriknya lalu tanpa sadar Piso Jalak
tersenyum, sang kondrekturpun seperti menemukan nafas lega, ia membalas senyum
tersebut sambil berkata “Terima kasih
bang”. Piso Jalak meraih sakunya, ia mengeluarkan rokok miliknya, lalu
diberikan kepada kondrektur tersebut lalu berjalan menuju jalan sempit samping
masjid, buspun beranjak pergi melanjutkan perjalanan. Di depan masjid Piso
Jalak sempat melirik seorang tua di dalam masjid yang sedang sholat malam,
dilihatnya jam tangan miliknya, pukul 03.15, Piso Jalak kembali berjalan, namun
ia hentikan perjalanannya setelah mendengar batuk yang berulang-ulang kali dari
orang tua di dalam masjid. Nampak orang tua itu baru usai melaksanakan sholat
malam, karena batuk yang tiada reda maka sang orang tua pun menuju ke tempat
wudhu, mata Piso Jalak terbelalak melihat orang tua tersebut meminum air wudhu
yang belum dimasak tersebut. Piso Jalak teringat dua sahabat karibnya, Laga
Puntha dan Rala Juntai saat berguru kepada seorang bijaksana dan lembut,
Syajaratul Yaqin mereka bertiga menyebut Sang Guru yang senantiasa mengajarkan
bagaimana seorang manusia selayaknya mengenali Siapa Tuhan, siapa manusia atau
hamba dan bagaimana sejatinya diri juga bagaimana sejatinya hidup. Syajaratul
Yaqin hanya memiliki murid 3 orang, dan mereka bertiga selalu bersama-sama
selama 4 tahun, selama 4 tahun itu ketiga murid diajarkan puasa Nabi Daud AS,
dengan 1 hari puasa dan 1 hari tidak, setiap buka puasa ketiga murid selalu
berbuka puasa dengan meminum air wudhu dari pancuran saat berwudhu, maka mereka
bertiga menamai diri mereka sebagai saudara jiwa SEPEMINUMAN AIR WUDHU YANG
TERTELAN. Sayajaratul Yaqin tinggal di pinggiran hutan belantara, musholanya
terbuat dari bambu, atapnya dari alang-alang, di pinggirnya ada sungai yang
besar sebagai pembatas hutan dengan desa, disana Piso Jalak berguru secara
diam-diam, karena saat itu Piso Jalak sendiri adalah santri Pondok
Walyaathalatof dimana ia bersembunyi dan
tempat pelarian saat kabur dari penjara.
Disanalah Piso Jalak menerima
pengetahuan tentang Lafadz Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan Nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) secara hikmah, lafadz tersebut bermula dari
huruf BA, maknanya adalah BABUN yaitu pintu, dimana manusia pasti akan memilih
dan melewati pintunya masing-masing, namun carilah yang BA (BarakAllah / yang
berkahi oleh Allah), SIN dapat dimaknai dengan kata salam (selamat) bila
dirangkai akan menjadi sebuah makna tentang seorang anak manusia dalam
menemukan pintu yang sudah dipilih untuk jalan kehidupan yang ia jalani, maka
anak manusia itu harus menyertakan sabar dan benar saat berjalan memasuki pintu
tersebut agar selamat, karena pintu-pintu itu ada yang baik dan yang buruk,
lalu akan bertemu dengan MIM yaitu Ma'rifat (mengenal), mengenal siapa? MILLAH,
mengenal ALLAH, disanalah anak manusia harus mengisi Pintu hidupnya dengan
Sifat Allah yang AR-ROHMAN Maha Pengasih dan AR-ROHIM Maha Penyayang, maka
rangkuman makna dari Bismillahirrahmanirrohim adalah bila manusia sudah memilih
dan menemukan pintu masing-masing, apapun itu yang dipilih, sebagai contoh
jalan Petani, Tentara, Polisi, Guru, Pedagang ataupun yang lainnya, namun ada
juga pintu lainnya yang tidak benar sebagai contoh pintu sebagai pencuri,
perampok atau sebagainya, semua tersedia karena Ar-Rohman adalah Maha Pengasih,
semua dikasih, namun manusia tersebut tidak akan bertemu Ar-Rohim (Maha
Penyayang), bisa saja seorang hamba itu dikasih (dikabulkan hajadnya) mereka
belum tentu disayang, karena BA yang dimaksudkan bisa juga berarti BAROKALLAH
(Yang diberkahi Allah), sehingga pada puncak tujuannya manusia yang memilih
pintu hidupnya akan mencari serta mengenal Allah SWT dengan segala rahasia NYA,
berpondasi sabar dan benar tersebut maka
manusia akan menemukan rasa syukur dan ikhlas terhadap apapun yang
digariskan pada hidupnya, sebenarnya itu adalah bukti nyata Allah SWT selalu
mengasihi dan menyayangi hamba-hamba NYA maka untuk berterima kasih kepada
Allah SWT seorang hamba harus selalu berbelas kasih dan mempunyai rasa sayang
terhadap sesama.
Air mata Piso Jalak menetes tanpa disadarinya, dibukanya kedua
telapak tangan miliknya, terlihat bagaimana tangan tersebut sudah banyak
berlumur dosa, hati Piso Jalakpun berbisik “Aku
akan temukan sejatinya diri dan sejatinya hidup ini, hanya musrik yang tidak
akan diampuni oleh Allah Azizul Jabbar, yang lainnya semoga akan terampuni
kelak bila bertaubat, saat ini jalan yang ku lalui adalah ini, Semua tetesan
air yang menguap keangkasa dan berjatuhan ke bumi ini, walau jatuh di puncak
gunung sekalipun pasti memiliki cara sendiri-sendiri dan mengalami banyak
kejadian dalam perjalanan kembali ke samudera” sesaat kemudian tiba-tiba Piso jalak
dikagetkan oleh sebuah sapaan “Nak,
mengapa berdiri saja disitu?” ternyata si pemilik suara itu adalah sapaan
orang tua yang tadi batuk, “Tidak apa-apa
pak” Piso Jalak menjawab, “Anak adalah orang
yang ngontrak di belakang masjid ya ?” orang tua itu kembali bertanya, “Iya pak” Piso Jalak berusaha menjawab
seadanya. “Nak saat ini keadaan masjid
selalu sepi, sudikah anak menemani bapak sholat subuh berjamaah?” orang tua
itu memberikan tawaran yang membuat hati Piso Jalak berdetak, dengan tersenyum
Piso Jalak menjawab ” Terima kasih pak, bapak menawarkan kebaikan
kepada saya, saya senang mendengarnya, insan manusia yang selalu berusaha
berbuat kebajikan dan selalu mengajak kebaikan walau itu sekecil apapun, tidak
perduli diterima atau tidak oleh orang lain, maka yakinlah kita tidak akan
pernah tahu dari kebaikan-kebaikan mana yang telah kita lakukan, disitulah
justru membuat Allah SWT membukakan pintu Ridho NYA untuk kita ”
Piso Jalak
membalikkan tubuhnya kemudian berjalan meninggalkan orang tua tersebut, sang
orang tua terpaku mendengar ucapan Piso Jalak yang memiliki makna yang harus
ditelaah secara seksama, hatinya mulai berbisik “Siapa engkau sebenarnya nak?, orang-orang mengatakan engkau adalah
seorang yang tertutup dan pendiam, juga tidak mau bergaul dengan siapapun jua,
namun semua tentang dirimu sulit diketahui hanya dengan lintasan sebuah
pemikiran ”.
Piso Jalak sembari berjalan perlahan dengan kepala menunduk
menghela nafasnya, di dalam hatinya berkata “Alhamdulillahirabbil
‘aalamiin…. Segala Puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, sungguh segala
puji-pujian hanyalah milik Allah, dalam kehidupan banyak sekali pujian di alamatkan
kepada manusia, hewan, bebatuan dan lainnya, namun bila kita kupas secara
hakikat pujian tersebut memang terbagi menjadi 4 macam,
1. Puji khudus ‘alaa
khudus, yaitu makhluk memuji makhluk, ini terjadi bisa saja karena makhluk (contoh
manusia) yang memiliki kebaikan, pintar, bijaksana
ataupun yang lainnya, itu hanyalah sebatas pujian sesama makhluk tanpa
membandingkan terhadap Allah SWT.
2. Puji khudus ‘alaa Khodim, manusia memuji
Tuhannya, ini bisa saja berupa kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir ataupun Tahlil.
3. Puji Khodim ‘alaa khudus, Tuhan memuji hamba-Nya, sebuah Sirr (Rahasia)
Allah SWT saat memuji seorang hamba yang mungkin saja karena kepatuhan dan
ketaatan kepada orang tua, atau seorang dermawan yang ikhlas atau seseorang
yang rajin sholat malam dengan kekhusukannya, yang jelas Allah SWT berfirman
dalam surat Al Qalam ayat 4 dengan tujuan memuji Rasulullah Muhammad SAW, yang
berbunyi ”Wainnaka la`ala khulukin azhiim”, (Dan sesungguhnya engkau (wahai
Muhammad) memiliki budi pekerti yang sangat agung.) juga pada surat At-Taubah
;128 , “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsamu sendiri,
terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan
keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang
mukmin.”
Dan yang ke 4 adalah puji Khodim ‘alaa Khodim, ini bisa kita lihat
betapa Allah SWT memuji diri-Nya sendiri dengan 99 Asmaul Husna, dimana Allah
itu Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Bijaksana dan lain-lain.” Dengan mata yang mulai sayu Piso Jalak
membayangkan betapa dunia ini akan damai dan tenang bila masing-masing umat
beragama secara kaffah (keseluruhan) memahami ajaran dan tujuan masing-masing
agamanya.
Sabtu 24 Juni 2016
Piso
Jalak memasuki rumah kontrakannya, setelah membuka jaket miliknya, Piso Jalak
duduk di kursi yang hanya bertemankan 1 meja saja, diperhatikannya map yang
tersegel rapat, di sobeknya map tersebut, di dalamnya ada sebuah cek tunai Rp.
100 juta sebagai DP, dan terlihat sebuah Foto seorang Anggota Polisi berpangkat
AKP, wajah Polisi itu sangat tampan, matanya terlihat tajam dan jeli, Piso
Jalak menarik nafas panjang sambil berguman dalam hati “Aku tidak mengenalmu, namun nampaknya dirimu akan segera bertemu
denganku, yah dengan malaikat kematianmu ”Piso Jalak menggenggam gelas
berisi air putih lalu meminumnya, dalam keadaan sedang menggenggam gelas itulah
Piso Jalak memejamkan matanya, ia kembali mengingat bagaimana dulu ia sampai di
jebloskan ke Penjara …. Saat itu usianya masih beranjak 9 tahun…
“Piso…. Pisoooo…” seorang ibu dengan lengkingan kuat mencari
anaknya sembari membawa seember air yang ia siramkan ke tumpukan daun kering,
plastik dan kertas yang terbakar. “Anak
bandel, dimana dirimu?” sesekali kepala sang ibu menoleh ke kanan dan ke
kiri, namun sang anak tak juga terlihat. Di balik sebuah belukar sang anak
tersenyum sendiri, yaah itulah masa kecil Piso Jalak, ia hobi sekali membakar
apapun yang ia lihat mudah dibakar, entah sudah berapa kali ia melakukannya,
pertama kali ia membakar sampah, kedua telinganya sampai merah dijewer sang
ibu, namun lama kelamaan sang Piso Jalak semakin menikmatinya, ia terus
membakar, membakar dan membakar apapun yang mudah ia nyalakan.
Sampai pada
suatu sore hari Piso Jalak mengintip ibunya dalam
keadaan lelah dan tertidur di dalam rumahnya, memang saat itu ibunya terlihat
bekerja banyak sekali mengurusi dan membersihkan rumah dan pekarangan, niat
Piso Jalak menjadi besar untuk memenuhi hobinya, secara sembunyi-sembunyi Piso
Jalak mendekati sampah-sampah yang rencana akan dibuang oleh ibunya ke kotak
sampah di ujung rumahnya yang berjarak 10 meter, sampah-sampah itu belum sempat
dibuang dan masih berada di dekat pintu belakang rumahnya, Piso Jalakpun
beraksi, ia mulai membakar sampah-sampah tersebut, dengan sigap korek api ia
mainkan, apipun mulai terlihat keluar dari tumpukan sampah tersebut, Piso Jalak
terus mengumpulkan yang lainnya hingga menggunung, saat api semakin membesar
Piso Jalak berlari menuju semak belukar untuk mencari daun-daun kering lainnya,
saat itu Piso Jalak melirik bagaimana angin berhembus kencang sehingga membuat
api itu membesar dan sampah yang terbakar berterbangan, ia berlari mendekat
namun api sudah berterbangan kemana-mana.
Piso Jalakpun panik dan berlari
bersembunyi, ia sangat takut ibunya akan marah besar melihat kenakalan dirinya,
tiba-tiba Piso Jalak merasakan takut yang sebesar-besarnya saat melihat api,
selama ini bila ia melihat api maka akan membuat hatinya senang, hatinya
semakin berdetak menahan rasa takut ketika melihat api tersebut terbang terbawa
angin dan sebagian sampah yang terbakar mulai menyambar dapur yang ada di
belakang rumahnya, Piso Jalak semakin gemetar, dilihatnya dinding dapur yang
terbuat dari papan mulai terbakar, bibirnya tanpa sadar menyebut Nama Allah
Tuhannya, dalam situasi seperti itu Piso Jalak hanya mampu menangis melihat
bagaimana api tersebut dengan cepat merambat ke seluruh rumahnya, tubuhnya
bergetar dan lemas, mulutnya terkunci sehingga tidak dapat berteriak, warga
sekitar berlarian membawa air berusaha memadamkan api tersebut, Piso Jalak
semakin menangis membayangkan suara teriakan ibunya yang marah besar dan pasti
akan memukul pantatnya sampai biru.
Namun hiruk pikuk suara teriakan warga dan
masyarakat sekitar yang sedang berusaha memadamkan api tak juga menghantarkan
suara lengkingan ibunya, hati Piso Jalak tiba-tiba mengharapkan agar muncul
teriakan-teriakan marah dari ibunya, kini perasaan takut dimarah oleh sang ibu
berubah menjadi takut bila suara teriakan itu tidak keluar dari mulut ibunya,
benar saja suara teriakan marah sang ibu tersebut tidak pernah ia dengar sampai
api meninggi, saat itulah Piso Jalak tiba-tiba mendapatkan sebuah tenaga luar
biasa dari dalam jiwanya, ia berteriak sambil berlari “Ibuuuuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuu, ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu ”.
Piso Jalak
berlari menuju rumahnya, namun warga memegangnya dan menghalanginya untuk
mendekati api yang sangat besar, “Lepaskaaaaaan!!
lepaskaaaaaaaaaan!! ibuku ada di dalam!! ibuku ada di dalaaaaaaaaaaaaammmm!!!!”.
Piso Jalak meronta-ronta dan menendang serta memukul orang yang memeganginya,
salah seorang warga berteriak “Cepaaaaat
panggil pak Supari, beliau sedang piket di Koramil!!! ”, salah satu
wargapun berlari menuju Koramil untuk memanggil pak Supari, ayah dari Piso
Jalak, sementara Piso Jalak berusaha melepaskan tangan yang membekapnya, ia
gigit tangan tersebut, saat Piso Jalak hendak berlari ia merasakan ada sebuah
pukulan ditengkuknya, matanya berkunang-kungan, dunia menjadi gelap, kemudian
Piso Jalak tidak mengetahui apapun yang terjadi.
Jumat 8 Juli 2016
Entah
berapa lama Piso Jalak pinsan, saat kesadarannya pulih Piso Jalak kembali
berteriak “Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
” Piso Jalak bangkit berdiri dengan pandangan mata yang menajam,
diperhatikan sekelilingnya, ia melihat banyak orang berkumpul di rumah tetangga
sebelah kanannya, Piso Jalak melihat orang-orang sedang membaca surat Yasin
berjama’ah, seorang ibu merapat mendekati Piso Jalak sambil berkata “Sabar nak, sabar ya” tak lama sang ayah
mendekati Piso Jalak, dipeluknya sang anak, terlihat wajah Supari menahan air
mata, iapun berbisik “Anakku, ikhlaskan
ibumu betemu Tuhannya, Allah sayang kepada ibumu, hingga rindu NYA dipercepat
agar bisa mendekatkan ibumu di sisi NYA”. Piso Jalak melihat wajah ayahnya
dengan mata yang berkaca-kaca, “Ayaah,
ibu kemana? Kenapa sekarang ini sudah malam ayah? Ibu kemana ayah, ibu kemana?”
Sang ayah tersenyum dengan sejuta rasa kedamaian, “Engkau tidur lama sekali anakku, kini ambil air wudhu, mari kita
sama-sama mengantarkan ibu menuju rumahnya disana ” . Piso Jalak semakin
tak kuat menahan diri, sesaat ia ingin berteriak namun sang ayah memegang
pundaknya sambil berkata “Saat
kelahiranmu, ibumu tersenyum bahagia dalam menahan sejuta rasa sakit, dan
ayahmu menepuk dada ayah sambil berteriak, ini putraku, pewarisku,
kebanggaanku, jangan nodai kebanggaan kami dengan tangis cengengmu dalam
melepaskan ibumu nak! Ingat! Agama kita melarang kita menangisi kepergian
seorang hamba menghadap Tuhannya, Pemilik Jiwa dan segalanya, karena tangisan
hanya akan membebani perjalan orang yang sedang kembali kepada Allahu Jabbar”
Piso
Jalak kebelakang rumah diantar sang pemilik rumah, ditimbanya air sumur lalu ia
berkumur 3 x, membasuh hidung 3 x, membasuh telapak tangan kanan dan kiri
sampai kesiku 3 x, membasuh muka 3 x, daun telinga 3 x dan membasuh kaki kanan
dan kiri sebatas mata kaki 3 x, setidak-tidaknya ia pernah merasakan pelajaran
berwudhu dari kurikulum agama di sekolahnya , sang tetanggapun memberikannya
kopiah, lalu Piso Jalak ikut dikeramaian tengah rumah tetangganya yang sedang
melanjutkan acara tahlil. Diliriknya sang ayah yang khusuk mengikuti imam
Tahlil, mata Piso Jalak kembali berkaca-kaca, ia ingat bagaimana kenakalannya
selama ini, kepalanya menunduk, pikirannya terus mengingat bagaimana kesabaran
ibunya dalam menasehati dan mengingatkan semua kenakalan yang ia lakukan.
Entah
dari mana datangnya, tiba-tiba Piso Jalak merasakan sesuatu yang ganjil, ia
seolah-olah hidup di alam kandungan, ia merasakan bagaimana tiba-tiba ia bisa
bercakap-cakap dengan Tuhan, Piso Jalak merasakan seperti suasana di dalam
perut ibunya, jiwanya merasakan seperti nyata,
ketika bagaimana ia bertanya kepada Tuhan dan Tuhan selalu menjawab
pertanyaannya:
Piso Jalak : “Para malaikat disini mengatakan bahwa esok
Engkau akan mengirimku ke dunia, Yaa Tuhan, lalu bagaimana caranya aku akan
hidup di alam seperti itu? aku begitu kecil dan lemah?”
Tuhan menjawab: “AKU telah memilih satu malaikat untuk mu,
Ia akan menjaga dan mengasihi mu”
Piso Jalak : “Tetapi aku disini … di alam ini... aku bisa
tertawa....dan sepertinya suasana ini sudah cukup bagi ku untuk berbahagia,
sedang di dunia itu aku belum tentu mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang
ini, Yaa Tuhan”.
Tuhan : “Di dunia itu kamu akan selalu melihat
Malaikatmu tersenyum untuk mu setiap hari... dan kamu akan merasakan
kebahagiaan akan cinta dan kasihnya... itu akan membuat mu menjadi lebih
berbahagia.”
Piso Jalak : “Lalu bagaimana cara aku bisa mengerti saat
orang-orang disana berbicara kepada ku?, bukankah aku tidak mengerti bahasa
mereka?”
Tuhan : “Malaikatmu akan selalu berbicara kepada mu
dengan bahasa yang paling indah yang akan membuatmu mengerti... dan dengan
penuh kesabaran juga perhatian...... dia akan mengajarkan mu bagaimana cara
berbicara.”
Piso Jalak : “Dan apa yang harus aku lakukan?, jika aku
ingin berbicara kepada-Mu Yaa Tuhan?”
Tuhan : “Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara
kamu berdoa.”
Piso Jalak : “Tetapi...aku mendengar dari penghuni di
alam ini bahwa di alam itu banyak orang jahat Yaa Tuhan, siapa yang akan
melindungi ku?”
Tuhan : “Malaikat mu akan senantiasa
melindungimu...menjagamu.. walaupun hal tersebut mungkin saja dapat mengancam
jiwanya.”
Piso Jalak : “Tetapi... aku merasa sedih karena
tidak bisa melihat-Mu lagi Yaa Tuhan.”
Tuhan : “Malaikat mu akan menceritakan kepada mu
tentang Aku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada KU...
walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada dekat dengan mu.”
(Dalam keadaan
alam yang begitu tenangnya Piso Jalak bisa mendengar suara-suara dari alam bumi
yang sedang menantikan kedatangannya).
Piso Jalakpun
bertanya pelahan : “Yaa Tuhan... jika
Engkau taqdirkan aku harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahukan
kepadaku...siapa nama malaikat yang Engkau agung-agungkan itu?”
Tuhan : “Kamu akan memanggilnya...dengan
sebutan ‘I B U".
Piso Jalak tersentak, tiba-tiba ia berteriak “ Yaa
Tuhan!!!! Aku ingin malaikatku Engkau kembalikan kemari, aku akan tukar dengan
diriku ini yaa Tuhaan!!!” Piso Jalak berdiri sambil menengadahkan kepalanya
sembari berteriak lebih kencang lagi “Tuhaaaaaan
kembalikan malaikatku kepadaku……!!!!” orang-orang yang ada di ruangan
itupun sontak kaget melihat anak berusia 9 tahun berteriak memanggil Tuhan,
Suparipun mendekati anaknya, tangan kekarnya mencengkeram tangan kanan Piso
Jalak dengan kerasnya “Piso!!! Tenangkan
dirimu!!” Piso Jalak memandang wajah
ayahnya dengan tatapan yang tajam, sembari teriak Piso Jalakpun menjawab ”Ayaah!!! Aku sedang meminta Tuhan
mengembalikan ibu, kenapa ayah melarangku!!” , sang ayah justru menajamkan
matanya tanda sebuah ketegasan harus dilakukan, “Kita menumpang berdoa di rumah tetangga, Piso!!! Rumah kita terbakar,
sopanlah sedikit!! Sana
kebelakang!!” . Piso Jalak menundukan kepalanya, ia takut sang ayah murka,
dengan lunglai Piso Jalak menuju dapur rumah tetangganya. Acara Tahlil selesai
pukul 21.00, tiba-tiba istri sang pemilik rumah yang ia gunakan untuk acara
tahlilan buat istrinya tercinta berkata “Pak
Supari, maaf, nak Piso Jalak tidak ada di belakang, saya sudah cari kemana-mana
namun belum ketemu” hati Supari terkejut
lalu sempat berfikir keras dimana Piso Jalak berada, tak lama Suparipun menarik
nafas yang panjang sekali, 3 orang rekan kantornya mendekat, “Bolehkah kami mencarinya pak??” “Hmmm ayo kita cari bersama-sama, namun saya
akan mencarinya sendiri, tolong bila bertemu bawa saja ia kemari!” . Jawab Supari sembari berdiri, lalu berjalan keluar rumah tersebut.
Selasa 12 Juli 2016

Di
Perkuburan desa, jauh dari perumahan penduduk melintas sosok kecil memasuki
area pekuburan, ia berjalan berputar-putar sampai akhirnya berdiri sejenak,
lalu bersimpuh di pekuburan yang tanahnya masih merah, tertulis di nisan makam
tersebut ‘Nissa Nadzira’, airmata menetes dari muaranya, Piso Jalak bersimpuh
sembari berkata “Ibu, maafkan aku ibu,
semua ini karena aku, aku tak pernah mau mendengar nasehat-nasehat ibu, kini,
apapun yang ibu kehendaki dariku akan aku lakukan bu ” Piso Jalak menahan nafasnya saat
mendengar suara di belakangnya .. tegas dan jelas .. “Ibumu menginginkan dirimu jadi orang yang jujur lagi lemah lembut
anakku ” Supari duduk di samping Piso Jalak sembari memegang makam
istrinya. “Ayah, maafkan aku ayah, akulah
penyebab kematian ibu, akulah yang membakar rumah” tangis Piso Jalak, Supari memandang anaknya dengan tatapan mata
yang bercahaya, walau malam begitu kelam mata itu memancar bagaikan matahari di
dalam kegelapan, Piso Jalak terus menangis membuat pengakuan “Ayah maafkan aku ayah, aku bingung ayah,
apa yang akan kulakukan?” Supari berdiri memegang tangan anaknya, “Ayoo nak kita ke kantor Polisi, Di mata
Allah SWT mungkin saja engkau bisa di ampuni, namun jangan lewati hukum yang
sudah dibentuk di Negara kita nak ” Piso Jalak pun menjawab “Maksud ayah aku akan ayah serahkan ke
kantor Polisi? Apa maksud ayah? ” Supari terus berjalan sambil menjawab “Anakku kesalahan mu harus diputuskan dari
mata rantainya, bila saja ini tidak ayah lakukan maka engkau akan terus dalam
lingkar kesalahan tersebut!” , Piso
Jalak menunduk “Tapi ayah adalah seorang
Tentara, bagaimana martabat ayah nantinya?” Supari melihat anaknya, ia
berjongkok lalu memeluk anaknya, digendongnya Piso Jalak “Martabat kita dimata manusia adalah ketiadaan anakku, di mata Allah
Azza wa Jalla lah kita seharusnya berusaha meraihnya ”. Piso Jalak memeluk
ayahnya saat di gendongan, dipeluknya dengan penuh kehangatan, Piso Jalakpun
berkata “Bila aku dihukum, aku tidak
sekolah ayah ”.
Nafas
Supari semakin terlihat berat, dibelai rambut anaknya sembari berkata “Sekolah itu jalan dunia anakku, jalan
hakiki adalah jalan dimana engkau bisa kembali ke Jalan Ilaahi”.
Sesampainya di perkampungan wargapun berkumpul “Itu pak Supari ” wargapun mendekat, “Syukurlah, Piso ketemu dimana pak?”. Suparipun menjawab, “Di perkuburan desa kita, pak ”. Salah
satu tetanggapun bertanya “Masyaa Allah,
kenapa ada disana pak?” , Suparipun menjawab dengan menghela nafas “Yaah mungkin rindu ibunya”
diturunkannya Piso Jalak lalu ia ambil motor miliknya, “Laah bapak mau kemana?” Tanya warga. “Saya hendak ke Polsek pak, menyerahkan anak saya kesana ” jawab
Supari, “Apaa… apa maksud bapak ??”
warga menjadi kaget dengan jawaban Supari.
“Kebakaran tadi siang itu ulah
anak saya pak, jadi saya ingin meluruskan akhlaknya saat ini agar tidak bengkok
dikemudian hari.” Jawab Supari. “Tapi
bukankah itu merupakan kelalaian pak, tidak disengaja pak, apalagi Piso masih
kecil dan belum tahu apa-apa. ” Protes warga , Supari berkata dengan tegas “Apapun alasannya baik disengaja, terencana
atau kelalaian yang menyebabkan korban nyawa ia harus mempertanggung jawabkan
perbuatannya pak, dunia ini memiliki hukum-hukum yang harus disepakati,
begitupula dengan Allah .. Tuhan yang memegang keadilan dan Maha Penghitung
hisab, bila saya tutupi ini maka sama saja saya menjerumuskan anak saya pada
keyakinan yang salah!!” , mata tajam Supari seakan menyobek hati para
warga, diarahkan pandangannya ke anak tercintanya, nampak butiran air mata yang
mengkristal menandakan air mata tersebut terbekukan oleh keteguhan jiwa, “Piso Jalak, apa yang akan engkau putuskan
sekarang!! ” Piso Jalak yang baru
berusia 9 tahun itupun membalas tatapan bapaknya dengan mata yang bersinar “ Ayah!! Demi Ibu, dia malaikatku, aku akan
mempertanggung jawabkan perbuatanku, semua demi ibu, akan aku sempurnakan dan
ku buktikan bahwa ibu adalah seorang malaikat, Tuhan tak akan pernah salah
mengutus seorang malaikat untukku, maka ibu akan tersenyum bangga karena
berhasil mendidikku sebagai manusia yang mengerti apa itu kebenaran dan
kebatilan .”
Supari
berjongkok dan memeluk anaknya, air matanya yang membeku mencair terbakar api kebesaran
jiwa anaknya “Ayah sayang kepada ibumu
nak, ayah sayang kepadamu, doakan agar
jiwa ayah tegar nak, berpisah dengan ibumu, kini dengan dirimu ”. Piso
Jalak menguatkan pelukannya di tubuh ayahnya
“Ayah, aku tidak ingin menjadi seorang iblis, aku ingin menjadi malaikat ayah,
aku ingin membakar dosa-dosaku di penjara, agar aku bisa menjadi malaikat
kelak, dan aku bisa menjumpai ibu, aku tidak ingin menjadi iblis ayah… aku
tidak ingin menjadi iblis, ayah… aku tidak ingin menjadi musuh ibuku sendiri ”.
Kamis 21 Juli 2016

Digendongnya
Piso Jalak kemudian didudukan di jok belakang motor milik Supari, lalu mereka
meninggalkan kerumunan warga. Piso Jalak memeluk ayahnya, iapun berkata “Ayah aku pasti akan rindu ayah dan ibu”,
Supari yang mendengar anaknya berkatapun semakin menambah gas motornya. Sekitar
15 menit sampailah mereka ke Polsek wilayah itu, Supari menurunkan anaknya
langsung menuju ke pelayanan laporan, dituntunnya Piso Jalak, Anggota Polsek
yang mengenali Supari langsung menyapa “Selamat
malam pak, ada yang bisa kita Bantu ?”. Suparipun duduk di hadapan anggota
Polsek yang sedang Piket malam itu. Senyum Supari mengembang “Saya ingin melaporkan anak saya pak, ini
berkaitan dengan musibah tadi sore mengenai kebakaran rumah saya”, Anggota
Polsek yang sedang Piket tersebut mengkerutkan dahinya, sementara 3 orang
anggota lainnya mendekati Supari dan anaknya. “Maksud bapak apa ?” terlihat wajah Anggota Polsek tersebut
bingung. Suparipun menghela nafas panjang lalu ia berkata “Kebakaran yang merenggut nyawa istri saya adalah akibat perbuatan anak
saya pak.” Anggota Polsek itu semakin bingung “Maksud pak Supari bagaimana?”, Suparipun kembali berkata “Apabila seseorang melakukan kelalaian
sampai menyebabkan kematian apakah ada sangsinya pak ?”, Anggota Piket
tersebut nampak seperti berfikir, lalu ia berkata “Menurut
Pasal 359 KUHP, dalam hal kelalaian seseorang yang mengakibatkan kebakaran atau
banjir, dapat dilakukan penuntutan berdasarkan Pasal 188 KUHP, bunyinya “Barang
siapa karena kesalahan (kealpaan) menyebabkan kebakaran, ledakan atau banjir,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah, jika karena perbuatan itu timbul bahaya umum bagi barang, jika karena
perbuatan itu timbul bahaya bagi nyawa orang lain, atau jika karena perbuatan
itu mengakibatkan orang mati.” .
Supari menarik nafas, dengan berat iapun berkata “Saya serahkan anak saya
untuk diberikan kepada hukum yang berlaku di Negara ini pak ”.
Mata Anggota piket yang ada disana menjadi terbelalak, salah seorang
anggota berkata “Tapi dia kan anak bapak, dan lagi bapak sedang berkabung,
apa bapak sudah fikirkan baik-baik, anak ini masih kecil pak, tanah kuburan
ibunya pun masih merah”, salah satu anggota pun menjelaskan “Anak
yang melakukan suatu tindak pidana memang bukan berarti tidak dapat dihukum,
namun sebisa mungkin hukuman yang diberikan tidaklah berat. Negara Indonesia
menjamin suatu prinsip pokok penerapan hukum terhadap anak, yakni tidak adanya
diskriminasi dalam bentuk apapun, didasarkan pada kepentingan yang terbaik bagi
anak, memberikan hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, serta
penghargaan terhadap pendapat anak sesuai dengan Konvensi Hak-hak Anak. Ada
Hal yang diperkuat oleh, Pasal 3
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyebutkan
bahwa: Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak
agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas,
berahlak mulia, dan sejahtera. Adapun bunyi dari Pasal 16 ayat (3)
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa:
Penangkapan, penahanan, atau pidana
penjara hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya
dapat dilakukan sebagai upaya terakhir, pak Supari. ”
Mata Supari
memerah, sorotnya menjadi tajam “Saya
menginginkan anak saya dihukum pak, ini saya lakukan justru untuk
memperbaikinya, saya berharap kelak ia menjadi anak yang mentatati
Undang-undang dan seluruh ajaran agama!”. Anggota yang berada di Polsek itu
saling berpandangan satu dengan yang lainnya, lalu Ka Jaga berkata “Baiklah bila ini tuntutan bapak, kami tidak
bisa berbuat apa-apa, Bribda Anton segera catat laporan pak Supari ini, saya
akan laporkan kepada Kapolsek!” Bripda Antonpun menjawab “Siap!” lalu Ka Jaga berkata kepada Supari “Apakah bapak sudah laporan ke Komando Atas
bapak ? kami tidak menginginkan opini
masyarakat dan rekan-rekan Satuan bapak salah menilai tindakan kami, apalagi
Unit Labfor belum tuntas menyelesaikan hasil penyelidikannya.” Suparipun
menjawab dengan tegas “Besok pagi saya
akan Laporan kepada Danramil, selanjutnya saya akan menghadap Komandan Unit
Intelijen Kodim dan Pasi Intel lalu saya lanjutkan menghadap Komandan Kodim
pak, saya menginginkan anak saya menerima resiko apapun hasil perbuatannya,
apalagi dia memang ikut mendesak saya agar hal ini dilaksanakan, semua demi
ibunya, dia ingin membuktikan kepada ibunya bahwa Piso Jalak adalah seorang
yang bertanggung Jawab! “
Kamis 28 Juli 2016

Gigi Piso Jalak
bergemerak, kepalannya mengeras hingga memecahkan gelas yang ia genggam, Air
matanya mulai menetes, “Ibu, Maafkanlah
aku, ayah aku rindu kepadamu ” Foto seseorang berpangkat Akp (Ajun
Komisaris Polisi) yang akan dijadikan target olehnya sudah membuka lembar kenangan hitam kelam
perjalanan hidupnya 21 tahun silam. Piso Jalak terlihat berusaha keras
menenangkan gejolak jiwanya yang sedang bergemuruh. Lalu ia berjalan mendekati
lemari miliknya, dibukanya lemari tersebut, terlihat sebuah Jaket kulit
panjang, di dada bagian kanan dan kiri terlihat hiasan rantai sampai ke
pinggang, diliriknya sarung tangan kulit warna hitam dan sebuah topi cowboy
juga berwarna hitam, Celana panjang jeans hitam dan sepatu bot hitam hatinya
berbisik “Piso Jalak, ini targetmu ke
100, dimana engkau akan tahu apakah ini keberhasilanmu ataukah justru ini
kematianmu ”, kalimat ini selalu ia ucapkan di dalam hati setiap kali ia
akan menggunakan jubah kebesarannya dalam melaksanakan tugas dunia hitam.
Azan Subuh
berkumandang, terdengar suara orang tua di masjid begitu mengalun merdu, Piso
Jalak mendengarkan suara jiwanya yang mengartikan makna azan tersebut. ALLAHU
AKBAR… ALLAHU AKBAR (2 X) , Allah Maha Besar, siapakah yang lebih besar dari
DIA, lalu kenapa banyak manusia tanpa sadar dan selalu berselimut kesombongan
akan ketampanan, kekayaan, harkat, derajad ataupun pangkat, sungguh naïf hati
manusia yang lupa akan kebesaran Allah SWT, maka Piso Jalakpun menjawab dengan
berucap Allahu Akbar.. Allahu Akbar 2
X,
ASSYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAH (2 X) nun mati atau tanwin bertemu Lam, itu
bernama IDGHAM BILA GHUNNAH dimana nun itu akan dibaca mengikuti huruf
belakangnya menjadi A(L)LAA yang berarti Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah,
sebenarnya ini adalah kunci awal manusia yang ada di dalam alam kandungan, saat
itu masing-masing manusia diberikan Syahadat Tauhid, sebuah pengakuan pertama
dan utama bahwa manusia yang terlahir harus memiliki Tuhan, namun kenapa banyak
manusia yang melupakan hal tersebut, bukankah manusia terlahir hanya untuk
menyembah Allah SWT? Hati Piso Jalak semakin memasuki alam jiwanya dan
menjawabnya dengan membaca Assyhadu
anlaailaaha illallah.. 2 X,
ASSYHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH (2 X)
artinya Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, Sahadat Rosul ini
memiliki makna sebagai sarana kembali kepada Allah SWT, karena syareat akan
kita lalui di dunia ini. Saat Dzat Allah berniat menciptakan dunia dan
seisinya, juga Arsy dan para malaikat, Dzat Allah menciptakan Nur Allah dan Nur
Muhammad sehingga saat kedua NUR tersebut bertemu membiaskan banyak
kejadian-kejadian mulai dari Malaikat, Makhluk dan alam semesta ini. Dan Allah
berkehendak untuk menitipkan Nur Muhammad tersebut kepada seorang manusia
bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim,
Terlahir dari Pasangan Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim dan Aminah
binti Wahab bin Abdul Manaf, tanggal 17
Rabiul Awwal tahun 570 M. Hati Piso Jalak semakin malu bila ia kelak tidak bisa
kembali kepada jati dirinya, dimana hanya Syafa’at Rosulullah Muhammad SAW lah
yang ia dambakan kelak di yaumil akhir sebagai bentuk penambalan-penambalan
amal ibadah yang kurang benar saat ia lakukan. Kembali Piso Jalak menjawab Assyahadu anna Muhammadarrasuulullah 2
X,
HAYYA’ALASSHOLAAH 2 X, Marilah kita tunaikan sholat, sebuah seruan untuk
manusia agar melaksanakan kewajibannya, dimana anak manusia sudah diberi
kewajiban dan haq, karena bila seorang muslim tidak melakukan sholat sungguh ia
sedang merobohkan agamanya sendiri, disini Piso Jalak menjawabnya dengan ucapan
Laa khaulaa walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim 2 X,
HAYYA’ALAL FALAKH 2X, artinya Marilah kita
menuju kemenangan, sungguh ironis rasanya bila anak manusia tidak menginginkan
kemenangan, baik kemenangan di bidang ekonomi, kemenangan di bidang haq,
ataupun kemenangan-kemenangan lainnya, lalu hanya orang-orang yang merugi yang
tidak menginginkan menuju kepada sebuah kemenangan, kembali Piso Jalak
menjawabnya dengan ucapan Laa khaulaa
walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim 2 X (Tiada daya upaya dan
kekuatan ku hanyalah datangnya dari Allah). Karena saat itu adzan subuh maka
muadzin menambahkan Assholaatu khoirun minannaum 2 x (Sholat itu lebih baik
daripada tidur), kembali terlihat nun mati atau tanwin bertemu dengan mim, maka
dibaca mengikuti mim, ini bernama Idgham Maal Ghunnah, Saat Allah menawarkah pahala yang akan diberikan kepada hamba Nya
bilasaja mereka mau sholat dan meninggalkan tidur mereka, Piso Jalakpun
menjawab Syadaqta wa bararta wa ana
dzalika minassyahidiin ( benarlah dan mendapatkan kebaikanlah engkau dan
aku yang menyaksikan) 2 X,
ALLAHU AKBAR , Allah Maha Besar, merupakan sebuah
penengasan kembali, bahwa selama kita di dunia ini bukanlah apa-apa bila
dibandingkan dengan Sang Maha Kuasa, kembali Piso Jalak menjawab Allahu Akbar .. Allahu Akbar,
LAA ILAAHA
ILLALLAH, pengakhiran dengan makna Tiada Tuhan selain Allah, dimana manusia
tanpa menyadari sudah bertuhankan Uang, Jabatan, Harkat ataupun yang lainnya,
pengucapan Tuhan memang tidak tampak oleh sareat, karena bibir-bibir manusia
membungkusnya dengan rapi dan sempurna, namun di dalam jiwanya, ia selalu
berdzikir dengan ucapan uang.. uang.. uang… atau pangkat.. pangkat… pangkat,
yah itulah jiwa manusia yang tersembunyi manis di dalam wadah jasad, kelak
semuanya akan nampak di hari Pembalasan, dimana hari itu adalah ditampakkan
semua kebaikan dan keburukan walaupun itu sebesar biji zarah sekalipun. Piso
Jalak menjwab Laa ilaaha illallah.
Lalu Piso Jalak berdoa “ALLAHUMMA
RABBA HAADZIHID DA'WATTI TAAMMAH WASH-SHALAATIL QAA'IMAH. AATI SAYYIDANA
MUHAMMADANIL WASIILATA WAL-FADHIILAH. WAS SYARAFA WAD-DARAJATAL 'AALIYATAR
RAFII'A WAB'ATSHUL MAQAAMAL MAHMUUDAL LADZI WA'ADTAHU INNAKA LAA TUKHLIFUL
MII'AAD (Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang
sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan…
Berikanlah junjungan kami, Nabi Muhammad SAW wasilah,
keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi… Dan angkatlah ia ketempat
(kedudukan) yang terpuji, yang telah Engkau janjikan kepadanya. Sesungguhnya
Engkau tak akan menyalahi janji)”. Lalu Piso Jalak kebelakang rumah
kontrakannya untuk mengambil air wudhu dan melanjutkannya dengan sholat subuh 2
rekaat.
Selesai sholat
seperti kebiasaan Piso Jalak selalu mengirimkan surat Al Fatihah kepada
Rasulullah, orang tuanya, Gurunya dan seluruh muslimin muslimat walau ia tidak
mengenalinya sekalipun, lalu kepada dirinya sendiri agar harapannya bisa kenal
siapa dirinya sesungguhnya, "Al-Insaanu
Sirriy,, wa Ana SirruHu (Manusia itu Rahasia-Ku dan Aku menjadi
Rahasianya)”. Lalu Piso Jalak memejamkan matanya, ia mengatur pernafasannya
agar setenang mungkin, ia melakukan hal ini setiap selesai sholat sebagai usaha
mencari ketenangan jiwa, tarikan nafasnya selalu berbunyi Laailaaha illallah
dan hembusannya Muhammadurrasuulullah, Piso Jalak melakukannya sampai matahari
terbit. Dalam alam meditasinya ia melihat gambaran tentang tugas yang akan ia
laksanakan, ia melihat Tamzil (gambaran) berupa matahari, bulan dan bumi.
Minggu 21 Agustus 2016

Fajar menyingsing
Piso Jalak menarik nafas dalam-dalam, Tamzil kali ini benar-benar aneh baginya.
“Apa maksud Matahari... Bulan dan Bumi?” Piso Jalak berfikir keras atas petunjuk
yang ia dapatkan dari meditasinya. “Biarlah
aku tetap menjadi Sifatullah (Ciptaan Allah) yang senantiasa menjalani
kehidupan sesuai dengan Af’alullah (cerita yang di kehendaki Allah) sehingga
aku bisa menjalani Sirrullah (Rahasia yang disembunyikan Allah) dengan
sebaik-baiknya, karena aku yaqin Dazatullah (Allah Swt) tidak akan sia-sia
menciptakan segala macam bentuk dan rupa serta watak di dunia ini”
Piso Jalak
melanjutkan mandi kemudian memakai pakaian sederhana namun rapi, pagi itu
rencana Piso Jalak adalah Penjejakan dan Pengamatan target yang akan ia habisi.
Sekitar pikul 08.00 Piso Jalak mulai keluar dari rumah kontrakannya, ia menaiki
mini bus menuju Polda di wilayah tersebut, di dalam mobil tersebut ada seorang
ibu yang sedang menangis dan menceritakan penderitaannya kepada orang yang
berada di sebelahnya, seorang memakai topi putih melingkar menandakan ia
seorang yang memiliki pengetahuan agama kususnya agama Islam.
Ibu itu sembari
sesenggukan berkata dalam suara lirih yang terbata-bata, “Pak Ustadz, saya sudah ikhlas apa yang telah dilakukan oleh suami
saya, tidak diberi kasih sayang, cinta, pengertian dan nafkah, saya ikhlas
pak”. Orang yang disebut sebagai ustadz itupun berkata “Syukurlah, serahkan semuanya kepada Allah, Innallaha ma’asshobiriin,
sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar, semoga keikhlasan ibu
menjadikan Allah semakin mendengar semua doa-doa ibu”. Wanita itu
tersenyum, ia seperti mendapat sebuah guryuran air hujan yang menyejukan jiwa,
dengan mata berkaca-kaca wanita itu bertanya “Apakah benar saya sudah ikhlas dengan sebenar-benarnya pak ustadz?”,
dengan wajah tersenyum lelaki di sampingnya berkata “In Syaa Allah, karena ibu sudah sepenuhnya menyerahkan jalan hidup ibu
kepada Allah”. Sang wanita memandang serius kepada lelaki di sampingnya.
“Bagaimana merasakan kenikmatan ikhlas di
dalam jiwa pak ustadz?”, Sang lelaki yang disebut sebagai ustadz itupun
terdiam, Markas Polda tepat dilewati oleh mini bus tersebut, Piso Jalak memberi
isyarat kepada kondektur untuk menghentikan mini bus, dengan santai Piso Jalak
berjalan keluar dari mini bus, saat melewati kursi dimana wanita dan lelaki
bertopi putih melingkar tersebut Piso Jalak berucap lirih “Saat kata-kata ikhlas masih keluar dari mulut kita, maka ikhlas
tersebut belum mencapai derajat tertinggi… karena orang yang mendapatkan
Anugerah ikhlas, ia tidak akan bisa mengucapkan atau menggambarkan bagaimana
kata ikhlas atau makna ikhlas di dalam hatinya, di bibirnya, bahkan di dalam
fikirannya sekalipun, yang ia tahu, seluruh hidupnya milik Allah SWT, sedikit
saja ia merasa memiliki keikhlasan, saat itu ia membuktikan jiwanya belum
sepenuhnya ikhlas, karena saat manusia mengucapkan kata ikhlas sesungguhnya
nafsunyalah yang sedang berkata.” Sang Lelaki dan wanita tersebut menoleh
kearah Piso Jalak, terlihat wajah ketidaktahuan wanita tersebut dalam memaknai
kata-kata Piso Jalak, namun sang lelaki bertopi putih bulat terlihat sangat
kanget dan terperangah, di dalam matanya terlihat betapa saat itu akal, pikiran
dan hati sedang melaksanakan rapat penting di dalam jiwa.
Piso Jalak berlalu
dari mini bus tersebut, sementara di dalam mini bus tersebut sang ibu dengan
keheranan bertanya kepada sang ustadz “Apa
maksud dari kata-kala lelaki tadi pak?”, dengan bibir bergetar sang ustadz
berkata
“Subhanallah, ada 2 macam jenis
manusia yang memegang makna ikhlas tertinggi di dalam kehidupan yaitu jenis
manusia Mukhlisin dan Mukhlasin.
Mukhlisin yaitu saat seorang hamba melakukan amal perbuatannya melalui segala
bentuk upaya sampai bisa ikhlas benar di bibirnya tidak akan terucap kata
ikhlas, ia menyimpannya di dalam hati dan hanya Allah SWT saja yang berhaq
mengetahuinya, lalu yang kedua jenis
Mukhlasin yaitu seorang hamba yang di dalam melakukan amalnya tidak mencari
ikhlas karena ikhlasnya sudah ditinggalkan jauh-jauh, hal tersebut karena ia ikhlas dari wacana dan kata-kata ikhlas
itu sendiri. Ia bebas dari belenggu psikologis ikhlas, dia tidak mau mengakui
bahwa ia memiliki makna ikhlas, yang terpenting baginya adalah bisa total
karena Allah,ia sudah tidak memikirkan mempunyai amal kebajikan walaupun ia
melakukannya, semua yang ada dalam fikirannya adalah jiwa raga adalah milik
sang Kholiq, lalu bagaimana mungkin jiwa yang di miliki oleh Sang Pencipta
mengakui kepemilikan amal kebajikan tersebut, Allahu Akbar” . Mata sang
ustadz tiba-tiba memerah dan mengeluarkan air mata “Maka di dalam SURAT AL IKHLAS kita tidak menemui kata ikhlas sama
sekali yang ada adalah pengakuan seutuh-utuhnya tentang ke Esa an Allah yang
menjadi tempat bergantung manusia, lelaki tadi cenderung berkata tentang makna
jenis manusia kedua yaitu Muhlasin” sang wanita yang tambah bingung mencoba
melihat ke luar mini bus dimana terlihat jelas Piso Jalak berjalan dengan
tenang dan diiringi oleh langkah kaki yang mantap menuju suatu tempat.
Kamis 27 Oktober 2016

Di depan penjagaan
Polda, Piso Jalak pun bertanya kepada petugas piket, “Selamat pagi pak, Maaf, saya mau bertemu AKP Satria Samudera” Petugas piket memandang Piso Jalak dengan ramah, terlihat jawaban yang lembut
tetapi tegas “Maaf bapak dari mana dan
ada keperluan apa?” dengan tenang Piso Jalak menjawab “Nama saya Adri pak, saya ada keperluan dengan Bapak AKP Satria
Samudera”. Seorang petugas yang lain
mendekati Piso Jalak seraya berkata “Apa
bapak tidak tahu, 1 minggu yang lalu orang yang bapak cari di mutasi ke daerah
terpencil di pulau seberang”. Piso
Jalak tertunduk, ia kelihatan sekali berfikir keras, ditengadahkannya kembali
wajahnya sambil berkata ”Kalau boleh tahu
ke daerah mana pak?” Mata Piso Jalak sempat melihat raut wajah kedua
petugas itu terlihat sedih, dengan menarik nafas yang dalam salah seorang
petugas berkata “Beliau di pindahkan ke wilayah terpencil menjadi seorang Kapolsek,
kalau tidak salah namanya Kecamatan Suka Damai, hmmmm beliau adalah orang yang
ramah namun tegas, budi pekertinya disini terkenal sebagai suri tauladan, semua
pimpinan ataupun bawahan amat suka kepadanya, namun…..” Sang Petugas menghentikan keterangannya
setelah salah seorang rekannya mencolek dirinya. Lalu ia melanjutkan cerita “Ya sudahlah, hanya itu yang bisa kami
bantu, apakah ada hal lain yang mungkin bisa kami bantu pak?” , Piso Jalak
tersenyum, “Tidak ada pak, terima kasih,
saya permisi”
Piso Jalak membalikkan
tubuhnya setelah membungkuk memberi hormat, selanjutnya ia berjalan tenang
meninggalkan pos penjagaaan, telinganya yang tajam sempat mendengar seorang petugas
yang mencolek rekannya berkata “Jangan
memberikan keterangan terlalu dalam, kan kita belum tahu siapa orang itu” Rekannya menjawab dengan ketus, “Laah memangnya kenapa, pak Satria kan di
mutasi gara-gara menangkap bandar Narkoba, bahkan gembong kejahatan di negara
kita”. Sang rekan kembali menimpal
dengan lebih sengit “Kita ini bawahan,
jangan banyak mengoreksi kebijakan atasan, ilmu kita belum sampai kesana!” Sang rekan semakin ketus menjawab “Bicaramu itu sudah seperti Jenderal aja!”.
Piso Jalak
tersenyum mendengarnya lalu ia memberhentikan sebuah mobil angkot, di dalam
fikirannya berfikir “Satria Samudera,
nampaknya dirimu orang baik-baik, namun apa peduliku, aku adalah seorang
pembunuh, jadi aku hanya melaksanakan tugas dari orang yang membayarku, hmmmm
(Piso Jalak kembali teringat hasil tafakkurnya tadi pagi) Matahari…. Bumi…
bulan… apa maksud makna itu, selama ini aku selalu mendapatkan petunjuk
berhasil atau tidak dalam menjalankan tugas… apa maksud dari bayangan itu..?”
Jumat 28 Oktober 2016
Tiba-tiba
gerahamnya menggeretak, “Aku tidak
peduli, mau orang baik, mau orang jahat bagiku sama saja, toh aku sudah
merasakan betapa seorang petugas bersikap kejam kepada tahanan, itu sudah ku
rasakan bertahun-tahun sewaktu di penjara.” Mata Piso Jalak meredup, ia teringat saat ia
berhasil meloloskan diri dari penjara. Dalam pelariannya, Piso Jalak tidak
memperdulikan kemana arah dan tujuan, yang ada di benaknya hanya bersembunyi
dari kejaran Polisi. Tak terasa sampailah ia di sebuah desa terpencil pinggiran
hutan belantara, ia melewati sungai yang panjang sekali dengan berhiaskan
bebatuan yang besar dan berserakan tidak beraturan, Mata Piso Jalak tertegun
melihat sesosok tubuh manusia di atas sebuah batu besar yang datar, nampak
seorang kakek tua berwajah bersih sedang melakukan gerakan-gerakan yang
sepertinya pernah ia lihat.
Piso
Jalak menghampiri sosok tersebut sembari berharap siapa tahu ada bahan makanan
yang bisa menjadi ganjal untuk hari ini hingga malam nanti, bila orang tersebut
tidak mau memberikan Piso Jalak sudah meniatkan untuk mengambilnya secara
paksa. Saat Piso Jalak sampai di pinggir batu besar tersebut ia melihat kakek
tua menoleh kekanan dan ke kiri sembari berucap “Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh” dua kali. Piso Jalak
yang tak asing mendengar salam tersebut pun menjawab “Wa’alaikumussalaam” , kakek tersebut mengusap wajahnya dengan kedua
tangan miliknya, ia menoleh sambil
tersenyum. “Silahkan mendekat anak muda”
, Piso Jalak pun naik ke atas batu yang ternyata cukup nyaman ia duduki,
selanjutnya ia bersila di depan orang tua itu. Nampak sekali wajah tenang,
damai dan bersinar, walau wajah itu sudah memasuki usia renta, pancaran matanya
nampak bagaikan lentera di kegelapan, sungguh Piso Jalak tertegun melihat orang
tua di depannya. Piso Jalak yang sudah menguasai ilmu penipuan yang ia dapatkan
dalam penjarapun mulai berkata, “Perkenalkan
Nama saya Adri kek, saya kesini mendapatkan petunjuk bertemu dengan orang baik,
mungkin yang di maksud dalam petunjuk saya adalah kakek”.
Sang
orang tuapun tersenyum, lalu diambilnya kendi di sampingnya kemudian di berikan
kepada Piso Jalak, “Minumlah anak muda,
kakek lihat dirimu sangat letih dan lelah”. Piso Jalak terkejut melihat
keramahan orang tua tersebut, lalu iapun mengambil kendi kecil dari tangan
kakek tersebut dan menengguknya tanpa berdoa sebelumnya, dalam hati Piso Jalak
ia berniat untuk menghabiskan air di dalam kendi tersebut, Piso Jalak merasakan
betapa air dalam kendi yang ia teguk sangat dingin dan luar biasa nikmatnya,
tanpa ia sadari bayak sekali air yang sebenarnya ia minum, namun isi kendi
seakan-akan tidak berkurang sedikitpun, lagi-lagi Piso Jalak sempat melirik
orang tua tersebut tersenyum, lalu Piso Jalak menghentikan meminum air dalam
kendi tersebut dan memberikannya kepada kakek tua di hadapannya, Kakek itupun
berkata “Maaf siapa nama anak tadi ? dan
anak orang mana? Kakek sepertinya belum pernah melihat anak?”. Piso Jalak
pun menjawab “Saya Adri Kek, seperti yang
saya katakan kek, saya datang kesini atas petunjuk”.
Laki-laki
tua itu memandangi wajah Piso Jalak dengan tatapan wajah yang menggambarkan
betapa luasnya kasih sayang yang dimiliki oleh kakek itu, “Petunjuk dari siapa nak? Dan kenapa kalau anak memenuhi petunjuk
tersebut harus memakai nama samaran?”. Mata Piso Jalak sempat sedikit membesar
menahan kaget, ia tidak menyangka akan ada pertanyaan seperti itu, tersirat
seolah-olah sang kakek tahu sedang ia bohongi, dengan terbata-bata Piso
Jalakpun menjawab “Da… da… dari mimpi
saya kek, yaah dari mimpi saya, dan nama sa..saya Adri kek, yah Adri!!”. Orang
tua itupun menjawab “Yaa sudahlah, nama
saya ALIM, orang sekitar sini memanggil saya dengan sebutan mbah Alim” . Piso
Jalak mangguk-mangguk walaupun ia belum mengerti kenapa ia harus melakukan itu.
Tak Lama Piso Jalakpun berkata “Maaf kek,
apakah kakek mempunyai perbekalan makanan, saya lapar sekali.” Tak henti-hentinya Piso Jalak terkagum-kagum
saat melihat kakek tersebut tersenyum setiap kali hendak menjawab setiap
pertanyaannya, Orang tua renta itu membuka bungkusan kain yang ternyata isinya
5 buah pisang gadis yang besarnya hanya seibu jari orang dewasa, Piso Jalakpun
berguman dalam hati “Hmmm , bagaimana aku
akan kenyang bila makan Pisang sekecil itu”.
Sang
kakekpun berkata “Aku akan memberikannya
dengan 1 syarat nak”, “Apakah itu kek??” jawab Piso Jalak. Kakek itu
mengupas 1 buah pisang kemudian diberikan kepada Piso Jalak, “Sebelum makan pisang ini maukah engkau
membaca Bismillahirrahmaanirrahiim??”
Piso Jalak pun menerima pisang tersebut sambil mengangguk tanda ia setuju,
selanjutnya Piso Jalak membaca BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM, kemudian memakan buah
pisang tersebut. Dahi Piso Jalak tiba-tiba mengkerut yang menandakan betapa ia
sedang berfikir keras, betapa tidak, di dalam penjara makan 3 piringpun bisa ia
habiskan, namun 1 buah pisang ini sudah membuatnya sangat kenyang. Sambil
melirik kakek tua tersebut Piso Jalak mendengar kakek itu berkata “Ucapkanlah Alhamdulillah, anak muda!” Piso
Jalakpun tanpa sadar mengikuti kalimat hamdalah tersebut.
Sabtu 05 November 2016
“Maaf kek, tadi saya melihat
kakek melakukan sebuah kegiatan, saya tahu itu adalah gerakan Sholat, apakah
benar kek?” Piso Jalak terlihat hati-hati dalam bertanya
karena di dalam hatinya ia takut keceplosan kalau di dalam Penjara pun banyak
penghuninya yang melaksanakan ibadah tersebut.
Lagi-lagi
senyum manis kembali menghiasi bibir sang kakek, “Anak muda, benar adanyanya apa yang anak katakan, tadi kakek baru
melaksanakan ibadah sholat, sholat dari makna syariat sebagai kewajiban seorang
hamba dan setelah sholat kita harus mendirikan sholat dalam arti melaksanakan
nilai-nilai yang ada pada ibadah sholat tersebut”. Piso Jalak terlihat
sedikit tidak mengerti, kenapa dibedakan melaksanakan dan mendirikan sholat,
mengapa berbeda. Isi otak Piso Jalak yang terpenting adalah mencari tempat yang
ia jadikan persembunyian, jadi ia harus banyak menyimpan kesalahan baik dalam
berbicara ataupunberbuat, itu demi keselamatan dirinya sendiri.
“Sudahlah anak muda, bila
dirimu ingin mengetahui makna sholat nak Adri bisa tinggal di gubuk saya, namun
ada syarat yang harus anak lakukan!” , Sang kakek menatap wajah Piso Jalak dengan tajam. Piso Jalak
terperanjat melihat tatapan tajam orang tua di depannya, tajam, luas dan
menyimpan banyak pemikiran yang tak sanggup ia gambarkan, “Aa..a..apa itu kek?” . Sang Kakek memegang pundak Piso Jalak
sembari sentengan berbisik “Jujurlah!” ,
Piso Jalak semakin gugup “Apa maksud
kakek?” , Senyum kali ini seperti memiliki daya hipnotis yang merasuk ke
dalam jiwa Piso Jalak “Jujurlah!”. Piso
Jalak tertunduk, lalu dengan lirih ia berkata “Baiklah kek, nama saya Piso Jalak, saya baru melarikan diri dari
penjara, saya adalah terpidana mati, namun saya tidak menginginkan mati sebagai
seorang tahanan, saya ingin dijemput oleh kematian namun dalam keadaan
terhormat”.
Sang
kakek tersenyum, “Anak muda, setiap yang
bernama malam aka nada masa puncaknya, pasti akan bertemu pagi bila saja kita
mau menjalaninya dan bersabar serta berusaha mencari pagi tersebut, tinggalah
bersama kakek tiga hari, lalu kakek akan mengantarkan dirimu ke sebuat tempat
dimana pagi akan dirimu temui.” . Mata Piso Jalak berkaca-kaca, letih dalam
pelarian yang tidak memiliki arah dan tujuan, kini terasa teduh saat ada
seseorang yang tetap menerimanya walau ia adalah seorang pelarian.
Lamunan
Piso Jalak terhenti saat kernet angkot memberitahukan penumpang bahwa tujuan
pasar sudah sampai, sembari meminta ongkos penumpang sang kernet mulai
menghimbau apakah ada barang yang tertinggal. Setelah membayar Piso Jalak turun
dari angkot dan berjalan menuju warung kopi, ia memesan segelas kopi panas,
yaah dengan kopi panas itu tentunya segala pikiran akan segera tenang. Dengan
duduk santai di pojokan warung kopi Piso Jalak teringat kembali bagaimana tiga
hari ia berada di rumah sang kakek.
Hari
menjelang magrib Piso Jalak dan sang kakek tiba di sebuah rumah yang kesemuanya
dari bahan alam, kayu dan bambu sebagai bahan utama ornament rumah sederahana
itu, halaman kanan dan kiri dipenuhi tanaman sayur-sayuran, belakang rumah
terdapat kolam ikan dan di atas kolam tersebut terdapat surau atau mushola yang
terbuat dari bambu juga. “Mandilah Piso
Jalak, dang anti bajumu, kakek masih memiliki persediaan baju yang In Syaa
Allah sesuai dengan bentuk tubuhmu”. Piso Jalak menuruti perintah sang
kakek, Magrib itu Piso Jalak merasakan betapa nikmatnya sholat magrib dengan
mengimam pada seorang kakek yang ramah, Sang kakek terlihat lebih mengutamakan
tamu daripada amalan maqomi, karena terlihat setelah sholat Magrib sang kakek
tidak melanjutkan dzikir yang lama, ia langsung mempersiapkan makan malam, itu
dilakukan sendiri, Piso Jalak ikut membantunya sembari bertanya “Kakek tinggal sendiri?” , Sang kakek
hanya menjawab dengan tersenyum. Setelah makan malam mereka berdua terlihat
ngopi di bangku terbuat dari bambu di teras depan rumah sambil menunggu waktu
sholat isya. Saat itulah sang kakek berkata “Nak
Piso, nama kakek Syajaratul Yaqin, tapi nama itu terlihat terlalu tinggi
hehhehe, karena dirimu sudah jujur maka kakekpun harus jujur”.
Sambil memandang segelas kopi yang panas sang kakek berkata “Kopi aslinya pahit nak Piso, ini bagaikan gambaran kehidupan kita yang selalu bertemu dengan kesulitan, masalah dan yang lainnya, maka dengan air panas yang maknanya adalah kerja keras dan ikhtiar dan kita beri gula yang maknanya adalah rasa syukur maka kita bisa menikmatinya, kalau kakek gambarkan dengan bahasa jawa KOPI itu tegese saking kata KOpyor PIkirane… maka rosone pahit, namun pahitnya kopi masih bisa dibikin LEGI … legi itu Legowo ning ati… jadi walau kehidupan yang sesulit apapun bila hati kita selalu menerimanya itulah mengapa harus diikhtiarkan dengan memberinya GULO yang bermakna Gulangane Roso …. maksudnya adalah kita bisa mengendalikan rasa itu, rasa tidak puas, rasa kecewa dan lainnya… mengapa demikian karena gulo kui asale soko TEBU … yang artinya anTEB ning qolbU … pengendalian saja akan rapuh bila tidak diberi pondasi kemantebpan lan keyakinan, nah sudah itu kita wadahi nang CANGKIR dengan makna NyanCANGne piKIR bila sudah manteb di dalam hati maka kita akan bisa mengarahkan alam fikiran kita… maka disiram WEDAN atau WEjangane sing marahi paDANG … maksudnya adalah nasehat-nasehat untuk kebaikan… dalam Surat Al Asr Demi Masa kita akan merugi bila salah satunya tidak mendapatkan nasehat tentang kebaikan … lalu di UDHEG yang maknanya UsaHane ojo nganti mandEG … ya kita harus memiliki sifat tawakal dalam menjalani kehidupan yang kita jalani … nah ngudhegnya itu usahakan pakai SENDOK yang maknanya SENdeko marang sing duwe ponDOK … nah pondok ini maksudnya dunia … jadi kita harus pasrah kepada Sang Penguasa Jagad… lalu tunggu rodo ADEM yang maknanya Ati Digowo lerEM yaitu hati kita kita bawa ke dalam damai … nah baru kita bisa SERUPUT atau Sedoyo Rubedo bakal luput maknanya segala sesuatu masalah, perbedaan atau yang lainnya akan segera hilang”.
Piso Jalak tersenyum memandang kopi di hadapannya, namun matanya terlihat berkaca-kaca, di warung kopi ini Piso Jalak kembali merasakan kerinduan kepada Gurunya Syajaratul Yaqin, seorang tua yang mengajarkannya makna-makna kehidupan.
Minggu 06 November 2016

Saat asyik dalam kenangan Piso Jalak dikagetkan dengan sebuah sapaan lembut “Mas Adri, kok ada disini?’ terlihat seorang wanita berjilbab tersenyum manis. Piso Jalak sempat mengenyitkan dahinya seakan berfikir siapa wanita tersebut, mata tajam Piso Jalak tetap bekerja sesuai dengan kebiasaan, namun sang wanita bukannya takut, ia justru semakin mendekat, “Saya Ria mas, masa panjenengan lupa?” kali ini mata Piso Jalak melotot kaget, kemudian mata tersebut menjadi lembut saat memandang, Piso Jalak sampai Pangling kepada wanita tersebut, yaah wanita tersebut Piso Jalak kenal dari sebuah Café di Kota dimana Piso Jalak sering menghabiskan waktu malamnya dengan melihat gemerlap syurga dunia yang semu. Piso Jalak mulai tersenyum “Mbak Ria mau kemana dan dari mana?” . Hati Ria amat tersentak melihat keramahan Piso Jalak, ia tahu betapa orang yang sebenarnya ia kenal tersebut adalah sosok monster yang tak mengenal belas kasihan kepada musuh-musuhnya, namun senyum itu justru bagaikan ribuan tetes embut yang bisa membasuh wajah yang berdebu. Dengan rileks Ria menjawab “Rumah saya tidakjauh dari sini mas, oh iya, ini kebetulan warung saya mas, saya sudah berhenti satu minggu ini dari pekerjaan yang lama”. Tanpa sengaja di dalam hati Piso Jalak berucap Alhamdulillah, lalu Piso Jalak menggeser tempatnya duduk terlihat Piso Jalak sedang member ruang kepada Ria untuk duduk.
“Oh iya, syukurlah bila ini warung mbak Ria, sepertinya saya duduk disini dari tadi banyak sekali yang sudah singgah disini, tuan rumah disinipun ramah sekali”. Piso Jalak menjawab dengan nada yang sengaja ia sembunyikan bahwa sebenarnya ia bersyukur atas berubahnya sikap dan pekerjaan Ria, namun Piso Jalak mengalihkannya kepada keadaan warung. Riapun tersenyum “Alhamdulillah mas, itu yang jaga adik saya mas, cantik nggak?”, Piso Jalak tidak menyangka aka nada pertanyaan yang tidak ia duga, wajahnya memrah menahan malu, sambil membuang muka Piso Jalak tanpa sengaja menghirup kopi yang masih panas sehingga terlihat sekali bahwa Piso Jalak benar-benar gugup. Ria semakin menahan senyum, sungguh ia tidak menyangka bisa mengajak Piso Jalak bercanda. “Sudilah kiranya mas mau mampir ke gubuk saya di seberang jalan sana mas, yang itu tuh!!”, Ria menunjuk rumah diseberang jalan berjarak sekitar 70 meter. Piso Jalak berusaha menahan gugupnya, namun lagi-lagi ia gagal “I.. iya.. iya..mbak”. Riapun memandang adiknya di ruangan kasir “Dik, mbak pulang dulu ya, nggak jadi tungguin warung, mbak ada tamu teman lama nih!” ucap Ria sambil ternyum manis, sang adik justru membalasnya dengan senyuman yang lebih manis “Ehem-ehemmmm yeni ntar lagi punya abang nih hihihihi” . Piso Jalak yang saat itu sedang meminum kopi tiba-tiba terbatuk, beberapa tetes kopi membasahi dagu dan dadanya, melihat itu sang adik yang bernama Yeni justu berlari mendekat sambil mengantar kertas tissue “Maaf bang, adik keceplosan”. Piso Jalak berdiri namun ia tersunyum “Sudah, sudah dik, abang tadi sepertinya tidak sengaja meminum kopi yang masih kasar, jadi terbatuk”. , dengan santai Piso Jalak mengambil tissue tersebut lalu mengusap dagunya yang basah.
Riapun merengut sambil mencubit adiknya “iiihhh jangan nakal ya, cepet minta maaf sama mas Adri!!” . Yeni sambil meringis kesakitan meminta maaf kepada Piso Jlaak “Maaf bang ya, Yeni tadi nggak sengaja, sueer.” Terlihat tangan kanannya diangkat sembari memperlihatkan dua jarinya tengah dan telunjuk. Piso Jalak kembali tersenyum sungguh ia merasakan ada kebahagiaan di kakak dan adik tersebut. “Sudahlah dik Yeni, tidak apa-apa kok, oh iya berapa harga kopinya?”. Riapun menatap Piso Jalak sesaat lalu dengan tersenyum ia mengajak Piso Jalak ke rumahnya, “Sudah mas Adri, Ria hari ini yang traktir hehhee, ayo buruan kita ke rumah”. Piso Jalak mengucapkan terima kasih lalu mengikuti Ria, hatinya teringat pesan sang Guru, bahwa membahagiakan orang lain itu justru akan menjadikan jiwa kita bahagia pula. Hanya butuh waktu 5 menit mereka berdua sampai ke rumah sederhana namun sangat terlihat nyaman, Piso Jalak dipersilahkan duduk di ruang tamu,lalu sang tuan rumah masuk ke dapur, ingin rasanya Piso Jalak melarang untuk repot-repot, namun Piso Jalak mengurungkannya, saat tuan rumah sedang di ruangan belakang Piso Jalak terlihat memperhatikan foto-foto yang ada di ruangan tersebut.
Rabu 22 Maret 2017
Mata Piso Jalak amat jeli memperhatikan wajah Ria diantara foto-foto sekelompok wanita berbusana muslimah, ada yang di tempat pengajian ataupun di masjid atau mushola, luar biasa, Ria yang ia kenal sebagai wanita terseksi di Café tempatnya menongkrong kini menjadi bidadari yang cantik jelita. Siapapun manusia yang sering datang ke Café tempat Ria bekerja maka pasti akan mengenal siapa Ria, gadis yang ramah dan cantik, para pelangganpun amat sopan bila ingin mengajaknya kencan, yaah rata-rata pelanggan akan mengeluarkan kocek yang tidak sedikit walau sebenarnya Ria adalah Pramuria tanpa menentukan tarif, akan tetapi kesopanan yang ia tujukan justru membuatnya menjadi orang yang memiliki nilai tinggi.
Sampai suatu malam menjelang hari Raya Idul Fitri, Café ditutup sementara, saat itu Ria ingin pulang namun tidak ada teman sehingga saat itu Ria sempat digoda oleh tiga orang pelanggan baru yang mabuk berat dan memaksa pemilik Café untuk menambah jam buka lalu memaksa Ria untuk menemani dan melayani mereka bertiga. Sebenarnya saat itu Piso Jalak sedang tidak ingin ikut campur, walau terlihat Ria diseret bahkan dijambak oleh salah seorang diantara tiga orang yang sedang mabuk berat tersebut.Terdengar rintihan Ria yang memohon belas kasihan, namun ketiga
manusia yang sudah dipenuhi oleh nafsu binatang justru menjadikan irama
tangisan Ria sebagai bahan gelak tawa mereka. Piso Jalak yang sudah berada di
pintu keluar sempat melirik pemilik Café yang wajahnya terlihat sangat cemas
melihat perlakuan tiga orang tersebut terhadap Ria.
Sang Pemilik Café sebenarnya
ingin meminta bantuan Piso Jalak namun wajahnya terlihat sangat ragu-ragu, Piso
Jalak tanpa menghiraukan itu semua akhirnya mendekati pintu keluar sampai
akhirnya terdengar rintihan Ria, “Demi
Tuhan yang menciptakan seorang ibu, apakah kalian semua tidak kasihan melihat
ibu kalian melahirkan anak yang memiliki sifat bagai Iblis!!”. Ketiga orang yang terjerat syurga Alkohol
bukannya marah namun semakin tertawa lebar-lebar, salah seorang dari mereka
bahkan menjambak rambut Ria seraya berkata “Kami
semua memang lahir dari rahim seorang ibu, namun ibu kami bukan pelacur seperti
dirimu, kalaupun ibu kami menjadi pelacur pasti sudah kami bakar hidup-hidup,
karena itu pantas dilakukan seorang anak terhadap seorang ibu yang pekerjaannya
adalah pelacur!!. Darah Piso Jalak
seketika mendidih mendengar perkataan lelaki tersebut, ia teringat bagaimana
ibunya terbakar hidup-hidup akibat kenakalannya, Tangan kanan Piso Jalak secara
reflek menyambar gelas kecil di meja kasir lalu secepat kilat ia kibaskan kearah
lelaki yang menjambak Ria, gelas kecil berkecepatan laksana peluru itu mendarat
renyah di atas telinga kiri lelaki yang sedang menjambak Ria. TARRR Gelas kecil
itupun pecah lalu terlihat semburan darah dari atas telinga kiri orang yang
menjadi sasaran gelas.
BERSAMBUNG (TO BE CONTINU)